Kecerdikan Potter Bawa The Blues Puncaki Klasemen Grup E di UCL

Jorginho mengeksekusi penalti kontra AC Milan. (chelseafc.com)
Jorginho mengeksekusi penalti kontra AC Milan. (chelseafc.com)

Chelsea meraih back to back wins atas AC Milan di San Siro dalam laga pekan ke-4 Liga Champions. Ini menjadi kemenangan keempat secara beruntun bagi The Blues di semua ajang. Taktik adaptif Potter berhasil meredam Milan untuk kedua kalinya musim ini sekaligus membawa Chelsea ke puncak klasemen sementara dengan tujuh poin. Debut manis untuk Potter yang pertama kali menginjakkan kaki di Liga Champions.

Potter tetap menerapkan formasi 3-4-2-1 seperti leg pertama. Sedangkan Stefano Pioli mengubah shape Milan dengan 4-3-3 untuk bermain lebih agresif di kandang. Kedua tim datang dengan kepercayaan diri tinggi dengan Chelsea yang mencatatkan kemenangan telak atas Wolves dan Milan sukses mempecundangi Juventus di San Siro.

Namun, perbedaan kekuatan kedua tim tak berubah dari pertemuan sebelumnya. Petaka bermula sejak Fikayo Tomori mendapat kartu merah langsung dari wasit di menit 18 setelah mengganggu Mason Mount yang berpeluang besar mencetak gol. Kekurangan jumlah pemain dieksploitasi oleh tim tamu sehingga Milan tak mampu berbuat banyak.

Terlepas dari kepemimpinan kontroversial wasit di laga ini, “taktik bunglon” Potter sukses mematikan serangan Milan dan membuat Chelsea tampil dominan. Chelsea menguasai permainan dengan 69 persen penguasaan bola dan total 15 tembakan ke gawang Milan. Dilansir markstats, xG Chelsea mencapai 2.36 dan berbuah dua gol di laga ini, berbanding Milan yang hanya mencatatkan xG sebesar 0.69.

Milan lebih waspada terhadap sisi sayap yang selalu dieksploitasi oleh Chelsea pada pertemuan sebelumnya. Milan menerapkan zona marking, namun Potter dengan cerdik mengalihkan fokus serangan ke area tengah. Pressing yang diterapkan Milan juga berjalan kurang efektif. Chelsea beberapa kali dengan mudah lepas dari tekanan dengan switching play.

Peningkatan fokus ke area tengah ini terlihat dari data attacking sides dari Whoscored di mana serangan lewat area tengah mengalami peningkatan sebesar 8% dari laga sebelumnya. Sisi sayap tetap dimanfaatkan Potter guna menjaga kelebaran, namun memiliki tujuan berbeda. Di laga ini, kelebaran digunakan untuk merenggangkan jarak antar pemain lawan di area tengah sehingga baik Sterling maupun Mason Mount dapat mengeksploitasi ruang antar pemain itu dengan berlari dari lini kedua. Sebelumnya serangan dan end pass Chelsea banyak dilakukan dari koridor sayap dengan crossing.

Attacking sides laga AC Milan 0 vs 2 Chelsea. (whoscored.com)
Attacking sides laga AC Milan 0 vs 2 Chelsea. (whoscored.com)

Mount menjadi pemain penting bagi Potter yang juga diakuinya setelah laga karena kemampuannya mencari ruang. Mount juga menjadi satu-satunya pemain outfield yang selalu bermain sebagai starter sejak Potter menukangi Chelsea. Terlihat dari proses sebelum gol penalti Chelsea, Mount berlari dari sudut buta Tomori yang terlalu melebar dan naik ke atas hingga eks Chelsea tersebut diganjar kartu merah akibat mengganggu Mount di dalam kotak penalti. Jorginho kemudian mengeksekusi bola penalti dan berbuah gol perdana untuk The Blues.

Gol kedua kembali tercipta dari ruang kosong di antara bek tengah Milan, terlebih setelah Tomori keluar dari lapangan. Mount kembali berperan dengan assist-nya setelah meneruskan umpan dari Kovacic. Link up dengan shape segitiga yang diinisiasi oleh Aubameyang sukses dikonversi menjadi gol olehnya setelah mendapat through pass dari Mount.

Eksploitasi sektor tengah juga nyaris berbuah gol ketiga di awal babak kedua. Conor Gallagher melakukan penetrasi ke dalam ruang kosong di area kotak penalti lawan. Sayang tembakannya setelah melewati Tatarusanu masih menyamping.

Sementara kubu lawan tak mampu banyak bicara dalam aspek serangan. Milan lebih banyak mengandalkan set piece dan tembakan dari luar kotak penalti untuk membongkar pertahanan Chelsea. Build up serangan Milan juga mampu dipatahkan dengan mudah oleh mid block Chelsea yang bekerja sangat baik.

Dari data passing network, konektivitas pemain Milan banyak terputus di lini tengah dan mengandalkan direct ball ke Rafael Leao dengan kecepatannya di sayap kiri Milan. Peluang terbaik Milan tercipta saat laga menginjak menit 60. Leao mengirim crossing setelah melewati James, namun bola tembakan Sergino Dest melambung.

Passing network AC Milan vs Chelsea. (markstats)
Passing network AC Milan vs Chelsea. (@markstatsbot)

Laga berakhir dengan asa Milan yang meredup untuk bersaing di kompetisi Eropa. Milan terlempar ke urutan ke-3 klasemen sementara. Selain performa kedua tim, kepemimpinan wasit juga menjadi sorotan di laga ini. 9 kartu kuning dan 1 kartu merah keluar dari saku Daniel Siebert sebagai pengadil lapangan. Chelsea sekali lagi menunjukkan performa dominan dengan pola permainan yang sangat rapi dari sang penyihir, Graham Potter.

Komentar
BACA JUGA:  Analisis Final Liga Champions 2015/2016: Real Madrid vs Atletico Madrid