Kepak Sayap Lazio

Mengambil tempat Stadion King Saud di kota Riyadh (22/12), Lazio berjumpa dengan Juventus pada ajang Piala Super Italia 2019. Dengan kualitas mumpuni plus banyaknya bintang yang bercokol di tubuh Juventus, bikin Lazio tidak diunggulkan.

Akan tetapi, prediksi dan segala hitungan matematis tak berlaku di atas rumput hijau. Untuk kedua kalinya dalam rentang dua pekan, I Biancoceleste sukses membungkam I Bianconeri via kedudukan akhir identik 3-1.

Tangan dingin Simone Inzaghi terbukti bertuah. Bertugas sejak 2016 silam, adik kandung Filippo Inzaghi ini sukses membangkitkan gairah tim biru langit dari ibu kota untuk bersaing di berbagai kompetisi. Sampai saat ini, ada tiga gelar yang telah ia bungkus ke Formello, markas latihan Lazio. Masing-masing berupa sebiji Piala Italia dan dua buah Piala Super Italia.

Di bawah polesan Inzaghi, penampilan Ciro Immobile dan kawan-kawan memang cukup elok. Khusus pada musim ini, Lazio bahkan awet di papan atas klasemen, tepatnya di peringkat tiga klasemen sementara. Dari 16 giornata yang sudah dijalani, mereka mengoleksi 36 angka, hasil dari 11 kemenangan, 3 kali seri dan 2 kali dilindas lawan. Catatan itu sendiri terbilang cukup impresif.

Semenjak merebut Scudetto keduanya pada musim 1999/2000 lalu, Lazio mengalami dekadensi. Alih-alih jadi pesaing juara saban musim, mereka justru lebih lekat sebagai tim kuda hitam dan penghuni papan tengah. Padahal I Biancoceleste adalah bagian dari Il Sette Magnifico alias tujuh tim hebat di Serie A era 1990-an silam.

Tujuh klub hebat ini pula yang bikin pamor Serie A melonjak drastis pada era tersebut. Bukan sekadar dijubeli pemain bintang, prestasi tim-tim Serie A di kancah Eropa pun begitu manis.

Di Liga Champions, AC Milan dan Juventus keluar sebagai kampiun pada musim 1989/1990, 1993/1994 dan 1995/1996. Sementara di ajang Piala UEFA (kini Liga Europa), ada Juventus, Internazionale Milano, dan Parma yang rajin memeluk titel, masing-masing pada musim 1989/1990, 1990/1991, 1992/1993, 1993/1994, 1994/1995, 1997/1998 plus 1998/1999. Bergeser ke Piala Winners, muncul Sampdoria, Parma serta Lazio yang membawa pulang trofi di musim 1989/1990, 1992/1993 dan 1998/1999.

BACA JUGA:  Terbenam dan Tersingkir di Milan

Catatan di atas belum termasuk sejumlah kesebelasan Italia yang berhasil menjejak final di kompetisi-kompetisi itu, tapi gagal membawa pulang trofi ke Negeri Pizza.

Masalah finansial memang jadi salah satu faktor kemerosotan performa Lazio. Jika dahulu mereka punya seabrek pemain bintang dengan kualitas wahid macam Fernando Couto, Hernan Crespo, Pavel Nedved, Alessandro Nesta, Diego Simeone hingga Juan Sebastian Veron, keadaan serupa tidak terjadi pada pertengahan 2000-an sampai pertengahan 2010-an.

Pemain yang jadi tulang punggung Lazio ketika itu hanya nama-nama sekelas Valon Behrami, Stefano Mauri, Fernando Muslera, Stefan Radu, dan Tommaso Rocchi. Dipandang dari sisi manapun, perbedaannya memang amat jomplang. Tak heran kalau penampilan Lazio jadi kurang meyakinkan.

Dominasi tak tahu adat Juventus dalam beberapa musim pamungkas bikin Serie A dicap membosankan. Tak ada klub yang sanggup menyaingi mereka secara nyata. Namun peningkatan performa yang dipertontonkan Inter dan Lazio pada musim ini membawa angin segar. Khusus bagi tim yang disebut belakangan, capaian mereka sejauh ini memang layak dihadiahi pujian.

Keberadaan I Biancoceleste di papan atas layak membuat Laziale bermimpi jika tim kesayangan mereka sanggup berebut titel Scudetto. Namun bagi saya pribadi, ada misi lain yang wajib diwujudkan Lazio pada akhir musim ini yaitu lolos ke Liga Champions.

Sudah lebih dari satu dekade mereka tidak merasakan atmosfer kompetisi tertinggi Eropa itu. Terakhir kali Lazio sepanggung dengan tim-tim semisal Barcelona, Bayern M√ľnchen, Liverpool, dan Real Madrid, terjadi pada musim 2007/2008 lalu. Melihat Lazio kembali bertarung di Liga Champions tentu asyik sekali buat Laziale.

Setelah momen itu, Lazio lebih sering ada di posisi nyaris berkiprah lagi di Liga Champions. Musim 2015/2016, mereka selangkah lagi menembus fase grup, tapi akhirnya bertekuk lutut di hadapan Bayer Leverkusen pada babak playoff.

BACA JUGA:  Keseimbangan yang Harus Ditemukan Inzaghi

Paling apes tentulah musim 2017/2018 kemarin. Untuk pertama kalinya dalam beberapa musim terakhir, Italia kembali dapat jatah empat wakil di Liga Champions.

Salah satu rival I Biancoceleste memperebutkan tiket terakhir adalah Inter dan keduanya berjumpa di pekan terakhir Serie A musim tersebut. Bermain di kandang serta beroleh dukungan mayoritas suporternya, Lazio malah gagal lolos ke Liga Champions akibat takluk via skor 2-3. I Nerazzurri pun berhak menggondol tiket terakhir ke Liga Champions.

Duduk di peringkat tiga classifica jelas bikin semringah. Namun pekerjaan rumah Lazio tak berakhir di situ karena musim masih panjang. Artinya, mereka masih harus berjuang semaksimal mungkin guna mengamankan posisi di empat besar kala Serie A musim ini selesai. Terlebih, raihan poin mereka sejauh ini masih berjarak tipis dari Atalanta, Cagliari, dan AS Roma yang menempel di belakang.

Konsistensi penampilan bisa jadi salah satu kunci utama I Biancoceleste untuk menyelesaikan misi lolos ke Liga Champions. Apalagi tim-tim semisal Fiorentina, Milan, dan Napoli sedang berperforma buruk.

Kalau kesempatan ini dapat dimaksimalkan, sudah pasti Stadion Olimpico bakal memanggungkan laga Liga Champions per musim depan. Namun Lazio bakal kembali meratapi nasib andai upaya mereka kandas untuk kesekian kali. Terus kepakkan sayapmu, Lazio!

Komentar
Penulis merupakan alumni Magister PPKn Universitas Negeri Padang dan pencinta Chelsea FC. Bisa dihubungi di instagram @hendra_fm dan twitter di @hendrafm7.