Kiprah Jawa Pos Mengembangkan Sepakbola Lokal

Mencari data tentang sepakbola lokal di Indonesia secara historis bukanlah pekerjaan yang mudah. Mayoritas klub sepakbola di Indonesia masih abai dengan pengarsipan. Demikian pula pengurus federasi sepakbola di tingkat daerah, baik di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten.

Keadaan tersebut mendorong para penggila sepakbola untuk mengarahkan pandangannya kepada koran lokal. Harus diakui bahwa media yang satu ini bisa diandalkan sebagai sumber data.

Berita tentang Persib Bandung bisa diakses di Pikiran Rakyat. Kabar mengenai PSIS Semarang dapat diperoleh dari arsip pemberitaan Suara Merdeka. Informasi tentang PSIM Yogyakarta cukup mudah dilacak dari arsip berita Kedaulatan Rakyat. Pun dengan segala hal yang berkelindan di tubuh Persebaya Surabaya, bisa dijumpai di Jawa Pos.

Keempat koran yang disebut di atas adalah koran-koran besar. Mereka adalah pemimpin pasar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Posisi klub yang berada di ibukota propinsi berbanding lurus dengan segmen geografis pembaca yang mayoritas berasal dari ibukota propinsi sehingga berita yang berasal dari klub ibukota propinsi lebih mendominasi.

Alasan lain, tentu saja, klub-klub yang disebut tadi memiliki prestasi yang mentereng di eranya.

Lebih jauh, kita semua perlu mengingat bahwa jumlah penerbitan koran sampai tahun 1998 secara kuantitas masih terbatas jumlahnya. Hal ini diakibatkan kebijakan pemerintah Orde Baru yang membatasi kebebasan pers.

Pasca-reformasi tahun 1998, pendirian surat kabar menjadi mudah. Perusahaan penerbitan pers tidak perlu mengurus Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), sebagaimana kebijakan yang berlaku di masa Orde Baru. Di berbagai kota/kabupaten, misalnya di luar ibukota propinsi, terbit berbagai koran baru.

Salah satu kelompok usaha penerbitan yang secara intens memanfaatkan peluang pengembangan bisnis media di daerah melalui penerbitan koran lokal adalah Jawa Pos yang kemudian memberi nama Radar bagi anak usahanya tersebut. Meskipun pada kenyataannya, ada beberapa nama yang tidak berlabel Radar.

Perubahan bisnis media yang diakibatkan perubahan sistem politik dan perubahan teknologi melatarbelakangi ekspansi bisnis penerbitan ke daerah. Perubahan sistem politik yang dimaksud adalah perubahan dari Orde Baru yang tertutup, menuju era reformasi yang terbuka dan demokratis. Perubahan teknologi yang terjadi yang dimaksudkan adalah masuknya teknologi sistem cetak jarak jauh yang memudahkan percetakan dan distribusi koran.

Di dalam ekonomi politik bisnis media, Vincent Mosco dalam bukunya yang berjudul The Political Economy of Communication (2009) menyebutkan bahwa ukuran korporat dan konsentrasi merupakan titik awal memahami perubahan dalam bisnis komunikasi.

Hal ini memungkinkan ekspansi para konglomerat tidak hanya mengontrol produksi, distribusi, dan pertukaran, tetapi juga merespons perubahan pasar dan teknologi. Konsentrasi horisontal terjadi saat perusahaan media membeli saham mayoritas media lain atau menanamkan modalnya dalam perusahaan di luar perusahaan media yang dimiliki sebelumnya.

BACA JUGA:  Tren Bisnis Sepakbola Indonesia Berubah, PSSI Tidak

Lintang Citra Christiani menulis risetnya berjudul Spasialisasi Grup Media Jawa Pos di Jurnal Komunikasi Volume 12, Nomor 2 tahun 2015. Dalam penelitiannya, Lintang menyebutkan bahwa Jawa Pos Group mengembangkan kekuatan korporasi medianya dalam beberapa tahap.

Mulai dari kelompok media di Jawa Pos, ekspansi industri bergerak ke Indonesia Timur (Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi sampai Papua). Setelah itu, ekspansi beralih ke Sumatera dan Kalimatan sambil tetap memperluas industri di wilayah utamanya yaitu Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Jawa Timur. GJP melakukan ekspansi dengan mengambil alih koran-koran kecil yang hampir mati, melakukan akuisisi, penggabungan (merger), dan mendirikan sendiri perusahaan media baru.

Ketika GJP melakukan penguatan di Indonesia Timur, Jawa Pos melakukan merger dengan koran Fajar di Sulawesi Selatan. Selain Fajar, Jawa Pos kemudian mengambil alih Manado Pos yang pada saat itu sedang terlilit hutang dan kemudian dilunasinya.

Taufani dalam bukunya yang berjudul Jurus Mabuk Dahlan Iskan (2013) menulis bahwa Jawa Pos melakukan proses yang berbeda di Gorontalo dengan mendirikan industri yang benar-benar baru, yaitu Gorontalo Pos. Setelah Indonesia Timur, Jawa Pos melakukan perluasan institusi ke Indonesia Barat.

Caranya sama, yaitu dengan akuisisi dan merger serta mendirikan beberapa koran dan tabloid baru. Riau Pos yang semula milik Riau Makmur diakuisisi oleh Jawa Pos. Di bawah Jawa Pos Group, Riau Pos pun berkembang dan, bersama Jawa Pos, mendirikan koran Sijori Pos, Batam Ekspress dan Batam Pos, Radar Medan, Dumai Pos dan Padang Ekspress.

Ekspansi di Jakarta dilakukan melalui merger dengan harian Merdeka. Merger menghasilkan keputusan untuk mengganti atau mengambil nama harian Merdeka menjadi Rakyat Merdeka. Ekspansi di wilayah Jakarta menghasilkan koran baru, seperti Radar Tangerang, Radar Cirebon, dan Radar Bogor.

 

Konsolidasi dengan Sepakbola Lokal

Koran-koran lokal ini dengan segera melakukan konsolidasi dengan sepakbola lokal. Konsolidasi dengan sepakbola lokal dilakukan dengan mengadopsi dan mereplikasi keberhasilan Jawa Pos pada pertengahan dekade 1980-an yang sukses menggeser Surabaya Post sebagai pemimpin pasar pers di Jawa Timur dengan pemberitaan yang berlimpah tentang Persebaya Surabaya.

Klub-klub di luar ibukota propinsi yang kurang mendapat ruang dalam rubrikasi pemberitaan pers, tiba-tiba mendapatkan sorotan besar dari pers lokal yang terbit di masing-masing kota/kabupaten.

Pamela J. Shoemaker dan Stephen D. Reese dalam buku mereka yang berjudul Mediating the Message: Theories of Influence on Mass Media Message (1996) menyebutkan ada lima faktor yang memengaruhi isi media, salah satunya adalah faktor ekstra media.

BACA JUGA:  Tarkam: Kultur Sepakbola Indonesia yang Penuh Warna

Keberadaan klub sepakbola lokal, baik yang telah berkembang sebelum tahun 1998 maupun mulai berkembang selepas tahun 1998, kendati sebenarnya banyak yang telah berdiri sebagai klub Perserikatan sebelum tahun 1998, menjadi bahan berita bagi pers lokal untuk menarik audiens pembaca di daerah masing-masing.

Kelompok Jawa Pos Group secara rancak mereplikasi keberhasilannya menaikan oplah melalui berita Persebaya di tahun 1980-an ke berbagai daerah yang menjadi kepanjangan gurita bisnis korannya.

Di Malang, melalui Radar Malang dan Malang Post, Persema Malang dan Arema Malang mendapat porsi pemberitaan yang berlimpah. Tidak lagi hanya ditempatkan di halaman dalam, berita tentang kedua klub ini juga ditempatkan di halaman muka kedua koran lokal Malang ini. Bahkan Radar Malang bekerja sama dengan penerbit UMM Press menerbitkan buku berjudul Arema Never Die (2009) yang ditulis oleh jurnalis Radar Malang, Abdul Munthalib, guna mendekatkan diri dengan pembaca di Malang.

Pola serupa terjadi di kota dan kabupaten lain. Di wilayah eks karesidenan Bojonegoro, di mana dua klub terkemuka dari kota ini, Persela Lamongan dan Persibo Bojonegoro mendapatkan porsi yang berlimpah di Radar Bojonegoro.

Di kota-kota lain di Jawa Timur, pola ini dengan mudah dijumpai, seperti di eks karesidenan Madiun dengan Radar Madiun yang mengabarkan berita tentang PSM Madiun, Persinga Ngawi, Madiun Putra dan klub-klub lokal yang sebelumnya nyaris tenggelam dalam pemberitaan nasional. Di eks karesidenan Besuki, berita tentang Persid Jember, Persewangi Banyuwangi dan klub sepakbola lokal lainnya ditampilkan oleh Radar Jember.

Berhadapan dengan koran yang secara tradisi telah menjadi pemimpin pasar di propinsi lain, penerbitan pers lokal dalam payung Jawa Pos Grup bersiasat dengan mengangkat berita klub sepakbola lokal yang sebelumnya jarang terdengar atau diangkat oleh koran yang telah ada.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta, Radar Jogja yang berkembang sejak tahun 2000 memilih menjadi media partner bagi PS Sleman. Koran Kedaulatan Rakyat telah mapan sebagai koran yang identik dengan PSIM di masa awal pertumbuhan Radar Jogja. Pada masa kompetisi Liga Indonesia di-branding sebagai Liga Bank Mandiri di awal tahun 2000-an, jersey PSS bertuliskan Radar Jogja.

Pola-pola di atas bisa dilacak ke hampir semua kota dimana Jawa Pos Group menerbitkan koran lokal. Nyaris tidak bisa disangkal, di balik kepentingan bisnis Jawa Pos melalui spasialisasi di berbagai daerah, ada manfaat yang dirasakan oleh sepakbola lokal. Manfaat itu adalah bergeloranya sepakbola lokal dan terdokumentasikannya kiprah klub sepakbola lokal dalam lintasan sejarah sepakbola Indonesia.

Komentar
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.