Lapangan Ngebul: dari Bambang Pamungkas hingga Bayu Pradana

Salatiga tak pernah absen menyumbang pemain sepak bola terbaik untuk membela timnas Indonesia. Kita dulunya mengenal nama Bambang Pamungkas, sementara kini ada Bayu Pradana sebagai pemain inti timnas Garuda asuhan Alfred Riedl di ajang Piala AFF 2016.

Berbicara mengenai Salatiga dan sepak bolanya, tentu perlu untuk menyebut lapangan Ngebul. Lapangan sederhana, yang bukan level internasional inilah yang menjadi arena bakat-bakat muda terbaik untuk mengembangkan diri. Tak hanya pemain Salatiga, mereka yang berlatih di Ngebul juga datang dari berbagai kota di Jawa Tengah maupun kota lain di Indonesia.

Semuanya bermula pada tahun 1963 ketika di jalan Veteran 45, Salatiga, itu berdiri bangunan yang berfungsi sebagai mess untuk pembinaan pemain muda berbakat. Dulunya disebut sebagai Training Center (TC) Ngebul. Ngebul merupakan nama kawasan yang dipilih sebagai tempat pembinaan karena areanya sejuk dan jauh dari keramaian.

TC Ngebul ini didirikan bersama oleh PSSI dan Departemen Olahraga. Baru pada 1973, namanya berganti menjadi Diklat Salatiga. Nama ini yang kemudian menjadi sangat populer hingga kini tinggal menjadi kenangan.

Pergantian nama itu juga berimplikasi pada format pembinaan menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan (Diklat). Kosasih Poerwanegara, ketum PSSI saat itu menjalin kerjasama dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) untuk menyediakan guru-guru yang difungsikan sebagai mentor belajar para atlet muda.

Hal tersebut dimaksudkan agar aktivitas olahraga juga diikuti dengan pendidikan formal. Di Salatiga, dikenal ada sekolah yang jadi rujukan para atlet Diklat Salatiga ini seperti SMP N 3 Salatiga, SMA N 1 Salatiga, SMA N 2 Salatiga, dan SMA N 3 Salatiga.

Keberhasilan Diklat Salatiga ini dikemudian hari menginspirasi Gubernur DKI Jakarta untuk mendirikan Diklat Ragunan yang diresmikan pada tahun 1976 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang kala itu menjabat sebagai Wakil Presiden.

Sejarah panjang itu tentunya melahirkan banyak pemain sepak bola yang kualitasnya layak untuk membela tim nasional. Jauh sebelum Bambang Pamungkas (Bepe) membela tim nasional, ada nama-nama legenda sepak bola Indonesia seperti Risdianto, Sartono Anwar, Iswadi Idris, Anjas Asmara, hingga Hadi Ismanto.

BACA JUGA:  Cobham Berbinar

Sedikit di atas Bepe, ada Kurniawan Dwi Yulianto, yang juga jadi pemain idola Bepe muda. Anak Sartono Anwar, Nova Arianto yang malang melintang di liga Indonesia juga menimba ilmu di sini.

Dulunya Nova ini tidak berposisi sebagai bek, dia adalah seorang penyerang. Ketika masa mudanya sempat membela Persebaya dan PSS, Nova masih bermain sebagai striker meski sesekali mulai dicoba menjadi palang pintu.

Di Diklat Salatiga ini, di pos penyerang, Nova berduet dengan tandem Bepe di Persija Jakarta dan timnas, Gendut Dony. Bepe sendiri bisa bermain sebagai gelandang serang, sebelum akhirnya paten sebagai penyerang. Dari keluarga Gendut, bahkan ada dua kakaknya pula, Nugroho Mardiyanto serta Deftendi, yang juara bersama Mastrans Bandung Raya dan masuk timnas Baretti.

Sebelum nama Bayu Pradana mencuat bersama timnas di Piala AFF 2016, adik-adiknya ada yang lebih dulu dikenal publik. Mereka antara lain Ravi Murdianto, Awan Setho Raharjo, dan Septian David Maulana yang moncer bersama timnas U-19 asuhan Indra Sjafri.

Ada pula nama Gunawan Dwi Cahyo yang kini juga ada di skuat Merah Putih meski belum sekalipun tampil. Duet Gunawan dengan Abdulrachman di SEA Games 2011 menjadi kunci timnas bisa melenggang ke final sebelum dikalahkan oleh Malaysia. Gunawan pula yang mencetak satu-satunya gol di partai final yang dimenangi Baddrol Bachtiar dan kawan-kawan melalui adu penalti itu.

Sayang, kini sepertinya sulit untuk mencari pemain muda berbakat lainnya yang akan meneruskan jejak Bambang Pamungkas dan Bayu Pradana dari lapangan Ngebul lantaran sudah tak ada lagi Diklat Salatiga di sana.

Tahun 2008 lalu, nama Diklat diganti menjadi Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) Salatiga. Sepak bola tetap menjadi pusat pelatihan bersama beberapa cabang olahraga lainnya seperti sepak takraw.

Tapi, sayang, sejak dua tahun lalu PPLP Salatiga ditiadakan. PPLP Salatiga diboyong ke Semarang dilebur dengan PPLP Jawa Tengah yang berlatih di kompleks olahraga Jatidiri. Selain itu, ada pula yang berlatih di Stadion Wujil, Ungaran.

BACA JUGA:  Mari Meniru Jejak Portugal, Garuda!

Lapangan Ngebul itu tetap ada, lapangan yang dinamai sebagai lapangan Kurusetra itu tetap dirawat dengan baik karena berada di kompleks Yonif Mekanis 411/6/2/Kostrad, Salatiga. Tetap jadi arena berlatih sepak bola, selain dipakai oleh angkatan, lapangan yang tak banyak berubah wujudnya sejak saya bermain di sana sebelas tahun lalu itu jadi arena berlatih anak-anak SSB SKB Salatiga.

Walaupun anak-anak itu tetap akan berhenti sejenak bermain bola ketika sedang ada upacara penurunan bendera setiap sore jelang jam 5, semuanya tak sepenuhnya sama. Tak ada lagi Diklat (PPLP) Salatiga di sana yang jadi kawah candradimuka pemain sepak bola terbaik negeri ini.

Mess di jalan Veteran 45 itu kini sepi dan tak terawat. Patung pesepak bola yang ada di depan gedung tampak lesu dan tak lagi punya banyak arti seperti sebelumnya.

Kenangan manis yang tinggal jadi kenangan seperti halnya Salatiga yang kini tak lagi punya lapangan terbang seperti ketika pemerintah kolonial Belanda memiliki bandara Ngebul.

Semoga, Salatiga tak pernah kehilangan daya magisnya menelurkan pemain sepak bola kelas nasional…

RALAT: Bayu Pradana menurut salah satu pembaca kami, @Yudhagalih19, tidak pernah terdaftar sebagai atlet di Diklat Salatiga. Bayu menempa dirinya di Diklat Apacinti yang kemudian berubah menjadi Diklat Bintang Pelajar Kabupaten Semarang. Di Salatiga, Bayu pernah bermain di PSISa Salatiga. Walaupun tidak pernah di Diklat Salatiga, sangat mungkin Bayu pernah berlatih atau bertanding sepak bola di Lapangan Ngebul, karena lapangan ini kerap jadi arena kompetisi di Salatiga. Untuk kesalahan ini kami mohon maaf, karena kami kesulitan memperoleh arsip teks akhirnya sekadar mengandalkan penutur saja. Jikalau ada tambahan cerita untuk memperkaya tulisan ini, bisa disampaikan langsung atau ditulis di kolom komentar untuk menambah naskah mengenai sepak bola Indonesia. Terima kasih.

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.