Mengasah Pembinaan di Akademi Sepakbola Hizbul Wathan

Ketersediaan lapangan untuk berlatih sepakbola menjadi prasyarat utama dalam pembinaan sepakbola.

Sayangnya ketersediaan lapangan yang memadai secara kuantitas maupun kualitas di Indonesia tidak sebanding dengan kebutuhan.

Bahkan sekelas klub Liga 1 alias kompetisi teratas di kancah nasional saja mengalami persoalan dalam pemenuhan kebutuhan lapangan. Alhasil, menyewa lapangan menjadi solusi instan untuk berlatih.

Di tingkat yang lebih rendah tentu persoalan ini menjadi semakin pelik. Klub Liga 2, Liga 3, hingga Sekolah Sepakbola (SSB) pun harus berjibaku mendapatkan akses lapangan yang layak.

Padahal, lapangan baru satu dari fasilitas yang dibutuhkan dalam pembinaan sepakbola.

Kebutuhan sumber daya manusia mulai dari pelatih dan segenap ofisial yang berkualitas serta memiliki integritas adalah aspek lain yang harus dipikirkan.

Selain itu, fasilitas penunjang di luar lapangan untuk menopang pembinaan seperti gym, ruang kantor dan sejenisnya. Tentu yang paling utama adalah ketersediaan pendanaan untuk pembinaan yang berkelanjutan.

Kampus bisa menjadi mengambil peran dalam pembinaan sepakbola. Peran yang bisa didorong untuk mengembangkan sepakbola berbasis sains.

Kami sedang berusaha mengembangkan format pembinaan sepakbola berbasis kampus melalui Akademi Sepakbola Hizbul Wathan (ASHW) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Tentunya, kami tidak ingin berjalan sendiri. Kolaborasi menjadi kata kunci dalam pembinaan yang kami kembangkan.

Modal sosial kami adalah nama Hizbul Wathan, sebuah perkumpulan sepakbola yang telah berdiri sejak jaman kolonial.

Prof. Dr. Haedar Nashir, Ketua Umum Muhammadiyah pernah berkisah bahwa di masa lalu HW, demikian Hizbul Wathan lebih dikenal, menjadi tim yang didukung oleh para pimpinan Muhammadiyah.

Setelah rapat, para pimpinan Muhammadiyah suka melihat pertandingan Hizbul Wathan di Lapangan Asri, di bilangan Kuncen, Wirobrajan, Yogyakarta.

Salah satu pendiri federasi sepakbola Indonesia (PSSI) dan sekaligus bendahara PSSI pertama adalah Abdul Hamid yang aktif di Muhammadiyah dan tentu saja Hizbul Wathan

BACA JUGA:  Jejak yang Coba Diikuti Andritany

Lapangan Asri yang juga populer disebut dengan Gelanggang Asri adalah bagian penting dalam sejarah sepakbola Indonesia. Pembangunannya diarsiteki oleh Soeratin Sosrosoegondo, Ketua Umum PSSI pertama.

Lapangan ini bisa dijumpai di sisi belakang Asri Medical Center (AMC).  Di Lapangan Asri, Perkumpulan Sepakbola Hizbul Wathan (PSHW) berlatih dan bertanding, termasuk pula SSB-nya selama puluhan tahun.

Hizbul Wathan memiliki sejarah yang kuat. Dimulai dari Yogyakarta, perkumpulan sepakbola yang menyematkan nama Hizbul Wathan berdiri di berbagai kota.

Umumnya Hizbul Wathan dikelola sebagai bagian dari klub anggota dari tim Perserikatan pada masa kompetisi Perserikatan dan sebagai sekolah sepakbola.

Sejarah bukan hanya untuk dikenang, namun juga diciptakan. PS Hizbul Wathan Yogyakarta yang dikelola bersama dengan UMY mulai tahun 2021 ini berusaha menorehkan sejarah baru.

Pembinaan yang lebih terstruktur, profesional dan berbasis sains dalam akademi bernama ASHW menjadi narasi besar yang mulai diimplementasikan.

Untuk mengimplementasikan narasi besar ini, beberapa langkah akan, sedang dan telah dilakukan.

Pertama, penyeragaman visi dan misi pembinaan berbasis sains. Langkah nyatanya adalah penyusunan buku kurikulum yang dinamakan Hawenesia.

Buku tersebut sedang dalam proses direncanakan terbit sebelum tahun 2021 berakhir.

Pembinaan dari kelompok umur di sekolah sepakbola sampai tim yang disiapkan untuk Liga 3 mengacu pada kesamaan visi dan misi.

Kedua, sinergi ketersediaan fasilitas yang layak. Fasilitas utama adalah lapangan yang telah tersedia di kampus. Karena kampus memiliki lapangan, maka kebutuhan primer ini tercukupi.

Fasilitas penunjang yang tersedia adalah ruang sekretariat yang berada di sisi lapangan yang dilengkapi kantor, kamar ganti dan kamar mandi.

Rencananya ruang sekretariat akan dikembangkan menjadi dua lantai lengkap dengan toko merchandise dan museum mini sejarah sepakbola Hizbul Wathan.

BACA JUGA:  Football Faentasium: Fantasi Korea Selatan dengan Memori

Fasilitas penginapan untuk pemain tersedia di Unires yang berdiri empat lantai dan terletak tidak jauh dari lapangan. Di Unires tersedia pula gym yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga kebugaran pemain.

Ruang kelas yang dilengkapi peralatan multimedia juga tersedia dan biasanya digunakan oleh tim pelatih untuk melakukan evaluasi terhadap pemain melalui video rekaman pertandingan.

Latihan dan pertandingan uji coba yang dilakukan PS Hizbul Wathan UMY untuk persiapan Liga 3 direkam oleh Laboratorium Ilmu Komunikasi sebagai bahan evaluasi bagi tim pelatih.

Ketiga, kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari donatur, sponsor, PSSI, berbagai kampus, klub sepakbola, komunitas, media dan berbagai pihak.

Bersama Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, kolaborasi dilakukan dengan program fisioterapi.

Ada lima belas mahasiswa Program Studi Fisioterapi dari Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang melakukan kegiatan magang didampingi para dosennya.

Kolaborasi dengan Universitas Muhammadiyah Magelang dilaksanakan dengan kegiatan magang mahasiswa di tim media.

Kolaborasi dengan komunitas antara lain dilakukan bersama Bawah Skor untuk penyediaan jersei bertanding.

Kerja sama dengan tim Liga 2, PS Hizbul Wathan dilakukan untuk mendukung piramida pembinaan.

Apalagi di musim kompetisi Liga 2 yang dilangsungkan di Solo, mereka menggunakan fasilitas di UMY untuk persiapan.

Terakhir, dimuatnya artikel ini juga menjadi kolaborasi dengan media, dalam hal ini Fandom Indonesia.

Tentu saja, asa untuk pembinaan sepakbola sejak dini ini masih memerlukan kolaborasi dengan banyak pihak.

Kami terbuka kepada semua pihak yang memiliki visi serupa dalam pembinaan sepakbola untuk melakukan kolaborasi.

Komentar
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.