Leicester City: Kurcaci yang Merasa Sebagai Raksasa

Pada 24 Februari waktu Indonesia atau 23 Februari waktu Inggris, sebuah pengumuman penting hadir di media-media negeri Ratu Elizabeth. Adalah keputusan mendadak manajemen Leicester City untuk mendepak Claudio Ranieri dari kursi pelatih yang menjadi topik panas.

Beredar kabar bahwa alasan pemecatan pelatih asal Italia ini adalah prestasi menurun yang diperoleh Leicester sejauh ini. Mereka kini hanya berada satu strip di atas zona degradasi Premier League dan baru saja menelan kekalahan 2-1 dari Sevilla di perdelapan final Liga Champions.

Dua sampai tiga tahun lalu, prestasi yang diukir Leicester di ranah Inggris seperti sekarang ini jelas termasuk kategori biasa. Mereka bisa dikatakan hanyalah tim medioker yang mondar mandir antara Liga Primer dan divisi-divisi di bawahnya.

Musim ini sendiri menjadi musim ketiga beruntun mereka berada di kasta tertinggi persepakbolaan Inggris.

Akan tetapi, ini menjadi lain. Karena di musim ini, mereka berstatus sebagai juara bertahan Liga Inggris. Dan itu tampak mengubah pandangan tentang Leicester dari sisi internal mereka sendiri.

Musim 2015/2016 jelas akan menjadi musim yang akan selalu dikenang oleh para penikmat sepakbola. The Foxes di bawah arahan Ranieri, menjelma menjadi tim yang sangat sulit dikalahkan.

Mereka melaju hingga berada di papan atas sepanjang musim. Dan diakhiri dengan manis lewat pengangkatan trofi oleh sang kapten, Wes Morgan.

Ini jelas menjadi anomali. Di kala Manchester United, Chelsea, Manchester City, dan Liverpool menggelontorkan berjuta-juta uangnya demi menjadi yang pertama di akhir musim, Leicester seenaknya saja menerobos podium juara. Bahkan total transfer mereka di musim tersebut, hanya sekitar 50 juta euro.

Di situasi tersebut, Ranieri bisa dibilang sebagai arsiteknya. Bersenjatakan Riyad Mahrez, Jamie Vardy, dan N’Golo Kante, ia sukses mengubah sang rubah kecil menjadi penantang gelar juara. Fakta bahwa mereka hanya kalah tiga kali di sepanjang musim tersebut, jelas menjadi bukti sahih kehebatan tim ini.

BACA JUGA:  Keadilan bagi Scott Parker

Namun, narasi kebahagiaan yang tak dinyana-nyana tersebut membuat manajemen besar kepala. Kacamata mereka kini melihat Leicester bukan lagi tim semenjana, melainkan tim besar yang sudah layak disejajarkan dengan penghuni paten enam besar Premier League lainnya.

Karena itu mereka tak bisa menerima performa Leicester di musim ini. Posisi ke-17 di klasemen sementara, mereka anggap tak layak bagi sebuah tim yang menyandang status juara bertahan. Mereka ingin lebih.

Keinginan tersebut memang tak salah. Bahkan sebagaimana manusia, nafsu untuk selalu mendapatkan sesuatu yang lebih adalah wajar. Begitu pula yang melingkupi manajemen Leicester.

Namun, mereka seperti tak sadar bahwa dongeng emas musim 2015/2016 lalu itu tak bisa selalu diulang tiap tahun. Perlu proses secara konsisten untuk mencapai tahap menjadi raksasa dan bertahan di sana selama bertahun-tahun. Apalagi di ranah Inggris yang notabene bergelimang uang.

Pemecatan Ranieri menjelaskan itu semua. Mereka seolah lupa siapa yang membawa tim semenjana tersebut menjadi sebuah tim juara. Dan yang lebih penting, mereka lupa siapa mereka sebenarnya.

Mirisnya, prestasi emas di musim perdana tampil di Liga Champions seperti bias tak terlihat. Apalagi fakta bahwa masih ada 13 pekan untuk memperbaiki prestasi di Liga Primer, juga seperti diabaikan.

Di titik ini, manajemen seperti tak tahu diri. Mereka terkesan mabuk prestasi instan yang ironisnya dihadirkan lewat tangan dingin Ranieri.

Padahal, di zaman modern seperti sekarang, mewujudkan cerita ala David vs Goliath di ranah sepakbola jelas tak mudah. Bahkan nyaris mustahil.

Karena itu, menjadi wajar jika Jose Mourinho begitu kaget dan membela Ranieri. Atau Roberto Mancini yang juga memperlihatkan sikap yang sama. Sedangkan minim sekali opini yang membela keputusan dari manajemen.

BACA JUGA:  Persaingan Leicester, Chelsea, dan Manchester United yang Mengecewakan

Karena memang menjadi juara itu susah. Apalagi dengan kendaraan bernama Leicester.

Komentar
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS dan sempat magang di Harian Bola.