Pudarnya Pesona Marcelo

Hampir 14 tahun bermain untuk klub sebesar Real Madrid bukanlah hal yang mudah. Dapat melakukannya berarti si pemain memang memiliki kualitas paripurna. Banyak pemain yang datang buat mengisi pos yang sama, tapi menggesernya dari tempat utama sungguh tak mudah. Praktis, cuma waktu yang membuat Marcelo Vieira da Silva Junior alias Marcelo tergeser dari starting eleven Madrid.

Didatangkan dari Fluminense pada Januari 2007 saat masih berumur 19 tahun, Marcelo digadang-gadang sebagai bek kiri anyar yang dapat diandalkan Los Blancos. Banyak yang menyebut lelaki asal Brasil ini sebagai suksesor ideal dari bek kiri legendaris yang juga seniornya di tim nasional, Roberto Carlos.

Berbekal kemampuan apik dan konsisten, sulit bagi pelatih Madrid manapun selama satu setengah dekade terakhir buat menepikannya. Tak peduli bahwa dalam rentang waktu tersebut, mereka juga punya bek-bek kiri lain semisal Fabio Coentrao, Royston Drenthe, Theo Hernandez, sampai Sergio Reguilon. Gara-gara kesulitan bersaing dengan Marcelo, keempat nama itu pun memilih hengkang dari Stadion Santiago Bernabeu.

Bersamaan dengan itu, Marcelo berubah dari sekadar pemain biasa menjadi salah satu ikon Los Blancos dan disegani rekan maupun lawan. Bahkan ia dilambungkan sebagai bek kiri terbaik pada generasinya. Ia merupakan gambaran dari seorang Madridistas sejati. Selebrasi emosionalnya ketika mencetak gol di final Liga Champions 2013/2014 serta ekspresi keberhasilannya jadi salah satu eksekutor penalti pada babak adu penalti final Liga Champions 2015/2016 adalah bukti kalau rasa cintanya kepada Madrid begitu besar.

Akan tetapi, sulit dipungkiri bahwa gerusan usia membuat kapabilitas Marcelo merosot. Dahulu, ia merupakan senjata mematikan dari pos fullback kiri. Namun kini, penurunan performa membuatnya jadi titik lemah yang mudah dieksploitasi lawan. Kondisi fisik, stamina, dan kecepatan lelaki berambut keriting ini berbeda jauh dengan tiga atau empat tahun silam.

BACA JUGA:  Theerathon Bunmathan, Kecerobohan, dan Kegemilangan

Seperti pemain asal Brasil pada umumnya, Marcelo adalah figur yang riang dan penuh tawa. Banyak sekali momen yang memamerkan keberhasilannya memecah ketegangan para penggawa Los Blancos, baik saat berlatih maupun bertanding. Sikap dan sifatnya yang ngemong bikin dirinya didapuk sebagai wakil kapten tim.

Namun ironis, keriangan dan tawa itu kerap berubah jadi ketegangan serta rasa sesal saat ia bermain dan harus memungut bola dari gawang timnya sendiri. Banyak foto yang menunjukkan ia tertunduk lesu sampai menangis akibat jala Madrid terkoyak. Apalagi kalau gol lawan tersebut berasal dari area yang ditempatinya.

Penurunan performa Marcelo memang nyata adanya. Ia sering terlambat untuk turun setelah melakukan overlap. Alhasil, ruang kosong di wilayahnya begitu gampang diobok-obok lawan. Dilansir dari Marca, sejak awal musim 2018/2019, Marcelo telah bermain dalam 55 pertandingan dimana Madrid meraih kemenangan sebanyak 30 kali, 7 kali seri, dan 18 kali menelan kekalahan (rasio kemenangannya mencapai 54 persen).

Jika dibandingkan dengan dua penggawa lain yang mengisi pos serupa pada musim 2019/2020 yakni Ferland Mendy (29 pertandingan dengan rasio kemenangan 69 persen) serta Reguilon di musim 2018/2019 (22 laga dan rataan kemenangannya menembus 68 persen), ada dekadensi yang terlihat dari Marcelo. Tak heran bila Zinedine Zidane, akhir-akhir ini lebih sering mempercayai Mendy yang diboyong dari Olympique Lyonnais medio 2019 silam sebagai bek kiri nomor satu.

Ibarat dua sisi mata pisau, Madridistas terus berharap kalau Marcelo bertahan selama mungkin di Stadion Santiago Bernabeu. Namun di saat yang bersamaan, Madridistas juga takjub sembari tersenyum kecut melihat Hernandez dan Reguilon justru gemilang bersama klub anyar mereka masing-masing.

BACA JUGA:  Vicente del Bosque, Real Madrid, dan The Montreal Screwjob

Suka tidak suka, kita harus mengakui bahwa pesona Marcelo dalam menyisir sisi kanan pertahanan lawan memang kian memudar. Kemerosotan performa yang diperlihatkan pemain bernomor punggung 12 ini bikin dirinya lebih akrab dengan bangku cadangan ketimbang lapangan hijau.

Secara statistik, musim 2019/2020 kemarin jadi momen kedua di mana ia tak merumput lebih dari 25 kali selama satu musim penuh (tidak menghitung musim pertamanya datang ke Spanyol karena terjadi di tengah musim). Sebelumnya, ia pernah bermain sebanyak 19 kali saja dengan seragam Los Blancos di musim 2012/2013. Namun absensinya saat itu dikarenakan cedera parah yang mengharuskannya beristirahat lama.

Dengan kontrak kerja yang selesai pada musim panas 2022 mendatang dan Mendy yang semakin mendapat kepercayaan Zidane, kubu Madrid dan Marcelo tentu perlu melakukan pembicaraan. Kedua belah pihak wajib memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya masing-masing di masa yang akan datang.

Banyak Madridistas yang ingin melihat Marcelo tetap berseragam Madrid sampai kontraknya selesai. Mereka ogah melihat salah satu pemain penting dalam satu dasawarsa terakhir ditendang begitu saja dan kehilangan kehormatannya. Di sisi lain, Marcelo sepertinya takkan menolak untuk berperan sebagai pemain pelapis seraya membimbing Mendy sampai masa kerjanya berakhir. Andai perpisahan dengan Marcelo akhirnya terjadi, sudah sepantasnya Los Blancos menciptakan momen semegah film Avengers: Endgame.

Komentar
Seorang penggemar Real Madrid yang sedang menjalani masa kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Dapat dihubungi di akun Twitter @RijalF19.