Manchester United, Bangkit atau Kian Terjepit?

Bermain di kandang sendiri, Old Trafford, Manchester United keok dari Liverpool pada lanjutan Premier League 2021/2022 pekan kesembilan (24/10).

Sebetulnya, kekalahan tim arahan Ole Gunnar Solskjaer sudah diprediksi mengingat penampilan kubu asuhan Jurgen Klopp sedang elok-eloknya.

Namun kekalahan kali ini terasa lebih menyakitkan bagi Manchester United sebab mereka tumbang dengan skor yang amat mencolok yaitu 0-5!

Kalah dari rival bebuyutan di kandang sendiri dengan skor sebegitu mencolok betul-betul melukai Manchester United.

Harga diri mereka sebagai tim yang disegani makin runtuh. Pun dengan kesombongan manajemen serta fans.

Suka tidak suka, kekalahan dari The Reds membuat asa Harry Maguire dan kawan-kawan mengendur. Khususnya buat menjuarai Premier League musim ini.

Pada awal laga, Manchester United sanggup menciptakan sejumlah peluang. Sayangnya, Liverpool bermain jauh lebih paripurna.

Hanya dalam tempo 13 menit, jala David de Gea dibikin bergetar dua kali. Masing-masing lewat usaha Naby Keita dan Diogo Jota.

Selepas dua gol tersebut, The Red Devils semakin sulit menguasai permainan. Sebaliknya, lawan begitu digdaya dan seolah tak bisa dibendung.

Benar saja, megabintang The Reds, Mohamed Salah, meluluhlantakkan hati pendukung Manchester United berkeping-keping.

Mulanya, ia mencetak satu gol pada menit ke-38. Hanya beberapa detik jelang babak pertama usai, tepatnya di menit 45+5, Salah menggandakan pundi-pundi golnya sekaligus menyudahi babak pertama dengan skor 4-0 bagi Liverpool.

Langkah anak asuhan Ole menuju ruang ganti pun amat gontai. Segalanya terasa gelap dan tak menggembirakan.

Usai turun minum, harapan Manchester United buat mencetak gol guna memelihara harap musnah.

Pada menit ke-50, Salah kembali melesat sebagai protagonis The Reds dengan mengukir hattrick sekaligus membawa Liverpool unggul 5-0.

BACA JUGA:  Transformasi Pesat Diogo Dalot

Skor itu sendiri menutup jalannya laga di Old Trafford yang tribunnya kian kosong semenjak akhir babak pertama karena fans memilih pulang lantaran kecewa.

Hasil negatif ini pun memicu keriuhan di lini masa media sosial. Tanda pagar #OleOut kembali bergema. Banyak pihak yang ingin supaya manajemen mau mendepak Ole dari posisinya sebagai arsitek.

Bicara tentang hal taktis, masalah utama Manchester United selama ini adalah transisi dari menyerang ke bertahan serta koordinasi para pemain belakang.

Utamanya saat menutup lubang yang ditinggalkan Aaron Wan-Bissaka dan Luke Shaw yang naik membantu serangan.

Ketiadaan gelandang bertahan mumpuni juga bikin sektor tengah Manchester United sangat rentan. Padahal di area sinilah pertarungan selalu dimulai.

Di sisi lain, Ole juga punya kebiasaan untuk menerapkan garis pertahanan tinggi agar pemainnya dapat menekan lawan lebih cepat dan merebut bola.

Manchester United asuhan Ole selalu siap untuk melakukan serangan. Namun di sisi seberang, mereka senantiasa kelabakan setiap kali lawan menyerang balik.

Terkait masalah-masalah di atas, manajemen sebetulnya tidak diam saja. Mereka rela menggelontorkan dana dalam jumlah masif agar penampilan tim membaik secara keseluruhan.

Sayangnya, hasil dari investasi tersebut tak jua memperlihatkan hasilnya secara nyata. Pemain yang direkrut malah gagal bersinar. Baik karena tidak cocok dengan filosofi si pelatih maupun keengganan si pemain buat mengenakan baju The Red Devils.

Akibatnya, keputusan taktis Ole sering dipertanyakan. Mengapa ia tak menurunkan pemain A sejak awal laga alih-alih cuma merumput 40 menit? Mengapa Ole tidak mengganti pemain di saat permainan timnya mengalami kebuntuan?

Pada laga melawan Liverpool kemarin, kedisplinan pemain Manchester United juga menjadi masalah.

Banyak pressing yang percuma karena The Reds selalu berhasil keluar dari tekanan dan lucunya, justru bikin The Red Devils kagok sendiri.

BACA JUGA:  Revolusi Gaya Bermain Pragmatis menjadi Atraktif West Ham United

Gol Naby Keita merupakan contohnya. Wan-Bissaka dan Mason Greenwood terlambat melakukan cover atas pressing Bruno Fernandes yang gagal.

Alhasil, banyak pemain keluar dari areanya guna menutup pergerakan serta sirkulasi bola Liverpool. Sayangnya, umpan satu-dua yang diperagakan lawan berhasil menembus lini pertahanan Manchester United sekaligus mengoyak jala David de Gea.

Batang hidung Ole akhir-akhir ini selalu ditunjuk oleh fans. Dirinya menjadi kambing hitam atas segala kebobrokan yang dialami The Red Devils.

Mantan penggawa Manchester United, Rio Ferdinand, bahkan melontarkan kekecewaan sekaligus kritiknya kepada tim selepas laga melawan Liverpool kemarin.

Tampaknya, eks bek tengah tersebut juga menyalahkan Ole. Kendati sebelumnya ia merupakan salah satu sosok yang merekomendasikan nama Ole sebagai pelatih anyar usai Jose Mourinho dipecat.

Ataukah semua kesialan yang dialami Manchester United merupakan dampak dari keputusan Ma’ruf Amin yang kini lebih menjagokan Liverpool?

Manchester United memang harus segera bangkit agar mereka tak kian terjepit. Namun apakah proses itu tetap dijalani bersama Ole atau dengan pelatih lain, Antonio Conte misalnya, cuma waktu yang akan memberi tahu.

Komentar
Sulung dari tiga bersaudara. Penyuka Manchester United dan kari kambing pada hari raya bikinan Ibu. Sambat dan berkicau lewat akun Twitter @perapikosongan