Memaklumi Performa Liverpool Musim 2015/2016

Sudah lebih dari 100 hari Juergen Klopp menangani Liverpool. Beberapa hal positif dan negatif terjadi selama pelatih asal Jerman itu menakhodai Jordan Henderson dkk. Mulai dari kemenangan inspirasional atas Manchester City dan Chelsea sampai kekalahan mengherankan dari Watford dan West Ham.

Sebagai Kopites aliran objektif dan penyabar, saya sudah memprediksikan musim pertama Klopp di Liverpool tak akan berjalan lancar. Klopp terbukti kesulitan meramu taktik dari skuat peninggalan mahaguru Brendan Rodgers.

Taktik yang diterapkan mantan pelatih Borussia Dortmund itu belum memberikan hasil yang memuaskan secara keseluruhan. Implikasinya justru membludaknya daftar cedera pemain yang diyakini tidak cocok dengan metode latihan yang diterapkan Klopp. Hasilnya, sampai di pekan ke-23 Liverpool masih berada di luar lima besar.

Meskipun begitu, bukan berarti para tim rival dengan bebasnya mengetuk palu dan memberikan vonis bahwa musim Liverpool sudah selesai. Liverpool saat ini masih terlibat di empat kompetisi, lebih banyak dari Arsenal dan Manchester City yang kini sedang berada di singgasana klasemen.

Peluang untuk meraih juara (bukan di Liga Primer tentunya) masih terbuka lebar. Tapi, peluang tersebut bisa bertransformasi menjadi omong-kosong andai Liverpool tak mengalami perbaikan performa secara konsisten.

Melihat dari peluang itu, ada beberapa hal yang bisa menjadi pemakluman jika Liverpool gagal meraih trofi musim ini.

Musim penuh romansa

Entah mengapa saya tidak gedek melihat posisi Liverpool di papan klasemen saat ini. Padahal, hampir lima tahun terakhir saya selalu kesal melihat posisi akhir Liverpool yang mayoritas berada di luar empat besar.

Mungkin penyebabnya adalah Juergen Klopp. Pria brewok ini memiliki aura yang lebih luar biasa dari Ariel NOAH.  Ibarat sepasang kekasih yang baru jadian, para fans melihat apa yang dilakukan Klopp nyaris sempurna. Pelukan hangat kepada pemain, selebrasi emosional, sampai guyonan-guyonan yang ia lontarkan di sesi konferensi pers.  Siapa yang tidak mau punya manajer seperti itu?

Jika Anda tidak mau mungkin Anda adalah perwujudan dari kaum aristokrat seperti Louis Van Gaal.

Mungkin sebagian Kopites tak akan banyak menilai kualitas Klopp dari musim pertamanya. Tapi, memasuki musim kedua mungkin akan muncul banyak ketegangan seperti sepasang kekasih yang sudah berpacaran lebih dari setahun.

BACA JUGA:  Long Season for Manchester United

Jika Liverpool di akhir musim nanti gagal lolos ke Liga Champions, siapa peduli? Saya tetap jatuh cinta dengan Juergen Klopp.

Klopp mencari bakat

Saya termasuk kaum yang jengkel dengan ketampanan seorang Adam Lallana. Dengan ketampanannya ia dapat bermain di tim inti walaupun penampilannya standar. Dengan banderol 25 juta poundsterling dan memasuki musim kedua di LFC, sudah sepantasnya fans menuntut lebih dari Lallana—terlepas dari gol kontra Norwich City pada pekan ke-23.

Lupakan soal Lallana. Mari kita lihat keseluruhan skuat.

Skuat yang ada saat ini bukan murni dibentuk Klopp. Akan ada beberapa pemain yang dipertahankan dan dibuang saat musim panas nanti. Sisa pertandingan di musim ini akan menjadi ajang bagi Klopp untuk menentukan skuat yang akan dibentuknya di musim depan. Wajar saja jika Klopp suka mengotak-atik formasi yang berbuntut kekalahan atau hasil imbang.

Keputusan mengejutkan terjadi saat hampir seluruh pemain muda yang dipinjamkan dipanggil kembali. Itu adalah bukti sahih jika Klopp ingin melihat level kualitas seluruh pemain Liverpool. Baik yang senior dan junior, semua diberi kesempatan untuk menunjukkan bahwa mereka layak untuk dipertahankan.

Mungkin saja Klopp memberikan warning di ruang ganti kepada para pemain. Seperti memberi tulisan di papan dengan kalimat motivasi bermakna ancaman: “Show your talent or I will kick you this summer”. Dengan begitu setiap pemain akan sadar jika masing-masing dari mereka posisinya belum aman untuk mengenakan jersey Liverpool musim depan.

Masih ada sisa waktu bagi Klopp sampai akhir musim untuk menentukan siapa saja yang berhak bertahan dan pantas dijual.

Mewajarkan kesalahan

Perpanjangan kontrak Simon Mignolet di saat dirinya tengah dalam performa buruk memang terkesan ironis. Tapi, Klopp melihat hal itu dari sudut pandang yang lain. Berikut kutipan pernyataan Klopp usai kiper asal Belgia memperpanjang kontraknya bersama Liverpool hingga tahun 2021.

“There’s been a lot of games since I’ve been here and Simon, as is normal for a goalkeeper, has been involved in one or another goal we’ve conceded. But we thought about it overall and as a package, Simon Mignolet is, for us, perfect because he’s a smart guy, he’s young enough to develop in the things he has to develop and he gives us all a good feeling when he is in the starting line-up.” Seperti yang dikutip dari Goal.com.

Kesalahan demi kesalahan yang dibuat kiper asal Belgia diwajarkan sang manajer. Hal tersebut juga berlaku bagi pemain lain seperti Christian Benteke yang kurang trengginas ketika berada di kotak penalti lawan.

BACA JUGA:  Analisis Pertandingan Leicester City 1-1 Manchester United: Kompaksi-Pressing yang Saling Menyulitkan

Tak hanya kesalahan individual, kekompakan tim juga perlu mendapat sorotan tajam. Para pemain Liverpool lemah dalam melakukan koordinasi bertahan untuk mengantisipasi set piece baik itu sepak pojok maupun tendangan bebas. Hal yang sudah terjadi sejak musim lalu.

Tapi Klopp tetap Klopp. Sewaktu di Dortmund, pria asal Jerman jarang menyalahkan performa individu pemainnya saat tim bermain buruk.

Sedikit flashback, pada Oktober 2014 ia meminta para pengkritik dan fans Dortmund untuk menyalahkan dirinya atas start buruk Dortmund di musim tersebut. Di mana kita tahu di akhir musim itu Klopp akhirnya memutuskan angkat kaki dari Signal Iduna Park.

Jadi, wajarkan saja jika para pemain Liverpool (sering) melakukan kesalahan terus. Itu adalah salah satu cara Liverpool “menghibur” fans-nya.

Pada tahun 2012 Liverpool menjuarai Mickey Mouse Cup (Carling Cup—saat ini Capital One Cup) dengan permainan yang biasa-biasa saja dan dihuni pemain Britania kelas medioker. Selang dua tahun Liverpool nyaris menjadi juara EPL dengan modal kedalaman skuat paling buruk di antara tim Big Five saat itu.

Musim ini, Liverpool dihantam badai cedera serta dihuni pemain peninggalan Brendan Rodgers. Saya harap Liverpool yang suka mengejutkan itu kembali lagi di musim ini. Siapa tahu di akhir musim nanti (minimal) Klopp bisa memegang si kuping kecil (Capital One Cup).  Tidak apa-apa, daripada puasa gelar. Kalau gagal, maklumi saja.

 

Komentar
Mahasiswa jurusan Teknik Informatika. Terlahir sebagai fans Liverpool, berkat dukungan moral sang ayah.