Mendedah Pemilihan Kapten Tim-Tim Bundesliga

Ketika Philipp Lahm pensiun, Bayern München tidak hanya kehilangan seorang pemain. Mereka ditinggal kapten yang sangat berpengaruh dalam membawa tim ke berbagai prestasi puncak. Publik lalu berspekulasi perihal siapa pengganti yang sepadan atau paling tidak mendekati kharisma seorang Lahm.

Sejumlah nama mencuat tapi pilihan mengerucut pada dua pemain, Thomas Müller dan Manuel Neuer. Yang pertama, seorang putra daerah yang menjadi representasi kebanggaan Bavaria.

Sedangkan yang kedua, seorang pemain yang memiliki talenta natural sebagai pemimpin. Ketenangannya di bawah mistar gawang (dan di luar kotak penalti) merupakan salah satu indikasi bahwa bakat kepemimpinan mengalir di dalam darahnya.

Carlo Ancelotti akhirnya lebih memilih pemimpin berdasarkan kualitas kepemimpinannya daripada sekadar menggunakan alasan-alasan kedaerahan.

Meskipun demikian, Ancelotti tidak sepenuhnya lepas dari bias nasionalisme dalam pemilihan kapten. Ia toh masih memilih orang Jerman untuk memimpin Bayern München meskipun di timnya ada dua orang yang pernah menjadi kapten di tim nasional masing-masing, Robert Lewandowski dan Arturo Vidal.

Tapi Ancelotti tidak sendirian. Total, ada 14 klub Bundesliga yang menjadikan orang Jerman sebagai kapten.

Sebenarnya hal ini masuk akal. Bagaimanapun, para pemain asli Jerman tentu punya kelebihan, setidaknya dalam penguasaan bahasa yang penting untuk berkomunikasi dengan berbagai pihak.

Selain itu, mereka juga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kultur sepakbola lokal. Hal-hal tersebut tentu akan memengaruhi efektifitas kepemimpinan para kapten.

Meski demikian, sejumlah kecil klub mengambil pendekatan yang lain. Mereka memilih pemain asing untuk menjadi pemimpin.

Werder Bremen menyerahkan ban kapten pada Zlatko Junuzovic (Austria), Hoffenheim mengangkat Eugen Polanski (Polandia), tim ibu kota Hertha Berlin memilih Vedad Ibisevic (Bosnia Herzegovina) dan yang paling “berani” adalah Hamburg dengan menobatkan pemain non-Eropa, Gotoku Sakai (Jepang) sebagai der Kapitan. Sakai sudah menjadi kapten sejak November 2016 dan musim ini kepercayaan itu masih diberikan kepadanya.

BACA JUGA:  Geliat Red Bull di Dunia Olahraga

Hal menarik lainnya dalam penetapan kapten adalah siapa yang memilih mereka. Umumnya, keputusan datang dari pelatih atau manajemen klub.

Namun di Bundesliga, ada dua klub yang menggunakan cara musyawarah untuk mufakat. Pelatih muda Hoffenheim, Julian Nagelsmann mempercayakan para pemain untuk memilih kapten mereka sendiri. Terpilihlah kapten incumbent, Eugen Polanski dengan wakil kapten yang baru Kevin Vogt.

Pola serupa juga terjadi di Freiburg. Mayoritas pemain sepakat mengangkat Julian Schuster sebagai pemimpin mereka. Bagi Schuster, ini menjadi tahun keenam berturut-turut dirinya menjadi kapten tim.

Sekarang kita beralih kepada posisi para kapten di lapangan. Mayoritas merupakan pemain tengah seperti Edgar Prib (Hannover), Christian Gentner (Stuttgart), Daniel Beier (Augsburg), Lars Bender (Bayer Leverkusen), Matthias Lehmann (Cologne) hingga sang juara Piala Konfederasi 2017, Lars Stindl (Borussia Mönchengladbach).

Selain Neuer, Ralf Fährmann merupakan kapten dengan posisi sebagai kiper. Ia menggantikan Benedikt Höwedes yang sebelumnya menjadi kapten Schalke selama 6 musim.

Royal Blues sepertinya ingin melakukan regenerasi kepemimpinan di klubnya. Beruntung, Höwedes menyikapi hal ini dengan legawa.

Melalui laman Facebooknya, Höwedes mengucapkan selamat kepada Ralf dan mengatakan dirinya tetap berkomitmen memberikan yang terbaik untuk klub. Ia juga memberi indikasi bahwa kepentingan klub lebih tinggi daripada kepentingan pribadi. Salut!

Sementara itu, nama-nama seperti Willi Orban (RB Leipzig), Marcel Schmelzer (Borussia Dortmund), Niko Bungert (Mainz) mewakili para pemimpin dari lini belakang.

Mungkin klub-klub ini terinspirasi dengan konsep Tut Wuri Handayani. Mereka ingin para kapten memberikan dorongan moral dan semangat dari belakang. Orban sendiri adalah kapten termuda untuk musim ini. Menurut Hasenhüttl, Orban merupakan teladan dan dihormati para pemain lainnya.

Sedangkan dari posisi striker hanya diwakili tiga orang saja, Vedad Ibisevic, Alexander Meier (Eintracht Frankfurt), dan pemain timnas Jerman, Mario Gomez (Wolfsburg). Gomez menggantikan Diego Benaglio yang menjadi kapten Wolfsburg selama lima tahun. Kiper asal Swiss tersebut hengkang ke Monaco pada musim panas ini.

BACA JUGA:  Analisis Pertandingan Borussia Monchengladbach (3-1) Bayern Munchen: Keberanian Andre Schubert Tampil Proaktif Berhasil Kalahkan Pep Guardiola

Tak dapat ditampik, para kapten akan memegang peran krusial bagi klub di sepanjang musim. Jika mereka bisa menunjukkan kepemimpinan yang baik, tentu para pemain lain akan mendengarkan mereka seraya berkata, “Aye, aye, captain!”

Komentar
Penggemar FC Bayern sejak mereka belum menjadi treble winners. Penulis buku Bayern, Kami Adalah Kami. Bram bisa disapa melalui akun twitter @brammykidz