Menengok Pembinaan Pemain Muda Melalui Bina Putra Jaya Cup

Pembinaan pemain muda bukan jadi bahasan utama di sepak bola kita. Persoalan mengenai kompetisi lebih menyita perhatian para pejabat PSSI hingga penikmat sepak bola. Sederhananya, pembinaan pemain muda jadi topik kesekian untuk diperbincangkan.

Itu kemudian berdampak pada minimnya perhatian pada pembinaan. Padahal dalam piramina pembinaan sepak bola, pembinaan di akar rumput pada anak-anak merupakan fondasi utama. Tidak akan ada prestasi di tingkat nasional dan internasional tanpa ada pembinaan yang berkelanjutan dan dikelola dengan baik.

Pemain bintang tak akan lahir begitu saja tanpa ada pembinaan. Tidak akan ada Evan Dimas lain apabila pembinaan pemain muda masih dianggap angin lalu oleh federasi atau oleh klub yang lebih suka mengambil pemain bintang dibanding membina pemain muda asal daerahnya sendiri.

Hal-hal seperti ini bukan keluhan lima atau sepuluh tahun lalu. Tapi, masih terdengar hari-hari ini. Setidaknya itu yang bisa penulis tangkap dari gelaran Bina Putra Jaya Cup 2016.

Kompetisi untuk kelompok usia (KU) 10 tahun ini merupakan gelaran untuk memperingati hari ulang tahun ke-16 SSB Bina Putra Jaya. Bertajuk Festival Sepak Bola, Bina Putra Jaya Cup “berhasil” mendatangkan berbagai SSB yang ada di Jawa.

Kedatangan peserta dari berbagai daerah ke Lapangan Kayen, Sleman, di satu sisi bagus dari segi antusiasme pada festival ini, tetapi di sisi lain merupakan tanda bahwa tidak banyak ajang serupa di daerah lain. Sesuatu yang diakui oleh penggiat sepak bola usia dini yang penulis temui selama 28 Oktober-30 Oktober 2016 di Lapangan Kayen.

Hanya berlatih tanpa melakukan latih tanding jelas membuat anak-anak bosan, mental tak terasah, dan teknik olah bola tak meningkat. Sayangnya memang tidak ada keinginan atau setidaknya tidak ada program dari PSSI untuk menggelar kompetisi usia dini yang ideal. Kalau pun ada event semacam ini, kebanyakan dilakukan di kota besar, yang tentu menyulitkan SSB dari kota kecil, karena butuh dana yang tidak sedikit hanya sekadar untuk ikut serta.

BACA JUGA:  Kegagalan Sepak Bola Kita, Apakah karena Kutukan atau Salah Urus?

Itu tadi baru menyangkut regularitas kompetisi yang diselenggarakan. Belum menyentuh format kompetisi. Karena selain regularitas, format yang tepat perlu dipikirkan masak-masak.

Terkait dengan format kompetisi ini, yang sering kita temui adalah sistem gugur. Jadi, format turnamen dikedepankan dengan alasan lebih murah secara operasional dan lebih hemat waktu.

Tapi, yang lebih menyesatkan adalah turnamen digelar hanya untuk memenuhi kewajiban dan semata untuk prestise. Gejala yang juga menjangkiti kompetisi yang digagas oleh pemerintah, mengedepankan efisiensi kompetisi bukan pada efektifitas kompetisi sebagai salah satu tahapan membina pemain muda.

Salah satu contoh nyata: Liga Pendidikan Indonesia yang mencari juara nasional dengan sistem yang jauh dari nilai-nilai pembinaan. Jumlah pertandingan yang sedikit dengan sistem gugur. Jika maju hingga ke tingkat provinsi dan nasional, pemain Anda harus punya fisik setangguh pemain yang berlaga di Liga Inggris karena bisa jadi dalam seminggu tim Anda memainkan lebih dari tiga pertandingan.

Oleh karena itu, ketika teman-teman Bina Putra Jaya melakukan audiensi dengan Fandom, salah satu pertanyaan yang muncul adalah terkait format ini. Di tengah keterbatasan, panita pelaksana coba memfasilitasi SSB yang ikut serta bermain sebanyak mungkin dan memberi kesempatan semua pemain untuk bertanding.

Masing-masing tim bertanding sebanyak 6 kali di babak grup. Jadi, seburuk apa pun SSB nya, meski selalu kalah, setidaknya akan berlaga 6 kali. Ini bagus untuk meningkatkan jam terbang.

Hanya saja, itu berarti dalam satu hari, mesti bermain 3 kali. Hal itu kemudian diikuti dengan regulasi yang mewajibkan semua tim memainkan semua pemain dalam satu pertandingan. Peraturan yang bisa dinilai secara positif untuk memberi semua pemain kesempatan dan mengurangi kelelahan karena bermain terus-menerus.

BACA JUGA:  Pemanasan Sebagai Bagian Utuh dan Terpadu dari Latihan

Dan tentu saja kedua aturan itu memberi pekerjaan tambahan bagi panitia: menyediakan tempat menginap bagi tim dari luar Yogyakarta. Di sini kemudian kita menemukan sinergi antara penggiat sepak bola dengan pemerintah. Pemerintah desa mendukung ajang ini salah satunya dengan memberi fasilitas seperti rumah atau balai padukuhan untuk digunakan.

Model kerjasama seperti ini tentu perlu didorong untuk diaplikasikan di tempat-tempat lain dan di level yang lebih tinggi. Alih-alih ikut mengurusi kompetisi dan klub profesional, pemerintah sebaiknya terlibat aktif dalam usaha melakukan pembinaan pemain muda. Sesuatu yang tidak populer tapi penting.

Dari teman-teman Bina Putra Jaya dan para peserta, saya belajar banyak tentang semangat untuk membina dan tahu bahwa persoalan yang sudah usang itu tak kunjung diselesaikan oleh mereka yang punya tanggung jawab.

Semoga catatan pendek ini dibaca oleh para calon ketua umum dan Exco PSSI, agar menempatkan pembinaan pemain muda sebagai salah satu program utama.

Para pemenang:

Juara 1: AMS Putih Sleman berhak atas trofi, piagam dari Asprov DIY, dan uang pembinaan 4,5 juta rupiah.

Runner-up: MAS Jogja berhak atas trofi, piagam dari Asprov DIY, dan uang pembinaan 3,5 juta rupiah.

Peringkat 3: Rantai Baja Purwodadi berhak atas trofi, piagam dari Asprov DIY, dan uang pembinaan 2,250 juta rupiah.

Peringkat 4: Tunas Tirta Solo berhak atas trofi dan uang pembinaan 1,5 juta rupiah.

Top Skor: Abhinaya Rasya Krisna dari MAS Jogja berhak atas trofi dan uang pembinaan 250 ribu rupiah.

 

 

Komentar
Sirajudin Hasbi
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.