Mengenang Kakek Mengenang Bonek dan Persebaya 

Mengenang kakek mengenang Bonek dan Persebaya
Mengenang kakek mengenang Bonek dan Persebaya

Tidak ada kebahagiaan yang menghinggapi bocah ketika memiliki halaman luas depan rumah selain menjadikannya sebagai sarana bermain. Salah satu kebahagiaan itu tentunya dengan bermain sepakbola. 

Memanggil beberapa kawan samping kanan-kiri dan depan-belakang rumah kemudian hompimpa hingga terbentuk dua kelompok. Bola plastik yang sudah gembos karena ditendang sana ditendang sini, kena duri tanaman, batuan tajam tetap saja asyik dimainkan. 

Kebahagiaan tiba-tiba sirna ketika bola plastik satu-satunya menghilang entah ke mana atau tiba-tiba laki-laki sudah tua meminta teman-temannya untuk bergegas pulang. Halaman jadi sepi, tak ada suara bola memantul ditendang, tidak lagi terdengar teriakan gol kemenangan atau luapan emosi kekalahan.  

Laki-laki itu adalah kakekku. Usianya ketika aku masih berusia 7 tahun kurang lebih 55 tahunan. Tidak terlalu suka kebisingan apalagi berisik atau keramaian yang ditimbulkan dari bocah-bocah yang sedang bermain. 

Ketika dilarang bermain bola, aku berpikir kakek tidak suka sepakbola. Karena setiap halaman depan rumah penuh bocah bermain bola, ia berusaha melarang. Sebagai bocah waktu itu, tentunya aku marah dan jengkel. Namanya cucu, sejengkel apa pun kalau minta uang selain ke orang tua ke mana lagi kalau tidak ke kakeknya. Ehehe. 

Tetapi anggapanku salah. Kakek memang tak suka bising bocah. Tetapi ia adalah penggila sepakbola. Hal ini aku ketahui ketika ia menikmati pertandingan Persebaya Surabaya. Bukan menonton di stadion atau televisi, tetapi mendengarkannya melalui radio di depan rumah. 

Waktu itu sekitar tahun 2000-an. Aku lupa tepatnya. Aku berlari ke depan rumah karena mendengar suara keramaian orang di mikrofone. Aku kira ada tontonan mendadak. 

Ternyata apa? Kakekku mendengarkan pertandingan Persebaya lewat radio dan menyalurkannya di speaker kecil depan rumah. Layaknya orang tahlilan atau dibaan yang disiarkan melalui speaker (kami biasa menyebut alat itu sebagai corong). Kakek malah menyalurkan suara keramaian stadion dan komentator bola lewat speaker itu.  

BACA JUGA:  Arema-Persebaya, Bukan Rivalitas Biasa

Aku berpikir mungkin kakek lupa, saat itu tetangga sudah memiliki televisi dan radio sudah mulai menjadi barang langkah. Tapi yang aku ingat hingga kini kakek adalah Bonek Mania. 

Persebaya yang lahir 92 tahun lalu memang tidak hanya menjadi kebanggaan kota Pahlawan tersebut. Tetapi juga menjadi kebanggaan beberapa kota di Jawa Timur, termasuk kotaku, Mojokerto, yang berada di sebelah barat Surabaya. 

Berbicara Bonek memang tidak ada habisnya. Ia bisa disebut sebagai suporter yang paling loyal. Bonek yang dikenal sebagai bondo nekat memang bukan main-main. Beberapa tetanggaku juga nekat nggandol trek (nebeng truk) agar bisa sampai ke Stadion Gelora 10 November, di kawasan Tambaksari. 

Hal saya juga pernah dilakukan oleh seorang anak dari Mojokerto yang kini menjadi pilar dari Persebaya, yakni Hansamu Yama Pranata. Hansamu dalam statusnya di akun instagram bercerita, 

Dari Bonek untuk Bonek
Bonek adalah masa lalu saya, saya pernah beratribut hijau lengkap dengan nebeng truk truk demi bisa mendukung langsung tim kebanggaan saya dan kebanggan mereka “bonek” yaitu Persebaya. Dan kali ini posisi saya berada di antara yg di dukung mereka, Bisa dibayangkan rasanya seperti apa?
Ingin sekali membayar tuntas perjuangan mereka untuk mendukung klub kebanggannya dengan mempersembahkan kemenangan demi kemenangan di setiap laga. 

“Saya paham dikala saya bermain ngeyel dan ngosek pasti kalian puji.
Dan begitupun sebaliknya, disaat saya bermain kurang ngeyel suatu saat nanti chantchant kesalmu ke saya akan berkumandang di stadion dan “PAIDOMU” akan memenuhi kolom komentarku.
Kesal? Pasti, tapi rasa bangga mengalahkan semuanya saat “SONG FOR PRIDE” kau nyanyikan di awal dan di akhir laga.
Terima kasih bonek, bangga pernah menjadi bagian darimu, mari sama sama berjuang demi kejayaan PERSEBAYA 🙂 💚🐊 #WANI
📽 : @officialarekbonekpersebaya 

BACA JUGA:  Kota Sepak Bola Itu Bernama Surabaya

Hansamu tidak sendiri. Ia bersama ratusan bahkan ribuan bonek yang melakukan hal yang sama untuk sampai di Surabaya demi mendukung tim kesayangannya.  

Kini, 92 tahun sudah tim kebanggaan warga Jawa Timur tersebut berdiri. Saya jadi tahu apa arti Bejo Sugiantoro, Anang Ma’ruf, Jacksen F. Tiago, dan pemain-pemain sebelumnya yang saya tidak tahu adalah idola anak-anak kampung sekitar rumah saya, termasuk kakek saya yang sudah wafat sejak 12 tahun lalu. Mengenang kakek berarti juga mengenangnya sebagai bonek yang berarti mengenang Persebaya juga.  

Selamat Ulang Tahun Persebaya, tetap lah jadi kebanggaan. 

Komentar
Penulis merupakan mahasiswa yang baru menyelesaikan studinya di jurusan Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menjadi fans Chelsea sejak kecil dan timnas Indonesia. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @kakdhoh