Menilai Keberhasilan Rebranding Tahun Kedua Indian Super League

Ketika sepak bola di Indonesia saat ini tengah stagnan dan cenderung dekaden, hal ini justru berbanding terbalik dengan sepak bola di India.

Perlu diakui sepak bola bukanlah cabang olahraga populer di India. Mayoritas warga bekas negara jajahan Inggris ini lebih menyenangi kriket. Hal ini adalah sebuah kewajaran, sebab hampir setiap stasiun televisi di sana, secara masif menayangkan olahraga tersebut baik secara live, maupun tunda.

Tak ketinggalan perihal ulasan, highlight sampai gosip pemain di luar lapangan dikemas seperti layaknya tayangan One Stop Football di Trans7. Maka sangat wajar apabila atlet kriket memiliki popularitas setara dengan artis Bollywood di negara yang memiliki jumlah penduduk sebanyak 1,252 miliar ini.

Meski sepak bola memiliki popularitas jauh di bawah kriket, namun All India Football Federation (AIFF)‒yang merupakan PSSI-nya India ini tidak diam di tempat. Bersama pemeritah, mereka bahu membahu untuk membenahi guna memasyarakatkan sepak bola di India.

Dengan mengikat kerja sama jangka panjang dengan IMG-Reliance serta beberapa sponsor lainnya sejak tahun 2010 lalu, sepak bola di India tengah memasuki era rebranding, di mana tata kelola sepak bola di negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar nomor dua di dunia ini tengah diperbaiki secara masif.

Perbaikan utamanya dari sisi komersial seperti iklan, siaran televisi, merchandise, dll. Puncaknya adalah membuat sebuah liga mandiri yang tidak terafiliasi bernama Indian Super League (ISL).

Melalui ISL yang diurus secara profesional, diharapkan sepak bola india ini bisa menjadi “pacar” yang mampu membuat warga India menjadi sayang dan selalu kangen dengan kehadiran sepak bola. ISL sendiri merupakan terobosan di mana sepak bola di India dikemas sebagai tayangan yang menghibur dan layak tonton ala film Bollywood yang begitu mendunia dan berpengaruh di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

ISL sendiri saat ini sudah menyelesaikan musim kedua mereka. Kompetisi yang diisi oleh delapan klub ini telah melahirkan dua juara yang berbeda, yakni Atlético de Kolkata pada tahun 2014 dan Chennaiyin di tahun 2015.

Menilik ISL yang sudah berjalan selama dua musim ini, dapat dikatakan AIFF telah sukses dalam proses rebranding sepak bola India. Misalnya saja, seperti yang dikutip dari Indiatimes, tayangan ISL pada musim 2015 naik 26% dari musim lalu.

Selain itu rata-rata penonton yang datang menyaksikan pertandingan secara langsung di stadion memiliki rata-rata penonton sebanyak 27.090 pasang mata. Hal ini membuat ISL menjelma sebagai tayangan tertinggi di dunia nomor tiga setelah Bundesliga Jerman dan Liga Primer Inggris.

Hal tersebut menjadi sangat wajar, sebab salah satu tim ISL, yakni Atletico de Kolkata yang bermarkas di Salt Lake Stadium ini bahkan memiliki rata-rata penonton sebanyak 45.171 penonton setiap kali tim satelit Atletico de Madrid ini bermain.

Kemajuan ini sedikit banyak dipengaruhi karena adanya mantan pemain top Eropa  yang bermain di klub ISL. Mencontek konsep marquee signing yang diterapkan Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat, ISL berani jor-joran mendatangkan mantan pemain bintang di Eropa, bahkan beberapa di antaranya pemain yang sudah memutuskan pensiun, kembali hadir bermain layaknya pemain di game Pro Evolution Soccer (PES).

BACA JUGA:  Melihat Perkembangan RCD Espanyol Setelah Dikuasai Chen Yangsheng

Pada musim pertama misalnya, pemain-pemain tenar seperti Luis Garcia, Elano, Alessandro Del Piero, Robert Pires, David Trezeguet, David James, Fredrik Ljungberg, Joan Capdevilla, dan Marco Materazzi turut serta dalam proyek ini.

Sementara pada musim kedua, terdapat nama-nama yang tak kalah beken, sebut saja Helder Postiga, Lucio, Marchenna, Simao Sabrosa, dan Adrian Mutu serta beberapa pemain yang didatangkan sejak awal kompetisi 2014 seperti Elano dan Marco Materazzi menambah semarak kompetisi yang diadakan selama tiga bulan ini.

Selain itu beberapa pemain top India yang sebelumnya tidak tertarik mengikuti ISL pada akhirnya ikut bergabung. Sebut saja duo Bengaluru FC, yakni Sunil Chhetri‒yang merupakan Bambang Pamungkas-nya India dan Robin Singh ikut main di ISL dengan status pemain pinjaman.

Mendatangkan pemain top Eropa maupun asli India ini pastilah membutuhkan dana yang cukup besar. Namun hal ini tak jadi masalah besar. Menerapkan franchise, sistem liga tanpa degradasi ataupun promosi, dan juga prospek perputaran uang dan keuntungan yang besar,  membuat sejumlah artis, mantan atlet kriket dan pengusaha berlomba-lomba menjadi pemilik delapan klub ISL.

Misalnya saja, klub juara ISL 2015, Chennaiyin FC dimiliki oleh pemain timnas Kriket, Mahendra Singh Dhoni dan artis beken India, Abhishek Bachchan. Selain itu ada nama Ranbir Kapoor, aktor tampan asal India yang mengakuisisi Mumbai City FC.

Aktor lainnya yang ikut serta menjadi pemilik klub adalah John Abraham, pemilik Northeast United dan mega bintang Salman Khan, menjadi pemilik sah Pune City (Walau pada akhirnya diakuisisi oleh Hrithik Roshan, artis India lainnya).

Tak hanya artis ataupun atlet kriket saja yang ikut memeriahkan ISL. Venugopal Dhoot yang merupakan pebisnis dan juga salah satu orang terkaya di India ikut project ISL sebagai pemilik FC GOA. Selain itu, pebisnis lain yang ikut adalah Prasad V Potluri yang mengajak serta legenda kriket India Sachin Tendulkar untuk mendirikan Kerala Blaster.

Selain itu, ada juga yang merupakan corporate social responsibility (CSR) perusahaan, misalnya saja Delhi Dynamos FC yang dimiliki oleh perusahaan DEN TV Networks. Sedangkan Atletico de Kolkata merupakan milik Atletico Madrid atau dapat dikatakan klub ini adalah cabang Atletico Madrid sekaligus untuk mengenalkan klub tersebut  di India.

Selain faktor di atas, perlu diakui bahwa keberhasilan ISL adalah berkat bantuan media sosial. Misalnya, tampilan situsweb resmi ISL yang beralamat di http://www.indiansuperleague.com ini sangat eye catching dan serba ada.  Hampir seluruh informasi yang kita butuhkan, tersedia di sana. Mulai dari berita, jadwal dan hasil pertandingan, profil klub, pemain, hingga fanzone.

Bahkan akun resmi media sosial mereka juga serupa. Selain aktif menyajikan berita, mereka juga sering mengadakan kuis. Hal ini pun diikuti oleh akun media sosial klub-klub peserta ISL. Bahkan masing-masing klub juga memiliki situsweb yang tak kalah canggih dengan milik operator liga.

BACA JUGA:  Sheriff Tiraspol: Jawara dari Kultur Timur Sungai Dniester

Kesuksesan ISL sendiri telah membuat mata pengurus AIFF terbuka. Ke depan, mereka pun berencana untuk menggabungkan ISL dengan I-league menjadi satu liga yang diisi oleh sekitar 14 atau 15 tim.

Tak seperti ISL yang baru lahir tahun 2014 lalu, I-League sudah ada sejak tahun 2007. Namun kompetisi profesional pertama India ini kurang begitu menjual dan seringkali dilanda masalah keuangan. Untuk itulah pengggabungan adalah solusi terbaik.

Saat ini satu-satunya liga yang diakui AFC adalah I-League. Sementara ISL sendiri merupakan kompetisi tidak resmi.

Diharapkan dengan adanya merger, lahirlah win-win solution bagi kedua liga ini. klub I-League dapat “ketularan” euforia yang dimiliki oleh klub-klub di ISL, terutama dalam perihal manajerial klub yang bermuara pada keuntungan finansial klub. Selain itu, tim-tim ISL yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan tampil di kompetisi kontinental pada akhirnya bisa menunjukan prestasi mereka di kancah internasional.

Apa pun itu, proses rebranding sepak bola pastilah pada akhirnya adalah perihal tentang prestasi tim nasional. Sampai artikel ini ditulis (red: 29/12), peringkat FIFA India masih berada di 166 dunia. Hal ini tentulah masih jauh dari harapan dari semangat untuk rebranding sepak bola di India sendiri.

Namun perlu diketahui bersama, memang tidak mudah mengubah sesuatu dengan sekejap saja. Langkah yang dilakukan federasi sepak bola di India saat ini hanyalah semacam booster untuk mempercepat revolusi sepak bola mereka.

Namun tanda-tanda perubahan sudah mulai terasa. Hal ini dapat dilihat pada keikutsertaan India di ajang SAFF (kejuaraan antarnegara Asia Selatan) kali ini. Berstatus sebagai tuan rumah, India tampil beda.

Selain banyak menggunakan pemain yang bermain di ISL, pemain-pemain yang dipanggil ke timnas juga memiliki rata-rata usia yang cukup muda, yakni 25 tahun. Nama Lallianzuala Chhangte bahkan baru berusia 18 tahun!

Tak hanya itu, India pun menjadi tim pertama yang lolos ke semifinal SAFF dengan tampil brilian. Di laga pertama India mampu mengalahkan Srilanka dengan skor akhir 2-0 lewat gol Robin Singh yang bermain bagi Delhi Dynamos, salah satu klub ISL.

Lalu di pertandingan kedua, India pesta gol melawan Nepal. Skor 4-1 menutup pertandingan yang diselenggarakan di Trivandrum International Stadium. Wonderkids India,  Lallianzuala Chhangte dalam pertandingan tersebut memecahkan dua rekor, yakni pemain termuda dan pencetak gol termuda yang pernah dimiliki India.

Setidaknya dari dua pertandingan tersebut dapat kita saksikan bahwa India memang tengah berbenah besar-besaran. Selain itu ajang SAFF kali ini dapat dijadikan tonggak kebangkitan sepak bola India di mana terakhir kali mereka memenangkan turnamen tersebut pada tahun 2011 lalu. Selanjutnya India akan mulai menatap Asia.

 

Komentar
Penjaga gawang @id_fm yang jadi idaman setiap calon mertua. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @handyfernandy.