Model 50+1: Upaya Menjaga Keberadaan Fans Sebagai Pusat dari Klub Bundesliga

Di dalam bukunya, Soccernomics, duo Simon Kuper dan Stefan Szymanski mengeluarkan serentetan argumentasi yang berujung pada kesimpulan bahwa sepak bola bukanlah sebuah bisnis besar, bukan pula bisnis yang baik. Pada salah satu bab di buku tersebut, The Worst Business in the World: Why Soccer Clubs Don’t (and Shouldn’t) Make Money, keduanya mengangkat contoh bagaimana klub-klub terkaya di “industri sepak bola”, pemasukannya masih jauh tertinggal dari United Natural Foods, sebuah perusahaan yang bahkan belum mampu menembus daftar 500 perusahaan terkaya di Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, mereka juga mengutip analis finansial Finlandia, Matias Möttöla, yang menyatakan bahwa dari sisi revenue, klub sebesar Real Madrid pun hanya akan menjadi perusahaan terbesar nomor 120 di Finlandia (negara dengan populasi penduduk sekitar 5,4 juta orang).

Oleh karenanya, kedua penulis tersebut menyarankan agar klub-klub sepak bola sadar diri. Sadar bahwa mereka itu bukan perusahaan yang tujuan utamanya adalah menghasilkan laba sebesar-besarnya. Mereka justru lebih mirip seperti museum: organisasi dengan spirit kebersamaan yang bertujuan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat (dalam hal ini: fans) sambil sewajarnya menjaga kondisi keuangan organisasi.

Klub-klub di Bundesliga sejatinya masih berupaya menjaga spirit seperti yang disampaikan Kuper dan Szymanski. Sebelum tahun 1998, klub-klub di Jerman terdaftar sebagai organisasi publik yang lebih bersifat non-profit. Baru di tahun 1998, ada sedikit pergeseran. Investor diperbolehkan masuk namun tetap tidak bisa menjadi kekuatan terbesar. Model kepemilikan ini dikenal dengan istilah: 50+1. Melalui kebijakan tersebut, kendali dalam sebuah klub masih akan dipegang oleh setidaknya 51% dari anggota klub tersebut. Meski demikian, ada dua perkecualian dalam hal ini, yaitu untuk Leverkusen dan Wolfsburg. Kedua klub ini sejak awal berdirinya memang melekat dengan perusahaan, Bayer dan Volkswagen.

Pada tahun 2009, Martin Kind, Presiden dari Hannover 96 mengajukan usulan untuk mengubah kebijakan 50+1. Namun upayanya gagal setelah 32 dari 36 klub Bundesliga dan Bundesliga II sepakat untuk terus menjadikan anggota klub sebagai pemegang kekuasaan mayoritas di klub. Lebih dari 100.000 fans dari berbagai klub juga ambil bagian dengan menandatangani petisi yang digalang oleh kelompok suporter, Unsere Kurve, untuk tetap mempertahankan aturan 50+1. Meski demikian, Kind berhasil meloloskan sebuah klausul yang menyatakan bahwa seseorang atau perusahaan yang mendukung sebuah klub selama 20 tahun berturut-turut dapat ditetapkan menjadi pemilik klub. Dengan celah kecil ini, Hoffenheim dan Hannover sendiri dalam waktu dekat bisa membebaskan diri dari aturan 50+1.

BACA JUGA:  Menghilangnya Kepulan Asap Rokok di Lapangan Hijau: Dilematisasi Pematuhan terhadap Peraturan dan Kucuran Dana Menggiurkan

Dengan pola kepemilikan seperti ini, tak heran jika klub-klub Bundesliga masih bisa menghasilkan sejumlah kebijakan “pro rakyat”. Salah satu yang paling terkenal adalah harga tiket pertandingan yang (jauh) lebih murah dibandingkan dengan beberapa liga-liga top Eropa lainnya. Musim ini, harga season ticket klub promosi Darmstadt adalah €240. Angka tersebut merupakan yang tertinggi di Bundesliga. Sementara yang termurah disediakan oleh Bayern Munchen (€140) dan Vfl Wolfsburg (€130). Bandingkan dengan Arsenal yang mematok harga termurah di angka €1461.

Contoh lebih dramatis bisa diambil dari musim 2012/2013. Ketika pendukung Bayern hanya perlu merogoh kocek sebesar £200 untuk season ticket dan pada akhir musim terpuaskan dengan gelar treble winners, fans Queens Park Rangers harus membayar £739 untuk akhirnya menyaksikan klubnya terdegradasi.

Meski demikian, pada musim ini harga tiket untuk pendukung away team mengalami kenaikan di beberapa tempat. Sejumlah klub menerapkan pola Topspielzuschläge, yaitu mengenakan biaya tambahan dari harga normal yang jumlahnya didasarkan pada daya tarik klub tamu. Semakin mentereng away team yang akan berkunjung dan potensial untuk membuat tiket pertandingan sold-out, semakin tinggi biaya tambahan yang dikenakan. Salah satu kelompok suporter lintas klub, Kein Zwanni (“No €20”) menjadi salah satu perwakilan garis depan fans untuk melakukan negosiasi dengan klub-klub Bundesliga jika ada keputusan menyangkut harga tiket yang melewati batas kewajaran. Jika negosiasi tak berhasil, boikot adalah langkah selanjutnya. Kein Zwanni sendiri awalnya dimotori oleh fans Dortmund dan berdiri sejak tahun 2010, sebagai dampak dari harga tiket Revierderby (Schalke vs Dortmund) yang melebihi angka €20.

fans
Gary Calton/Gary Calton

Dampak dari kebijakan harga tiket yang tergolong reasonable tersebut membuat Bundesliga menjadi liga yang secara rata-rata paling banyak dibanjiri penonton. Pada musim 2012/2013, rata-rata penonton di setiap pertandingan Bundesliga adalah 41.914 orang. Pada musim selanjutnya, angka tersebut meningkat lagi menjadi sebesar 42,609 orang per pertandingan dengan occupancy rate di atas 90%. Premier League berada di posisi kedua dengan rata-rata 36,695. Bagaimana dengan La Liga dan Serie-A? Wah, jauh sekali di bawahnya, sampai kurang enak rasanya untuk dituliskan.

BACA JUGA:  3 Transfer Unik di Liga Inggris

Adanya relasi yang saling menguntungkan antara fans dan klub disebut Hans-Joachim Watzke, CEO Dortmund, sebagai inti budaya sepak bola Jerman. “Kami ingin agar semua pendukung merasakan bahwa klub ini adalah milik mereka dan bukan klub Qatar atau Abu Dhabi. Saya sendiri pernah merasakan 20 tahun mendukung langsung di tribun penonton.”

Hebatnya lagi, meski mayoritas saham tidak dikuasai investor eksternal berkocek tebal, bukan berarti klub-klub Bundesliga tidak sehat secara keuangan. Malah sebaliknya. Dari data yang dirilis Brand Finance pada Mei 2013 dapat terlihat bahwa 14 klub Bundesliga tetap bisa menghasilkan profit di akhir tahun, dengan total keseluruhan mencapai €55 juta. Sementara itu, pada periode yang sama, total kerugian klub-klub EPL mencapai €245 juta. Salah satu strategi pengendalian biaya yang dilakukan adalah menyangkut total wages/revenue ratio. Klub-klub Bundesliga, berdasarkan laporan Deloitte bulan Juni 2015, menjaga rasio di angka 49%. Sedangkan di Inggris, Spanyol dan Italia, berada di kisaran 58-70%. Masih dari laporan yang sama, revenue Bundesliga dikabarkan meningkat 13% dengan total sejumlah €2.3 miliar, hanya kalah dari Premier League. Ini adalah tahun kedelapan secara berturut-turut Bundesliga mengalami peningkatan revenue.

Di tengah kehadiran para sugar daddy di industri sepak bola yang siap menggelontorkan dana besar untuk investasi, klub-klub Bundesliga masih mampu bertahan dengan tetap fokus menjaga inti dari keberadaan mereka sendiri, yaitu para fans. Sebagaimana pernah diungkapkan Uli Hoeness beberapa tahun silam: “We could charge more than £104. Let’s say we charged £300. We’d get £2m more in income, but what is £2m to us? We do not think the fans are like cows who you milk. Football has got to be for everybody. That’s the biggest difference between us and England.

Ah, padahal selama ini saya kira perbedaan terbesar sepak bola Jerman dan Inggris adalah total jumlah trofi Piala Dunia dan Piala Eropa.

 

Komentar
Penggemar FC Bayern sejak mereka belum menjadi treble winners. Penulis buku Bayern, Kami Adalah Kami. Bram bisa disapa melalui akun twitter @brammykidz