Nakhoda Baru dan Harapan dari Aceh

Indonesia adalah negara yang luas dengan sepak bola masih menjadi salah satu cabang olahraga yang paling dipuja. Sekalipun memang prestasinya sedikit banyak membuat kita mengelus dada.

Jika merujuk pada pembagian wilayah waktu, Indonesia dibagi tiga bagian; barat, tengah, dan timur. Dari ketiga wilayah tersebut, boleh dikatakan bahwa peta kekuatan sepak bola Indonesia hari ini belumlah sepenuhnya merata, jika tak ingin dikatakan timpang.

Tentu, banyak faktor yang menjadi sebab musababnya, sehingga peta kekuatan sepak bola kita relatif hegemoninya dikuasai wilayah tertentu. Pulau Jawa, Kalimantan, juga Papua masih dominan di liga Indonesia.

Sedangkan Sumatera hanya terpusat pada dua daerah, Palembang dengan hanya Sriwijaya FC dan Sumatera Barat dengan Semen Padang. Sedangkan Sumatera Utara dengan PSMS Medan-nya yang pernah berjaya di masa lalu dengan tiga kali meraih juara Perserikatan, sekarang, sedang tidak dalam kondisi yang baik.

Bila bergeser nun jauh ke paling ujung, Provinsi Aceh, kondisi persepakbolaanya sedang tidak dalam kondisi menggembirakan. Khususnya untuk level klub professional.

Tidak ada satu klub pun dari tanah rencong yang berkiprah di level kasta tertinggi sepak bola Indonesia.  Paling banter hanyalah Persiraja Banda Aceh yang sedang berlaga di 16 besar ISC B, setelah sebelumnya menjadi juara grup pada putaran pertama.

Sayangnya sudah dipastikan Persiraja kiprahnya hanya mentok di 16 besar. Salah satu faktornya adalah kehabisan bensin di tengah jalan; tidak ada dana untuk operasional dan masalah klasik, gaji pemain tertunggak.

Berharap ada satu saja klub dari bumi Serambi Mekkah berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia rasa-rasanya semacam punguk merindukan bulan. Mungkin ia pesimis, tetapi, terlalu kompleks persoalan sepak bola Aceh di level klub. Butuh perhatian yang serius dari semua kalangan, khususnya rezim baru PSSI kali ini.

Kenapa seakan sepak bola Aceh susah berkembang dan terkesan terus saja mentok? Tentu ragam jawabanya. Hanya saja, yang paling krusial mengapa sepak bola di ujung barat Indonesia tidak berkembang adalah minimnya dana akibat minimnya sponsor.

BACA JUGA:  Sepenggal Cerita Kompetisi Perserikatan Tahun 1931 (Bagian Kedua)

Setelah lahirnya kebijakan klub sepak bola tidak bisa lagi menghidupi dirinya dari APBD, klub di berbagai daerah yang tidak mapan rata-rata mangkrak. Di lain sisi, di Aceh khususnya, tidak banyak perusahaan besar, bahkan keberadaannya bisa dihitung dengan jari.

Jadi, untuk menghidupi klub agar bisa bergerak dan tumbuh amatlah sulit. Mengandalkan bonus dari satu dua tokoh hanya bertahan sekejap saja, tidak bisa untuk jangka panjang. Hal inilah yang disinyalir menjadi akar permasalahan mengapa sepak bola di Aceh sulit bersaing di tingkat nasional.

Tentu kondisi seperti ini beda jika dibandingkan wilayah pulau Jawa yang relatif memiliki banyak perusahaan berskala besar. Adanya alternatif pendanaan menjadi sebuah bahan bakar untuk menggerakan klub. Di era sepak bola modern, sponsor menjadi hal penting yang tidak bisa dinafikkan.

Terlepas dari itu, sesungguhnya Aceh merupakan sebuah daerah yang pontensial untuk melahirkan pemain bagus. Pembinaan pemain bola Aceh cenderung berjalan dengan bagus.

Pada tahun 2008, pemerintah Aceh menggolontorkan dana 45 Miliar guna membina 30 putra terbaik Aceh ke Paraguay untuk menimba ilmu sepak bola serta menambah jam terbang guna mengasah kemampuannya.

Hasilnya terbilang bagus. Saat masih di Paraguay, beberapa di antaranya telah memperkuat klub baik itu yang berlaga di Primera Division, Division Intermedia, Primera de Ascenso dan Segunda Ascenso.

Sedangkan di tanah air, ada yang mulai memperkuat klub ternama Indonesia. Sebut saja Syahrizal dan Zikri Akbar yang sekarang sedang memperkuat Mitra Kukar.

Di level lainya, PPLP dan Piala Danone, Aceh masih mampu berbicara banyak. Dua tahun beruntun (2015-2016) tim PPLP Aceh keluar sebagai juara, setelah di final mengalahkan Jawa Tengah, lawan yang sama, selama dua episode final.

Di ajang Piala Danone, tahun 2012 SSB Putra Muara Cunda, Aceh mewakili Indonesia ke Warsawa, Polandia. Setelah sebelumnya menjadi juara utama di tingkat nasional.

Sederet fakta tersebut menunjukkan bahwa Aceh sebetulnya punya modal yang cukup baik untuk melahirkan pemain top yang mampu membawa klub daerah kembali berlaga di kasta tertinggi liga Indonesia.

BACA JUGA:  Perlukah Mengambil Lisensi Kepelatihan untuk Menulis Sepak Bola?

Namun apa dinyana, kondisi klub yang tidak sehat sebagaimana telah disinggung, segalanya menjadi percuma. Sekalipun Aceh memiliki klub seperti PSAP Sigli, PSLS Lhokseumawe, hingga Persiraja apabila hanya mengandalkan nekad dan semangat tanpa modal yang kuat tidaklah cukup untuk sekadar mengarungi semusim kompetisi.

Untuk itu, terpilihnya Bapak Edy Rahmayadi sebagai Ketua Umum PSSI yang baru periode 2016-2020, besar harapan kami kiranya dapat mengeluarkan kebijakan yang lebih mengedepankan keadilan serta mendobrak kebuntuan permasalahan klasik “minimnya dana”, khususnya untuk wilayah Indonesia yang tidak memiliki perusahaan besar yang potensial bisa mensponsori sebuah klub.

Entah kemudian berupa kebijakan ataupun berupa insentif yang diatur sedemikian rupa guna terciptanya pemerataan peta persepakbolaan Indonesia. Ini tidak hanya untuk Aceh, tapi untuk Indonesia, karena jika sepak bola tiap daerah berkembang maka akan banyak pemain muda berbakat yang dilahirkan dan industri sepak bola semakin menggeliat.

Harapan ini, tentunya tidak hanya untuk Aceh semata, namun, juga mewakili daerah lainnya, yang memiliki permasalahan serupa. Sehingga dengan adanya gebrakan dan perhatian, kita dapat menyaksikan setiap wilayah memiliki wakilnya di kancah tertinggi pesepakbolaan Indonesia.

Karena, tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan menyaksikan kesebelasan daerah sendiri yang sedang berlaga dan disiarkan televisi. Sebab, menikmati sepak bola tidak hanya tentang cinta dan fanatisme semata, namun, lebih jauh, sepak bola juga menyediakan ruang keadilan yang bisa saja dibaca dengan asas pemerataan

Lebih dari itu, tidak ada yang lebih melegakan bagi seorang penikmat sepak bola dengan selalu memeluk etno-nasionalisme klub daerah masing-masing, selain dapat menyuarakan keinginan dalam bait-bait harapan agar kiranya dapat menjadi pertimbangan.

Jikapun tidak, setidaknya, berteriak tetang sepak bola tidak hanya saat gol dicetak dan kesebelasan menang, atau, melengking pekik di saat tim yang kita puja kalah. Akan tetapi, selalu ada ruang dan dimensi lain untuk sekadar berbisik, bersuara, bahkan berteriak namun senyap sekalipun.

Selamat bertugas jenderal!

 

Komentar
Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembagunan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Seorang Liverpudlian. Menulis adalah bagian daripada modus mengisi kesepian. Lelaki kurus yang percaya kelak tubuhnya akan ideal. Pencinta buku dan penikmat kopi.