Park Ji-Sung: Big Game Player Andalan Ferguson

Jika bertanya mengenai pemain Asia dengan karier paling sukses di Eropa, nama Park Ji-Sung paling mungkin terlontar. Di Belanda, ia memperoleh dua trofi Liga Belanda, serta Piala Liga dan Piala Super masing–masing sekali ketika masih berseragam PSV Eindhoven.

Kesuksesanya melejit kala menyebrang Laut Utara. Di Inggris, ia menggondol empat gelar Liga Primer, tiga kali menang Piala Liga, satu trofi Liga Champions serta juara di Piala Dunia Antarklub bersama Manchester United.

Meski begitu, ketika bermain dengan Setan Merah, ia seringkali dianggap pemain yang underrated dan kurang mendapatkan apresiasi. Mungkin karena perannya tidak sebesar Wayne Rooney atau menit bermainnya yang tidak sebanyak Michael Carrick.

Namun, penampilan Park selama tujuh musim di Old Trafford seharusnya layak untuk mendapatkan pujian lebih. Ia adalah big games player yang dimiliki Sir Alex Ferguson. Pemain kelahiran Korea Selatan itu acap kali menjadi andalan kala menghadapi tim-tim besar.

Tak berlebihan rasanya menjuluki Park dengan label tersebut. Pasalnya 9 dari 27 gol yang cetak bersama tim yang berkandang di Old Trafford itu bersarang di jala klub The Big Four, yakni Arsenal, Chelsea, dan Liverpool.

Kiper Liverpool dan Chelsea masing-masing dua kali memungut bola dari gawang mereka. Ia adalah biang kerok yang membuat The Blues tersingkir pada leg kedua perempat final Liga Champions 2010/2011.

Sementara itu, Meriam London merupakan yang paling sering jadi korban Park dengan catatan lima gol. Tentu saja ia ikut menjadi aktor saat menggilas Arsenal dengan skor 8-2, hasil akhir yang selamanya akan menjadi bahan olok-olok fans United kepada publik Stadion Emirates.

Semusim sebelum itu, Park juga pernah memenangkan Setan Merah atas Arsenal dengan gol tunggalnya. Namun, penampilan terbaik pemain kelahiran 1981 itu ketika melawan The Gunners justru hadir saat membantu mengantar United ke final Liga Champions.

Kala itu, Setan Merah datang ke London dengan berbekal kemenagan tipis 1-0 di leg pertama. Laga baru berjalan 8 menit, Park yang membukukan namanya di papan skor setelah memanfaatkan Kieran Gibbs yang terpleset dan gagal memotong bola.

BACA JUGA:  Impresi Edouard Mendy di Stamford Bridge

Gol pembuka yang ia ciptakan membuat rekan-rekannya semakin terpacu untuk menambah angka. Bahkan, pertandingan itu bisa dikatakan sebagai salah satu penampilan terbaik Park bersama United.

Pada laga yang berkesudahan dengan skor 1-3 untuk kemenangan tim tau tersebut, Park dimainkan di lini depan. Ketika itu, Ferguson menyingkirkan Carlos Tevez maupun Dimitar Berbatov demi memasangnya bersama Rooney dan Cristiano Ronaldo sebagai trisula.

Kepercayaan yang diberikan dibayar tuntas oleh Park. Kombinasinya bersama duet Ro-Ro tersebut kembali menunjukkan kengerian mereka setelah sejam laga berjalan.

Melalui skema serangan balik cepat trio tersebut benar-benar membuat pertahanan Arsenal yang digalang Kolo Toure kewalahan. Hasilnya, Ronaldo sekali lagi menceploskan bola ke gawang Manuel Almunia setelah sebelumnya melakukan kerjasama dengan Park dan Rooney.

Satu lagi kenangan tentang Park yang hadir tatkala berseragam Setan Merah justru bukan soal mencetak gol. Namun, ketika ia menemani Andrea Pirlo selama 180 menit pada 16 besar Liga Champions 2009/2010. Pada saat itulah orang-orang mulai berimajinasi soal paru-paru ketiganya.

Mengetahui bahwa Pirlo merupakan kunci dari serangan AC Milan, Ferguson memberikan tugas man-to-man marking kepada Park. Strategi itu berhasil mematikan I Rossoneri pada kedua leg. Bahkan dalam otobiografinya Pirlo mengatakan bahwa Park merupakan orang super.

“Pemain tengah itu pastilah orang Korea bertenaga nuklir pertama dalam sejarah, karean larinya secepat elektron. Ia (Park) bergerak bolak-balik,” ujar Pirlo.

Park sebenarnya juga bertugas membantu serangan ―dan mencetak satu gol pada leg kedua. Oleh karena itu, ia berlari ke sana-kemari. Andai fase menyerang United gagal, ia akan kembali berada di sisi Pirlo. Memberikan belaian intimidatif agar kehadirannya terasa oleh gelandang Italia itu.

BACA JUGA:  Membela David de Gea

“Kesetiaannya (Park) melaksanakan tugas hampir membuat saya tersentuh. Walaupun ia sudah menjadi pemain terkenal, ia rela diplot menjadi seekor anjing penjaga, rela membatasi potensinya.” imbuh Pirlo jengkel.

Puja-puji. Itulah yang layak didapatkan oleh Park selama di Old Trafford. Pihak klub sendiri sekarang mengapresiasinya dengan jabatan brand ambassador. Walaupun, harus diakui bahwa kegemilangannya saat masih bermain sudah terlebih dulu mengiklankan United ke pasar Asia.

Komentar
Seorang fans sepakbola yang sedang merindukan football marathon saat akhir pekan. Biasa berkicau di akun twitter @Idho09.