Pat Nevin Sang Pesepak Bola Hipster

Beberapa waktu yang lalu, sempat muncul satu berita soal David De Gea yang merasa tidak cocok dengan lagu-lagu di ruang ganti Manchester United. Ashley Young yang didapuk menjadi disc jockey (DJ) ruang ganti Setan Merah lebih suka memutar lagu-lagu hip-hop, dan rupanya mayoritas penggawa Manchester United pun merasa cocok dengan lagu-lagu pilihan Young tersebut.

Namun, tidak demikian dengan De Gea. Ia, bersama kompatriotnya, Victor Valdes, adalah penggemar musik keras. Jika Valdes adalah penggemar band-band rock lawas macam AC/DC dan Guns ‘N Roses, maka De Gea adalah pendengar setia musik metal di mana Avenged Sevenfold, Slipknot, dan Metallica menjadi beberapa band favoritnya.

Dari era sebelumnya, Mehmet Scholl, ekspengatur serangan FC Bayern dan timnas Jerman juga memiliki selera tersendiri soal musik. Pria berdarah Turki ini bahkan memiliki dua buah mixtape [rekaman kompilasi buatan sendiri] yang setia menemaninya, baik itu sebelum dan sesudah pertandingan, maupun ketika dalam perjalanan dari dan ke stadion. Dua album kompilasi ini bahkan bisa didapatkan lewat situs web Amazon.

Mixtape pertama di antaranya berisi lagu-lagu dari Jimmy Eat World, Placebo, dan Stereophonics. Sementara itu, Oasis, Black Rebel Motorcycle Club, dan The Flaming Lips menjadi beberapa band penghuni mixtape kedua

Kedua mixtape ini diberi judul “Mehmet Scholl kompiliert – Vor dem Spiel ist nach dem Spiel”. Judul mixtape ini merujuk pada pernyataan Sepp Herberger yang berbunyi “nach dem Spiel ist vor dem Spiel”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, pernyataan ini berarti “after the game is before the game”.

Mundur lagi ke era yang lebih jauh, muncullah nama Pat Nevin. Bagi yang belum merasa familiar dengan nama ini, ia adalah salah satu cult hero Chelsea dari dekade 1980-an.

Pria kelahiran Glasgow tersebut dulunya berposisi sebagai pemain sayap. Perawakannya yang kecil membuatnya dijuluki Wee Pat (Pat Kecil) oleh para pendukung Chelsea. Penampilan cemerlangnya bersama The Blues akhirnya membawa Nevin ke Everton yang kala itu sedang dalam masa kejayaan.

Sejak masih belia dulu, Nevin, pria kelahiran Glasgow 52 tahun silam ini memang dikenal sebagai penggila musik, khususnya musik indie. Dalam majalah FourFourTwo Inggris edisi Januari 2016, ia menyebutkan empat album yang sering ia gunakan kala ia didapuk menjadi DJ: “Boy With The Arab Strap” dari Belle and Sebastian, “Babies” dari Pulp, “Young Adult Friction” dari The Pains of Being Pure At Heart, dan “Spitfire” dari Public Service Broadcasting.

BACA JUGA:  Jose Mourinho dan Kestabilan Psike

Empat album “tidak terkenal” tersebut menunjukkan bahwa referensi musik Nevin sangatlah kaya. Ia mendengarkan dan menyukai beragam jenis musik, mulai dari Britpop (Pulp), Indie Pop (Belle and Sebastian & The Pains of Being Pure at Heart), hingga musik elektronik (Public Service Broadcasting).

Salah satu cerita legendaris tentang kecintaan Pat Nevin terhadap musik terjadi kala ia memperkuat Chelsea. Dalam sebuah laga pramusim kontra Brentford, Chelsea mengabulkan permintaan Nevin untuk diganti kala turun minum hanya karena sang winger andalan ingin menyaksikan konser Cocteau Twins! Band ini sendiri merupakan band indie rock Skotlandia yang berkarya dari tahun 1979 hingga 1997.

Tidak hanya sebagai penikmat, sedari muda pun Nevin sudah kerap menjadi DJ di pelbagai acara bawah tanah, akan tetapi, kesibukannya bersepak bola membuat dirinya sulit menemukan waktu untuk melakukan aktivitas ini. Setelah pensiun pun, ia lebih kerap tampil di berbagai media sebagai analis serta kolumnis setelah berhenti menjadi CEO klub Motherwell pada 2002.

Baru kemudian pada tahun 2010, Nevin benar-benar menemukan “jati dirinya” sebagai seorang DJ handal. Pria yang memiliki gelar sarjana seni dari Glasgow Caledonian University ini diundang oleh ATP (All Tomorrow’s Parties) untuk menjadi DJ pada edisi ulang tahun kesepuluh Bowlie Weekender, sebuah event yang diprakarsai oleh Belle and Sebastian pada 1999.

Acara bertajuk Bowlie 2 tersebut sukses besar dan Nevin, yang tampil pada hari ketiga berkata, “Rasanya seperti memenangi Liga Champions! Orang-orang memuji set saya di Twitter dan saya pun menerima banyak tawaran dari berbagai band indie.”

Adapun, pada acara tersebut, Nevin memainkan lagu-lagu dari Belle and Sebastian, Orange Juice, dan The Fall, serta terlihat mengenakan kaus The Pains of Being Pure at Heart. Menariknya, sehari usai mejadi pengisi acara ini, Nevin menyelipkan nama The Pains of Being Pure at Heart pada perbincangan sebelum laga Manchester United kontra Arsenal di Radio 5.

Pada 2011, Pat Nevin yang merupakan ayah dari eksjawara bulutangkis junior Skotlandia, Lucy, akhirnya mampu menjadi pengisi acara di dua kelab indie prestisius London, Scared to Dance dan How Does It Feel To Be Loved? Tak hanya itu, ia pun juga merupakan salah satu pengisi acara reguler di festival bertajuk “Shiiine on Weekender” yang merupakan event akbar di Minehead, Somerset.

BACA JUGA:  Lima Pesepak Bola Asia Tenggara yang Sukses Berkarier di Indonesia

Ketika ditanyai perihal asal muasal kecintaannya pada musik, Nevin menjawab bahwa semua berawal dari kegemarannya akan album-album rilisan label independen Glasgow, Postcard Records serta  John Peel Show yang dulu mengudara di BBC Radio 1.

John Peel sendiri merupakan sebuah nama besar di dunia musik Inggris Raya dan sudah mulai menjadi DJ radio sejak 1967 hingga ia wafat pada 2004.

“Ia (John Peel) memainkan lagu-lagu dengan spektrum yang amat luas, dan hal tersebut benar-benar mampu membuka cakrawala saya tentang musik. (Karena itu pula) pergi ke konser-konser pun menjadi kegemaran saya. Saya (pernah) menyaksikan Joy Division, New Order, dan saya pun justru kemudian lebih banyak memiliki teman di dunia musik, seperti Peely (sapaan akrab John Peel), ketimbang di sepak bola,” aku Nevin kepada FourFourTwo.

Pat Nevin sendiri, meski memiliki selera musik yang tidak biasa dibandingkan pesepak bola lain mengatakan bahwa ia tidak pernah mencela selera musik orang lain dan menjadi seorang music snob.

Musik di ruang ganti, misalnya, kata Nevin merupakan soal bagaimana caranya memacu adrenalin sebelum berlaga. Meski begitu, ia mengaku bahwa ia lebih memilih musik yang menenangkan karena ia ingin lebih seperti Ruud Gullit dibanding kebanyakan pesepak bola Inggris.

Dalam wawancara yang sama dengan FourFourTwo, Nevin juga mengaku bahwa ia tidak menjadi DJ karena uang. Menurutnya, gigs adalah tempat yang sempurna untuk menjadi tidak terlihat dan ia juga sangat selektif dalam memilih gig mana yang ingin ia sambangi. Kalau rasanya tidak akan menyenangkan, ia pun pasti akan menolak tawaran tampil tersebut.

Noisey, yang merupakan cabang musik dari Vice Media menyebut bahwa Pat Nevin merupakan “the original hipster footballer”. Dalam artikel ini, Pat Nevin mengatakan bahwa ia senantiasa memperbaharui referensi musiknya lewat bantuan Spotify dan hal ini agak lucu mengingat sampai sekarang, ketika ia sedang menjadi DJ, ia masih kerap menggunakan compact disc (CD) sebagai media utamanya.

Ia memang sudah mahir menggunakan teknologi mutakhir seperti iPod, akan tetapi, ia mengaku tetap lebih memilih menggunakan teknologi old school tersebut.

Akhir kata, jika Anda penasaran dengan lagu-lagu macam apa yang biasa didengar atau dimainkan pesepak bola mungil ini, Anda bisa mengeceknya di sini.

 

Komentar
Yoga Cholandha
Punya fetish pada gelandang bertahan, penggemar calcio, dan (mencoba untuk jadi) storyteller yang baik. Juga menggemari musik, film, dan makanan enak.