Paulo Dybala dan Esensialnya Kedalaman Skuat Juventus

Giornata kedua belas Serie A musim 2019/2020 pekan ini ditutup dengan laga yang mempertemukan Juventus dan AC Milan di Stadion Allianz dini hari tadi (11/11). Sebagai tim yang punya nama besar di Italia, laga ini masih dipandang sebagai partai akbar sebab rivalitas yang melingkupi kedua tim terus mendidih.

Melihat kiprah masing-masing kubu sejauh ini, I Bianconeri diunggulkan buat memetik kemenangan. Terlebih, mereka punya catatan apik setiap kali beraksi di depan pendukungnya sendiri.

Sementara bagi I Rossoneri, dapat mencuri satu poin dari Turin adalah berkah tiada tara mengingat mereka masih mencari bentuk terbaik di bawah asuhan pelatih anyar, Stefano Pioli.

Pendekatan yang diambil Maurizio Sarri dalam laga ini pun jelas. Alih-alih meremehkan Milan dengan melakukan banyak rotasi, dirinya justru tetap memainkan para penggawa andalannya seperti Leonardo Bonucci, Miralem Pjanic, dan Cristiano Ronaldo. Tak peduli bahwa mereka diganggu faktor keletihan pasca-memeras keringat tengah pekan lalu di partai Liga Champions melawan Lokomotiv Moskow.

Di sisi seberang, Pioli yang sadar bahwa skuatnya lebih segar ketimbang lawan kembali mengandalkan sosok-sosok seperti Hakan Calhanoglu, Krzysztof Piatek, dan Suso untuk menghabisi lawan.

Sepanjang babak pertama, berbekal kualitas skuat yang apik, Juventus mendominasi penguasaan bola dan memaksa Milan bertahan cukup dalam. Namun kedisiplinan Alessio Romagnoli dan kawan-kawan di lini belakang dalam mengawal pergerakan para pemain lawan sekaligus mempersempit ruang geraknya membuat Juventus kesulitan menodai jala Gianluigi Donnarumma.

Menariknya, kubu tamu justru mencatatkan percobaan mencetak gol lebih banyak daripada tuan rumah sepanjang babak pertama. Namun sial, tim besutan Pioli gagal mengeksekusi peluang-peluang itu secara sempurna. Entah karena penyelesaian yang kurang apik maupun penampilan heroik Wojciech Szczesny di bawah mistar.

BACA JUGA:  Memperbincangkan Penambahan Jumlah Peserta Piala Dunia 2026

Bagi penonton, babak pertama terasa begitu hambar karena tak ada gol dan masing-masing kubu menghasilkan peluang bersih yang tidak terlalu banyak.

Ronaldo yang diharapkan Sarri bisa tampil sebagai pembeda malah memperlihatkan aksi melempem. Berulangkali aksinya terbaca bek lawan dan mudah dipatahkan. Hal ini juga yang memaksa sang allenatore menggantinya dengan Paulo Dybala pada menit ke-54.

Meski demikian, masuknya Dybala serta Douglas Costa beberapa menit setelahnya, tak serta-merta membuat permainan Juventus membaik. Mereka tetap butuh proses agar semuanya berjalan lancar. Terlebih, pemain I Rossoneri yang disiplin dalam menjaga kerapatan sekaligus menutup ruang saat bertahan bikin sejumlah penggawa I Bianconeri frustasi.

Sarri akhirnya jadi sosok yang tertawa paling akhir setelah keputusannya memasukkan Dybala membuahkan hasil manis. Berawal dari kombinasi umpan pendek yang cepat dari Costa, Dybala, Higuain, dan Pjanic di ruang sempit karena ketatnya penjagaan para penggawa Milan, bola sukses dikirim masuk ke kotak penalti.

Dybala lalu mengontrol bola itu sesaat dan mengecoh satu orang bek I Rossoneri sebelum melepaskan sepakan mendatar ke gawang Milan pada menit ke-76. Usaha Donnarumma yang melentingkan badan guna menepis bola pun sia-sia.

Ketimbang Ronaldo, Dybala memang sosok yang bisa diandalkan dalam permainan yang lebih kolektif bersama Higuain. Di beberapa momen, macetnya serangan Juventus dalam laga kontra Milan muncul akibat keegoisan Ronaldo yang setiap kali menerima bola, cenderung menggiring atau mengeksekusinya sendiri. Padahal, ia dijaga lebih dari satu pemain lawan dan ada rekannya yang berdiri bebas serta dapat dijadikan opsi umpan.

Permasalahan inilah yang solusinya terus dicari Sarri usai menyaksikan kebuntuan sektor depan timnya sepanjang babak pertama. Kedalaman skuat yang mumpuni berikut kualitas pemain jempolan akhirnya jadi hal esensial bagi lelaki yang identik dengan rokok tersebut. Keadaan tersebut memberinya keleluasaan untuk melakukan perubahan atau pembenahan di tengah laga demi meraup hasil positif.

BACA JUGA:  Senjakala Paulo Dybala

Sejauh ini, mereka pun berhasil mengepak angka penuh saat pergantian pemainnya tepat dan semua perubahan yang dibutuhkan berjalan lancar. Selain Milan, kemenangan lain I Bianconeri yang ditentukan pemain pengganti adalah versus Lokomotiv (7/11) dan Internazionale Milano (7/10).

Kemenangan 1-0 atas Milan mengantar Juventus kembali duduk di puncak klasemen sementara dengan keunggulan satu poin. Berbekal skuat yang berkualitas, komplet, matang dan kenyang pengalaman, Dybala dan kawan-kawan punya segala syarat untuk melanjutkan dominasinya di Serie A. Terlebih, Inter yang jadi rival mereka saat ini mulai kepayahan gara-gara badai cedera serta kelelahan fisik.

 

Komentar
Lelaki yang percaya Conan Edogawa lebih cocok jadian dengan Ai Haibara. Bisa disapa di akun twitter @handipsi.