Pep Guardiola, Fragmen Keindahan dalam Bingkai Sepak Bola

Thore Haugstad, chief editor dari twentyminutesread.com, menggambarkan om-om botak asal Catalan ini dengan satu kata, sophisticated (mutakhir atau canggih, red.). Saya setengah mati kesulitan menemukan padanan kata sophisticated dalam bahasa Indonesia. Agaknya, bahasa kita memang tidak dirancang untuk sefeektif dan efisien laiknya bahasa Inggris dalam mendeskripsikan satu kata sifat.

Kesampingkan “keberhasilan” Manchester City mengamankan tanda tangan Pep Guardiola mulai musim depan. Kesampingkan pula potensi Bayern Munchen dalam mendominasi Eropa pada sisa musim ini sebagai ambisi Pep mengakhiri karier di Jerman dengan manis.

Membicarakan Pep, Anda harus keluar dari bingkai banyak hal yang membelenggu. Membahas Pep, Anda tidak boleh multitask. Membahas Pep, Anda harus duduk nyaman di kursi, dengan sebungkus cemilan, beberapa kaleng bir dan sebuah teleivisi layar datar yang menayangkan Barcelona dan Bayern Munchen di bawah asuhan Pep Guardiola.

Saya termasuk orang bebal yang tidak mau didebat. Khususnya, perihal kenikmatan menonton sepak bola. Anda harus paham dengan jelas bahwa sepak bola, versi saya, harus menarik. Itu mutlak.

Berkali-kali di beberapa posisi dan pengambilan sikap dalam tulisan, selalu saya posisikan untuk menjadi moralis sepak bola. Ini penting.

Di tengah gejolak zaman yang sedemikian rumit, mendukung sebuah klub sepak bola yang mampu memberikan kenikmatan saat ditonton adalah nilai yang perlahan luntur. Jangan heran kenapa Chelsea bertambah banyak suporternya ketika Jose Mourinho berkuasa dua periode di sana, walau selalu dipecat. Ukuran sebuah kesuksesan adalah trofi, dan hanya trofi. Sesederhana itu. Bebal dan sederhana.

Zaman revolusi taktik yang semakin modern juga memaksa pelatih menjadi sangat saklek dan ragu mengubah banyak komposisi timnya. Banyak tim-tim Eropa yang gemar memainkan winning team tanpa mau bereksperimen dengan berani. Tanpa berani mengambil resiko untuk mencoba hal baru. Tanpa berani melawan arus dengan mendobrak ombak kuat dunia modern yang menuntut trofi, trofi dan trofi.

Dan di sinilah Pep hadir dengan anggun. Kalau Riquelme dinarasikan dengan Candice Swanepoel, agaknya Pep boleh dimiripkan dengan Miranda Kerr. Sama cantiknya. Sama romantisnya. Sama seksinya. Hanya saja, Pep lebih disiplin dan sistematis. Tak seperti Riquelme yang flamboyan, Pep sangat terperinci, teliti dan akurat.

BACA JUGA:  Geliat Red Bull di Dunia Olahraga

Di atas semua itu, ia adalah jenius. Seorang filsuf. Menelaah setiap detil dari gerakan pemain di lapangan. Mengganti taktik tiap kali dibutuhkan. Tiap menitnya. Tiap detiknya.

Menonton tim Pep Guardiola adalah orgasme panjang selama 90 menit. Anda tidak menonton sepak bola ketika melihat tim Pep bermain.

Menonton tim Pep bermain adalah membaca lembar demi lembar novel Jostein Gaarder yang mahsyur itu, Dunia Sophie. Ada pemikiran di situ. Pemain patuh dengan filosofi Pep. Ya benar, filosofi. Filosofi yang jauh lebih manis dan menggairahkan dibanding kebusukan filosofi pria Belanda di Manchester.

Pep tahu berapa detik pemain harus mengontrol bola sebelum melepas umpan. Berapa langkah yang diperlukan gelandang untuk bergerak dari satu zona ke zona lain. Semua detilnya diperkirakan dan dihitung dengan rinci oleh Pep. Indah betul. Saklek, tapi indah. Anda berani membantah kenikmatan orgasme menonton Barcelona di bawah rezim Pep Guardiola?

Dalam tiga musim bersama Bayern Munchen, Pep sudah memakai sepuluh formasi berbeda. Ia seakan menjawab keraguan banyak pihak kala kesuksesannya di Barcelona dan era 4-3-3 yang begitu mahsyur di Barcelona akan sulit terulang di Munchen.

Pep, tampil sangat dinamis dan segar. Sabbatical setahun di kota bising New York membuat Pep lebih berani, lebih mengalir dan sangat inovatif.

Ia pernah menampilkan formasi tiga bek dengan ketiganya diisi David Alaba, Philip Lahm dan Juan Bernat saat menggilas Bayer Leverkusen tiga gol tanpa balas. Pep pula yang sesekali memainkan Lahm di posisi gelandang tengah dengan memanfaatkan intelegensia dan mobiltas tinggi sang kapten.

Ia juga mengajak kembali publik Jerman nostalgia tentang kehebatan posisi libero milik Franz Beckenbauer dengan acapkali memainkan Javi Martinez dan Xabi Alonso di lini belakang untuk menjadi libero. Ia menghancurkan bulan madu manis Tomas Tuchel dan romansanya bersama Borussia Dortmund yang diwarnai dua bullet pass cantik ala Tom Brady dari Jerome Boateng untuk masing-masing gol Robert Lewandowski dan Thomas Muller.

Pep mendobrak khazanah sepak bola normal. Ia menjadi hal yang berbeda, tapi sangat segar dan menarik betul. Tidak ada yang tabu bagi Pep. Ia melawan hal yang tabu.

BACA JUGA:  Kenapa Mendukung Real Madrid (Harusnya) Membosankan?

Ia membuat sebuah resiko berubah menjadi sebuah wujud keindahan tiada tara. Sepak bola selalu tentang resiko. Narasi tentang menang dan kalah. Dan Pep menari di atas itu semua dengan cara yang membuai mesra mata penikmat bola. Dan sialnya, acapkali, ia selalu menang. Menang dengan megah, mewah dan cantik!

Kedatangan Pep ke City, atau Inggris secara umum, adalah mewartakan kabar gembira tentang apa yang harusnya dipelajari publik Inggris tentang kenapa timnas mereka begitu rutin lolos ke kejuaraan namun selalu gagal. Inggris tidak pernah menjadi negara yang ramah dengan taktik. Bangsa Celts selalu bebal.

Dan Pep, sang Kaisar Romawi yang sudah menaklukan Semenanjung Iberia dan mendominasi para Arya di Jerman, datang ke Inggris dengan prestasi yang terlampau menyilaukan. Pep datang dengan sederet taktik segar yang akan mengajari orang-orang Britania bahwa di luar sana, keindahan itu ada.

Pep, sang Romawi, akan datang dengan formasi tempur Phalanx dan bersiap mendominasi sisa-sisa bangsa Celts yang bebal di Liga Inggris dengan cara yang (mungkin) akan sangat menarik.

Tentu ini hanya ulasan singkat kenapa Pep Guardiola perlu disambut dengan meriah kedatangannya di Inggris. Ia mungkin tidak langsung sukses, namun Ratu Elizabeth sangat perlu untuk repot-repot menyiapkan karpet merah dengan hidangan teh hangat yang manis untuk menyambut pria yang sudah menaklukan Eropa dengan cara yang megah dan agung.

Pep jelas bukan Jose, pria Portugal yang menyebalkan itu. Pep tahu cara menang dengan megah. Pep tahu cara menghibur dengan penuh bahan edukasi bagi banyak orang.

Kali ini, Pep akan berkeliling ke Eropa dan mengajarkan banyak orang, bahwa di sepak bola, menang dengan cara yang agung adalah mungkin. Kali ini, tanah yang dituju itu adalah Inggris. Tanah di mana taktik sepak bola yang baik hanya isapan jempol belaka.

***

Semoga manajer Manchester United musim depan berganti Jose Mourinho. Karena mulai 1 Juli 2016 nanti, saya bersiap menjadi suporter Manchester City.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.