Peran Hamsik Role untuk Ivan Rakitic di Berlin

Barcelona bertemu Juventus di final Liga Champion yang bertempat di Olympiastadion Berlin, 6 Juni 2015. Jika dilihat secara sekilas partai tersebut tak berbeda dengan final Champions League edisi sebelumnya, namun jika kita perhatikan dengan saksama maka akan muncul sebuah posisi unik yang diemban oleh Ivan Rakitic yang sesekali dibantu oleh Luis Suarez apabila ia sedang sibuk mengcover ruang yang ditinggalkan Alves ketika sedang melakukan overlaping ke jantung pertahanan lawan.

Namun tugas tersebut bukan untuk Luis Suarez karena ia sudah mempunyai tugas yang lain, jawabannya ada pada menit ke-68 pada pertandingan itu. Tugas tersebut adalah mematikan deep-lying playmaker lawan dalam diri Pirlo atau biasa yang disebut Hamsik Role atau Zona Mista.

Istilah Zona Mista ini, penulis temukan ketika membaca artikel mengenai perubahan taktik yang dilakukan oleh beberapa pelatih tersohor Italia, salah satunya terdapat nama Enzo Bearzot. Bermula pada pertandingan di Piala Dunia 1982, ketika itu Bearzot menangani tim nasional Italia dan harus menghadapi Argentina dan Maradona-nya, tentu Bearzot tak ingin membiarkan Maradona bebas menari-nari di depan kotak pinalti Italia. Maka dengan itu Bearzot pun memutuskan untuk memberikan sebuah tugas khusus “mendampingi” Maradona kepada Claudio Gentile, dan hasilnya pun Italia berhasil mengalahkan Argentina dengan pernyataan legendaris Gentile sesuai pertandingan yang ditujukan kepada Maradona, “football is not for ballerinas.”

Kemudian hal itu pun kembali diaplikasikan oleh Walter Mazzari ketika menangani Napoli dengan memercayakan tugas khusus tersebut kepada Marek Hamsik pada final Coppa Italia tahun 2012 menghadapi Juventus. Kali ini Andrea Pirlo yang jadi sasaran. Alhasil di akhir pertandingan Napoli pun berhasil mengalahkan Juventus dengan skor 2-0 dan sejak saat itu pula istilah Hamsik Role mulai dikenal.

BACA JUGA:  Juventus (2-1) Real Madrid: Adu Pressing

Pada dasarnya Zona Mista atau pun Hamsik Role ini mekanisme kerjanya adalah mematikan pemain terhebat lawan dengan menghalalkan segala cara termasuk menjegalnya, menekelnya atau pun mengasarinya. Tentu apabila peran ini bisa dilaksanakan dengan baik oleh pemain yang ditugaskan tersebut maka jaminan kemenangan pun sudah bisa dipastikan, bisa kita ambil contoh pada Italia dan Napoli.

Berselang lima musim, hal itu pun kembali dilakukan oleh Luis Enrique untuk mematikan Pirlo yang berperan sebagai deep-lying playmaker dengan menugaskan Ivan Rakitic untuk “mematikan” perannya di lapangan.

Jika anda perhatikan pergerakan Pirlo sepanjang pertandingan sering diikuti oleh Rakitic, namun ia tidak terlalu memperagakan pressing yang kasar seperti Gentile kepada Maradona. Rakitic hanya perlu membayangi pergerakan Pirlo yang sepanjang pertandingan memang kurang mendapatkan suplai bola karena memang Barcelona memegang kendali permainan hampir sepanjang pertandingan. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa yang ditugaskan adalah Rakitic?

Determinasi tinggi. Ini adalah poin lebih yang dipunyai Rakitic dan mengapa ia dibebankan tugas ini oleh Luis Enrique. Bila Busquets yang lebih stagnant berdiri di depan duo bek tengah Pique dan Mascherano, Iniesta yang lebih sering berada di sisi kanan penyerangan Barca yang lebih memungkinkan untuk berduel langsung dengan Vidal ketimbang dengan Pirlo. Dan hasilnya sudah kita ketahui bersama bahwa Rakitic berhasil mematikan pergerakan Pirlo dan aliran serangan Juventus pun sedikit terhambat ditambah lagi dengan dominasi penguasaan bola oleh Blaugrana semakin memperlihatkan Rakitic sukses memerankan tugas khusus ini.

Selain memuji Rakitic yang dengan kepiawaiannya menjalankan tugas khusus ini, poin plus pun diberikan kepada Luis Enrique yang berani melakukan inovasi dalam cara bertahan Barcelona yang kali ini terbukti berhasil dan teruji keberhasilannya di lapangan. Perjudian yang sudah dilakukan oleh Luis Enrique ini secara tidak langsung telah memberikan efek positif yang langsung dirasakan oleh Rakitic yaitu semakin sah-nya dia mendapat predikat sebagai pemain versatile (serba bisa) dan berhasil menemani Mascherano dalam mengemban predikat itu di dalam tubuh tim Catalan.

BACA JUGA:  Danny Welbeck: Tiga Kemungkinan Baru di Tahun Baru

Anyway, terlepas dari Hamsik Role yang kembali muncul pada final Liga Champions 2015 lalu memberikan sebuah keputusan bahwa peran penting dari Rakitic dalam bertahan dan menyerang tersebut sama baiknya dan pemain tersebut tidak selalu harus mencetak gol dan mencetak assists dalam setiap pertandingan untuk bermain apik dalam sebuah. Setidaknya hal ini terbukti oleh Rakitic Role.

 

Komentar
Mahasiswa jurusan sejarah yang sedang berusaha menyelesaikan studinya di salah satu universitas di semarang, penikmat sepakbola dari layar kaca setiap minggunya dan mantan pemain futsal tingkat jurusan.