Persebaya, Bonek, dan Perjuangan yang Belum Usai

Seperti krusialnya oksigen bagi kehidupan manusia di planet Bumi, maka seperti itulah pentingnya wujud dan keberadaan suporter sepak bola. Suporter tak lagi bisa dipandang sebagai elemen yang hadir hanya pada saat sebuah kesebelasan bertanding di stadion seraya berteriak, menyanyikan yel-yel, atau membuat koreografi.

Dalam perkembangannya, suporter bahkan punya andil atas kebijakan yang dibuat klub. Sebagai contoh, suporter klub di Jerman ikut berperan dalam menentukan harga tiket menonton langsung di stadion tiap musimnya. Ini semakin membuktikan jika suporter adalah elemen penting atas keberlangsungan sebuah klub sepak bola itu sendiri.

Di Kota Surabaya, terdapat kelompok suporter yang namanya telah dikenal seantero negeri. Kelompok suporter itu bernama Bonek, sebuah akronim dari Bondho Nekat. Mereka adalah basis suporter setia klub yang suka atau tidak, harus Anda akui sebagai ikon di Jawa Timur, Persebaya Surabaya.

Seperti kebanyakan suporter sepak bola lain, Bonek pasti akan menyemut di stadion kala Persebaya bertanding. Entah itu di Stadion Gelora 10 November, Stadion Gelora Bung Tomo, atau kala melakoni awaydays ke markas lawan. Saya pun meyakini jika itu bukan sekadar upaya mendukung klub kesayangan tapi juga cara Bonek menikmati hidup yang sesungguhnya.

Namun sayang, kenikmatan Bonek menyaksikan Persebaya berlaga secara langsung di stadion terusik, khususnya dalam kurun empat tahun terakhir. Hal ini diakibatkan nasib klub berjuluk Bajul Ijo yang tak tentu arah. Bukan karena Persebaya tak ingin eksis lagi di persepakbolaan nasional, tapi lebih dikarenakan oleh tekanan para penguasa dan elit sepak bola Indonesia yang justru ingin tim sarat prestasi dan tradisi ini mati.

Sudah jadi rahasia umum bila terdapat amarah dan kegeraman di dalam dada setiap Bonek terhadap Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). Khususnya kepada orang-orang culas yang duduk sebagai pengurus organisasi tersebut. Bagaimana tidak geram jika PSSI secara terang-terangan berusaha membuat Persebaya lenyap.

Mulai dari dipaksa degradasi pada 2010 silam, dicap pengkhianat karena kubu Bajul Ijo berlaga di Indonesia Premier League (IPL), mengakui Persebaya tandingan (Baca: Persikubar Kutai Barat) di bawah manajemen PT. Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) sebagai kubu Bajul Ijo yang asli, hingga tidak mengakui keberadaan tim yang pernah bertanding melawan kesebelasan asal Inggris, Queens Park Rangers, pada 2012 yang lalu itu, untuk terjun di kancah persepakbolaan nasional.

BACA JUGA:  The Hunger Games dan Revolusi PSSI

Problem tersebut diperparah dengan kelesuan pihak manajemen klub, sebut saja Saleh Mukadar dan Cholid Ghoromah, guna menentang tindak tanduk PSSI yang dzolim lantaran lebih peduli pada urusan perut mereka sendiri. Hal itu memicu Bonek untuk mengambil sikap.

Tak main-main, Bonek secara masif menggemakan perlawanan atas sikap tidak adil dan sewenang-wenang yang ditunjukkan PSSI. Bila Anda kemudian bertanya-tanya mengapa Bonek mesti bersusah payah melawan penguasa demi Persebaya?

Maka hanya ada satu jawaban yang bisa saya berikan, yakni cinta. Seperti Anda yang mencintai keluarga dan tak ingin hal-hal buruk terjadi kepada mereka, seperti itu pulalah kecintaan Bonek kepada Persebaya, abadi.

Sepanjang Juli-Agustus lalu, terdapat tagar #GrudukJakarta yang berseliweran tanpa henti di linimasa. Usut punya usut, tagar ini digemakan oleh Bonek yang berniat untuk mendatangi Kota Jakarta, tepatnya pada 3 Agustus 2016. Lokasi yang mereka incar adalah Hotel Mercure di bilangan Ancol, di mana Kongres Luar Biasa PSSI dilaksanakan.

Tujuan Bonek kala itu jelas, yakni menyampaikan aspirasi mereka berupa pengembalian hak Persebaya untuk dapat berkompetisi lagi di persepakbolaan dalam negeri. Tentu lucu bukan jika Persebaya yang masih sah terdaftar sebagai anggota resmi PSSI justru tidak diperkenankan beraksi karena alasan-alasan konyol.

Walau gagal hadir di Ancol, usaha Bonek kala itu sedikit menemui titik terang usai Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, dan Deputi IV Bidang Olahraga dan Prestasi, Gatot S. Dewa Broto, menemui mereka yang terkonsentrasi di Stadion Tugu, Jakarta Utara.

Kala itu Gatot membawa surat berkop PSSI yang ditandatangani oleh 9 dari 12 anggota Komite Eksekutif PSSI bahwa status Persebaya akan diputihkan dan hak-haknya akan dikembalikan pada kongres berikutnya (menurut jadwal 17 Oktober 2016 namun mundur menjadi 10 November 2016).

Meski begitu, Andie Peci sebagai pentolan Arek Bonek menyatakan jika surat itu belum cukup kuat untuk dijadikan dasar bahwa hak-hak Persebaya akan dikembalikan lagi oleh PSSI. Dirinya tetap bersikukuh dan menghimbau Bonek untuk terus berjuang sampai hal tersebut secara sah dan resmi dikembalikan.

BACA JUGA:  Klub Indonesia Melawan Corona

Kini, jelang diselenggarakannya Kongres PSSI pada 10 November yang kembali mengambil tempat di Hotel Mercure Ancol, Bonek pun langsung ikut bergerak. Tagar #BelaPersebaya dan #GrudukJakarta2 mendominasi linimasa sebagai tanda bahwa Bonek akan kembali datang ke Jakarta.

Menurut kabar yang beredar, ribuan Bonek, baik dari dalam negeri atau bahkan luar negeri, sudah menggruduk Jakarta sejak hari Sabtu (6/11). Dapat dipastikan jika Bonek akan menagih janji manis yang telah ditebar PSSI beberapa bulan yang lalu.

Waktu pelaksanaan kongres yang bertepatan dengan Hari Pahlawan tentunya melecut semangat Bonek untuk gigih berjuang. Terlebih, 10 November juga punya nilai historis yang kuat bagi arek-arek Suroboyo karena pada tanggal itu di tahun 1945 silam, terjadi pertempuran dahsyat di Surabaya.

Sebuah pertempuran atas nama perjuangan yang dilakukan arek Suroboyo demi membela negara dari penjajahan dan ketidakadilan. Sebuah perjuangan luar biasa yang saat itu berhasil dimenangkan.

Patut kita sadari bersama, apa yang dilakukan Bonek selama beberapa tahun terakhir adalah contoh nyata bagi kita semua. Bahwa ketidakadilan, kesewenang-wenangan dan keculasan harus dilawan bagaimanapun sulitnya, bagaimanapun caranya. Terlebih jika akar dari perlawanan itu berupa cinta yang tulus, laksana cinta yang dimiliki Bonek untuk Persebaya.

Yakinlah, tak ada perjuangan yang sia-sia walau ada banyak hal yang dikorbankan di dalamnya. Eksistensi Bonek yang tetap mendukung sekaligus memperjuangkan klub kesayangannya, menjadi bukti bahwa Persebaya masih ada dan akan tetap ada. Saya pun percaya, kembalinya Bajul Ijo ke percaturan sepak bola nasional hanya tinggal menunggu waktu.

Mengutip ucapan Andie Peci yang menjadi landasan perjuangan suporter setia Bajul Ijo bahwa keadilan adalah ibunda dari setiap perjuangan Bonek. Mereka akan selalu berjuang dengan segala kemampuan dan ketidakmampuan. Bonek akan terus melawan dan berjuang dengan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Teruslah berjuang, Rek!

#SalamSatuNyali. #Wani.

 

Komentar