Lenyapnya “Phantom Dribble” Van Basten di Rimba Serie A

Ada dua penyesalan terbesar dalam karir pemain dan pelatih seorang Johan Cruyff. Pertama, kekalahannya dalam final Piala Dunia 1974 sebagai seorang pemain, dan kedua, hilangnya kesempatan memboyong seorang Marco Van Basten dari AC Milan ke Barcelona.

“Kinerja Van Basten akan lebih besar di Barcelona. Apa mau dikata, saya memainkan gaya yang tidak sama dengan AC Milan. Gaya saya pas sekali dengannya. Lebih menyerang,” ujar Cruyff ketika mencoba membujuk sang murid untuk kesekian kalinya.

Dalam buku Marco Van Basten era AC Milan dan Oranye, Cruyff adalah sosok paling berpengaruh dalam cara bermain Van Basten. Tidak seperti Rinus Michels atau Arrigo Sacchi yang sangat Ruud Gullit-sentris, sehingga hanya menelurkan pemahaman taktik dan memberikan gelar plus reputasi besar kepada Van Basten, Cruyff sedikit berbeda. Ia mewariskan seluruh pemahamannya—sebagai pemain—kepada Van Basten karena satu hal: ia melihat Van Basten adalah dirinya sendiri.

Bagi Cruyff setiap lekuk, tarian, gestur, atau gaya dribble Van Basten adalah representasi dan kebanggaan akan dirinya sendiri. Sekaligus cermin identitas soal apa dan bagaimana itu sepak bola Belanda.

Sedikit pemain yang punya gaya dribble alamiah yang begitu lembut seperti itu di era sepak bola modern. Kalau ingin sedikit memaksa, paling-paling nama Andres Iniesta yang keluar, atau kalau mau lebih sedikit ke belakang ada nama El Maestro Zinedine Zidane yang bisa jadi gambaran. Ini bukan dribble penuh tenaga seperti Ronaldo-Brasil, ini dribble lembut dan halus namun mematikan. Seperti perbandingan antara tinju dengan wing chun. Sama-sama mematikan lawan, tapi cara yang digunakan beda.

Di Italia, kotak penalti begitu ramai sehingga sulit untuk bermain bola – Van Basten

Zegar van Herwaarden –penulis biografi Marco Van Basten— menjelaskan bahwa jika gambar Cryuff muda dan Van Basten semasa memperkuat Ajax diletakkan bersampingan, terlihat betul persamaannya keduanya dalam menggocek bola. Van Herwaarden, menggambarkannya sebagai berikut:

Dengan atau tanpa bola, mereka mengecoh lawan tanpa perlu menggocek. Melompat kecil untuk menghindari jegalan lawan, menerima bola sembari berlari dengan kecepatan penuh, mengantisipasi lawan, dan mengatur kawan, gerak tubuh yang elegan dan mengalir, semua itu adalah persamaan antara guru dan murid, selain mentalitas solois yang egosentris tentunya. (hal. 18-19)

Yah, bisa dibilang keduanya benar-benar “angsa” dalam representasi keanggunan sekaligus keangkuhan sepak bola pada eranya masing-masing.

Dribble Toshihiko Tanaka pada Sosok Van Basten

Toshihiro Tanaka, atau biasa dipanggil Toshi adalah pemain lulusan SMA Kakegawa Jepang. Ia memperkuat klub megabintang Real Madrid—sebelum Piala Dunia Afrika Selatan 2010, dan mendapatkan kepercayaan nomor 10 di timnas Jepang. Dijuluki oleh media Jepang, si “kaki kiri ajaib” dan memiliki dribble yang tak terhentikan. Gocekan yang dinamainya; “Phantom-Dribble”.

Jangan buru-buru pasang keyword di mesin pencari dengan nama Toshi dan berharap menemukan pemain Jepang seperti yang saya maksud di atas. Saya berani bertaruh anda tidak akan menemukannya di skuat Jepang era kapan pun. Sebab Toshi adalah karakter fiksi ciptaan Tsukasa Oshima dalam komik sepak bola Shoot!

Tsukasa Oshima adalah komikus manga yang diam-diam merupakan penggemar Cruyff dan sepak bola Belanda. Hal tersebut bisa dilihat dengan tokoh-tokoh ciptaannya dalam skuat sepak bola SMA Kakegawa yang juga memainkan gaya total-football dalam setiap pertandingannya. Meskipun komik Shoot! adalah komik yang berkonsentrasi pada taktik sepak bola dibandingkan skill pemain seperti komik Fantasista karya Michiteru Kusaba, namun bukan berarti teknik tiap pemain tidak dibahas sama sekali.

Salah satu teknik yang sedikit banyak dibahas adalah phantom-dribble milik Toshi yang merupakan representasi dribble Johan Cruyff. Hal yang kemudian juga diwariskan juga kepada Van Basten. Sebutan “phantom” adalah julukan yang didapatkan Toshi karena ia sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana ia bisa melakukan dribble tersebut. Ia bahkan tidak mengerti bagaimana bek lawan tiba-tiba bisa dilewati begitu saja.

BACA JUGA:  Surat Terbuka Untuk Carlos Bacca

Hal yang sama juga berlaku dengan Van Basten. Terutama ketika masih berlaga di Eredivisie. Van Basten, seperti yang digambarkan Van Herwaarden, melewati para pemain bertahan nyaris tanpa melakukan trik apa-apa. Seolah tinggal berjalan lurus saja bersama bola, tiba-tiba tiga sampai empat pemain terlewati. Bak terbang, kaki Van Basten yang panjang seperti tidak melakukan apa-apa, sebab bolanya sendiri yang merasa enggan pindah dari kakinya. Seolah-olah bola adalah salah satu anatomi tubuh Van Basten sendiri.

Dalam komik Shoot!, Oshima, menjelaskan bagaimana “phantom-dribble” ini bisa dilakukan di dunia nyata. Hal yang barangkali juga bisa menjelaskan bagaimana dribble milik Van Basten bisa dipahami. “Phantom-dribble” adalah sebuah gocekan yang memanfaatkan ketakutan alamiah milik pemain lawan. Perasaan takut yang secara natural ada di setiap makhluk hidup—tak terkecuali para pemain sepak bola.

Sebelum sampai ke sana, perlu juga dijelaskan bahwa dalam sepak bola, kadar kemampuan menghadapi ketakutan setiap pemain bisa dijelaskan antar \posisi. Misalnya, posisi kiper adalah posisi pemain yang paling tidak boleh merasa takut di antara sepuluh rekan lainnya. Sebab posisinya sangat krusial. Ia harus berani duel, berani adu fisik, bahkan kalau perlu berani mati—seperti yang pernah dialami Petr Cech ketika mengalami retak tulang tengkorak.

Di depan kiper adalah para pemain bertahan, ia adalah pemain yang juga rela menghadapi risiko apa pun dalam takaran satu level lebih rendah dari kiper dalam soal keberanian. Seorang pemain bertahan harus berani mengambil segala risiko, sebab ia akan hancur jika mengambil keputusan setengah-setengah.

Artinya semakin bertahan karakter bermain seorang pemain, maka ia tidak boleh merasa lebih inferior atau takut daripada lawan. Franco Baresi tidak boleh merasa takut kepada Maradona, Maldini tidak boleh segan kepada Ronaldo Luiz Da Lima, Sergio Ramos tidak boleh minder di hadapan Messi, dan ketika David Luiz sejenak saja merasa takut kepada Luiz Suarez—maka seketika itulah Si Vampir Uruguay ini menghisap darahnya dua kali di laga PSG melawan Barcelona musim lalu.

Pola inilah yang kemudian menjadi anomali ketika seorang penyerang mampu membuat seorang pemain bertahan merasa inferior lebih dulu—bahkan sebelum berhadapan. Perasaan takut inilah yang akan membuat seorang pemain bertahan melakukan banyak antisipasi yang tidak perlu. Buang-buang energi dan membuka banyak sekali titik buta untuk dirinya sendiri. Hal yang mengakibatkan banyak celah untuk dimanfaatkan oleh lawan.

Jadi, secara sederhana, bisa dikatakan “phantom-dribble” adalah pemanfaatan titik buta pemain bertahan. Titik buta yang muncul atas dasar ketakutan yang berlebihan kepada lawan yang dihadapi. Oshima memang menggambarkannya secara berlebihan (namanya juga komik). Si pemain bertahan yang menghadapi Toshi akan tiba-tiba benar-benar buta tidak bisa melihat Toshi. Karena setiap berhadapan, Toshi bukannya menghindar, tapi akan langsung menerjang mendatangi si pemain bertahan. Hal yang kemudian membuat si pemain bertahan secara refleks menutup matanya karena takut akan terjadi benturan. Nah, di saat pandangan musuh menghilang itulah, Toshi melewatinya begitu saja.

Hukum yang berlaku di Serie-A

Van Basten mungkin memang tidak benar-benar seperti Toshi ciptaan Oshima. Namun apa yang dilakukannya kepada setiap pemain lawan sulit untuk dijelaskan. Dribble ajaibnya ini kemudian berubah tatkala Van Basten harus menghadapi para bek-bek tangguh Serie A. Hal yang disesali oleh Cryuff kemudian.

Dalam bukunya, Van Herwaarden menjelaskan bahwa bek seperti Pietro Vierchowod milik Sampdoria, Ciro Ferrara dari Napoli, Gisueppe Bergomi dari Internazionale sudah merasa puas apabila pertandingan berakhir tanpa striker lawan bisa mencetak gol. Tim mereka mungkin tidak cleansheet, tapi mimik puas sudah bisa dilihat jika mereka bisa mematikan penyerang andalan musuh—soal masih terjadinya gol dari pemain lain itu urusan belakangan.

BACA JUGA:  Kisah Kapten Manchester City yang Diabaikan

Hukum di Serie A berbeda dengan hukum di Erevidisie. Di Belanda, setiap pemain ingin terlihat seelegan mungkin sekalipun ia seorang pemain bertahan, di Italia, persetan dengan gaya, efisiensi lebih penting dari segalanya.

Van Basten datang dengan reputasi besar. Ia datang ke klub yang sedang berbenah mengembalikan nama besarnya; AC Milan. Sudah barang tentu kehadirannya menjadi incaran para bek-bek Serie A. Bukan apa-apa, bukankah setiap bek berlevel tinggi selalu ingin menjajal kemampuannya dengan menghadapi penyerang yang “dianggap media” punya kemampuan tinggi juga?

Van Basten bukannya tidak tahu bahwa bek-bek Serie A era peralihan dekade 1980-an ke 1990-an adalah sekompok hewan buas yang memiliki akting menawan. Kelihatan ramah di wajah, tapi kejam di kaki. Namun awalnya, Van Basten masih angkuh dengan menganggap bahwa dengan kehadiran dan cara mainnya, ia akan bisa mengubah sepak bola Italia. Van Basten tidak sepenuhnya salah memang, ia memang mengubah wajah Serie A, tapi bukan sebagai pionir, ia hanya pion milik sang arsitek Arrigo Sacchi.

Van Basten pun sadar, ia tidak bisa jika harus melakukan phantom-dribble seperti kebiasaannya di Eredivisie. Karirnya bisa hancur. Bek-bek seperti Baresi (sering berduel saat latihan), Bergomi, Vierchowod benar-benar tidak memiliki rasa takut. Mereka respek kepada lawan, tapi takut?—oh, tidak sama sekali. Di saat seperti itulah Van Basten ingat pelajaran berharga dari Cruyff: sepak bola adalah tempat memakan atau dimakan. Terutama di negeri para gladiator yang merupakan in optima forma—tempat di mana perilaku sosial (baik atau buruk) tidak diganjar dengan semestinya.

Di awal musim, Van Basten belum begitu memahami bagaimana cara meloloskan diri dari kepungan bek-bek Serie A. Van Basten sering dibiarkan masuk ke kotak penalti sendiri, lalu terjebak tanpa bisa melakukan hal-hal ajaib seperti di Ajax Amsterdam. “Di Italia, kotak penalti begitu ramai sehingga sulit untuk bermain bola,” katanya.

Sebagai murid kesayangan Cruyff yang cerdas, Van Basten tak perlu waktu lama untuk menguasai hukum Serie A. Jika ia sering dizalimi oleh para bek dengan tekel-tekel horor dan wasit sering luput melindunginya, maka Van Basten tidak segan untuk membalas perlakuan zalim itu dengan lebih kejam.

Sabda Mahatma Gandhi, jika mata dibalas dengan mata maka dunia akan buta, tak berlaku untuk Van Basten. Bahkan, Van Herwaarden menceritakan, Vierchowod, legenda Sampdoria, salah satu bek paling keras nan kotor sepanjang masa, bersaksi bahwa apa yang dilakukannya terhadap Van Basten sama kerasnya dengan apa yang Van Basten lakukan terhadap dirinya.

“Yang jelas Van Basten adalah bukan tipe pemain yang alim. Sepak bola adalah olahraga kontak fisik. Tidak pernah terbesit dalam benak (kami) untuk saling menahan (saling menghantam) kaki,” katanya tanpa tedeng aling-aling.

Van Basten pun mengurangi gaya bermain ala Eredivisie dan berusaha memperbesar efisiensi di depan gawang. Hasilnya? Ia jadi lebih sedikit bergerak dan—yah—jadi cukup membosankan. Namun di sisi lain, Van Basten jauh lebih klinis. Ia mengurangi kebiasaan elegannya, tidak lagi melakukan aksi solo run, dan yang jelas phantom-dribble pun jadi lembaran masa lalu. Di Italia, Van Basten mendadak jadi lihai mencari ruang kosong, jago menendang bola mendatar yang terukur, dan jadi ahli sundulan sepele yang mematikan.

Di sinilah kemudian, proses di mana unsur hiburan dari sosok Van Basten dikubur sedalam mungkin oleh tangan dingin Sacchi. Hal yang membuat Cruyff sampai akhir kontrak kepelatihannya terus menyesali kegagalan manajemen Barcelona untuk memboyong—sekaligus menyelamatkan—murid tercintanya itu dari kejamnya hukum rimba di Serie A. Sampai kemudian sejarah mencatat, di rimba inilah kaki emas Van Basten mengakhiri riwayatnya.

 

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab