Berbeda-Beda Tetapi Tetap Satu Klaten

Bagi sebagian besar orang, mungkin Klaten hanyalah sebuah daerah biasa yang tidak berbeda jauh dengan kawasan lain di Indonesia. Tapi siapa sangka ternyata Klaten ternyata memiliki beberapa kisah yang membuat daerah tersebut ramai diperbincangkan media.

Salah satu yang masih hangat di jagat maya beberapa waktu tentu saja bupati Klaten yang dinilai oleh sebagian warganet terlalu mengeksploitasi pandemi untuk mendapat simpati.

Meskipun banyak juga yang menanggapinya dengan bercanda, hal itu membawa Klaten menjadi salah satu topik pembicaraan hangat di media sosial.

Kemudian, disusul oleh hadirnya Mbah Minto. Manula dari Kecamatan Bayat itu moncer setelah membuat himbauan kreatif untuk tidak mudik. Ia sukses mengundang gelak tawa warganet. Dan sekali lagi, Klaten turut menjadi bahan obrolan di situ.

Selain itu, dearah tersebut bisa dibilang bisa dibilang tidak terkspos media nasional. Kecuali, hadir kisah menghebohkan yang biasanya didominasi berita positif. Contohnya saja saat tempat wisata Umbul Ponggok booming.

Walaupun begitu, sebenarnya masih ada banyak perbincangan yang belum terangkat dari Klaten. Salah satunya adalah kultur sepakbola yang tumbuh di wilayah tersebut.

Sebagian orang mungkin tahu bahwa daerah itu memiliki klub bernama PSIK, yang konon sudah berdiri sejak awal kemerdekaan Indonesia. Itu artinya, sejarah kultur sepakbola Klaten sudah sejak lama terbentuk.

Akan tetapi, minimnya prestasi dan kurangnya kesadaran banyak pihak untuk kembali membangun peradaban sepakbola Klaten menyebabkan PSIK semakin tenggelam. Klub tersebut tergilas kemajuan industri yang mulai berkembang di dunia sepakbola di Indonesia.

Meski seperti itu, basis pendukung fanatik juga tetap tumbuh dengan nama Alaska. Kehadiran mereka cukup vital. Selain mendampingi PSIK berlaga di Stadion Trikoyo, kelompok suporter tersebut juga beberapa kali melakukan penggalangan dana untuk menghidupi tim.

Kondisi klub yang kembang kempis tak bisa memuaskan hasrat pecinta sepakbola yang ada di Klaten. Oleh sebab itu, banyak diantara mereka menyalurkan dedikasinya kepada tim yang lebih besar dengan prestasi yang lebih moncer.

Jangkauan pertandingan sepakbola di kasta atas ke layar televisi memengaruhi mereka dalam situasi tersebut. Lama-kelamaan penggemar sepakbola di Klaten terdiversifikasi setelah menentukan pilihan berbeda-beda soal klub yang akan didukung.

Kemudian, muncul basis suporter dari tim luar daerah. Persib merupakan salah satunya. Berjarak ratusan kilometer dari jantung Bandung bukan jadi alasan tumbuhnya Viking Klaten. Walau jika dipikir lagi, tidak ada kedekatan secara budaya antara dua daerah tersebut.

BACA JUGA:  Persebaya dan Skuad Mudanya yang Menjanjikan

Kondisi tersebut kemudian dijembatani bisa oleh para perantau dari wilayah Jawa Barat yang ada di Klaten. Dan sebaliknya, orang Klaten yang pernah merantau di Bandung dan jatuh cinta dengan Persib bisa saja mendirikan basis suporter itu saat kembali ke kampung halamannya.

Selain itu, rival Persib dari ibukota juga hadir. Tidak sedikitnya warga yang merantau ke Jakarta membuat bibit-bibit dukungan kepada Persija disemai. Ketika kecintaan terhadap Macan Kemayoran itu tumbuh, mereka membawanya pulang dan menanamnya di Klaten

Basis pendukung dari dua klub besar di bagian timur Pulau Jawa, berikut rivalitasnya, juga terbentuk di Klaten. Eksistensi suporter Persebaya maupun Arema biasanya digambarkan dengan mural di pusat kota hingga di sudut-sudut desa.

Tumbuhnya basis pendukung empat klub besar di Indonesia tersebut sangat lumrah ditemui di wilayah-wilayah lain yang atmosfer sepakbola lokalnya tidak bergairah.

Jadi, jangan heran dengan keberadaan mural Persija dan Persib atau melihat orang menggunakan kaos Persebaya dan Arema berseliweran di pusat-pusat keramaian kabupaten tersebut.

Memang, untuk selalu bisa melihat aksi tim kebanggaan mereka di stadion bisa dikatakan mustahil mengingat jarak yang wajib ditempuh dan biaya yang harus dikeluarkan. Oleh karena itu, soal menyalurkan dukungan, mereka terbantu oleh hadirnya siaran laga di televisi.

Kesempatan lain yang tidak akan disia-siakan adalah ketika tim kebanggaanya itu bermain tandang di sekitar Klaten. Kala pertandingan digelar di Solo dan Jogja, hadirlah kesempatan emas untuk mendukung langsung ke stadion. Mereka akan memanfaatkan itu.

Bicara daerah sekitar Klaten sebenarnya tak hanya soal venue tempat klub besar bertanding. Kultur sepakbola di dua kota besar yang berada di sebelah daerah itu menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Banyak pula yang akhirnya kepincut dengan tim kebanggaan kota sebelah.

Sebut saja yang pertama adalah PSIM. Dua kelompok suporter mereka, The Maident dan Brajamusti bisa ditemui di beberapa titik, seperti Bayat, Gantiwarno, hingga Prambanan. Kecamatan-kecamatan itu letaknya memang hanya beberapa kilometer saja dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sementara itu, di sisi timur, suporter Persis tumbuh dan dapat dikatakan lebih subur. Basis pendukung tersebut menjamur di daerah-daerah yang bersinggungan dengan Kabupaten Sukoharjo yang mana posisinya hanya selemparan batu dari Surakarta.

BACA JUGA:  Billy Gilmour dan Masa Depan Sepakbola Skotlandia

Letak Klaten yang berada di tengah-tengah antara Solo dan Jogja juga menjadi sangat riskan. Panasnya perseteruan pendukung Persis dan PSIM menjadi penyebabnya.

Terlebih lagi saat pertandingan Derbi Mataram digelar, gesekan antar kelompok suporter amat mungkin terjadi. Contohnya saja saat pertemuan kedua tim tersebut di Mandala Krida pada 2019.

Disamping itu, tentu saja sebagian masyarakat Klaten tergiur dengan kemolekan PS Sleman. Dari sgi lokasi, kabupaten di bagian selatan lereng Gunung Merapi itu memang paling dekat dari Klaten ketimbang Solo dan Jogja.

Eksistensi PSS juga terdongkrak dengan adanya suporter fanatik nan kreatif yaitu Brigata Curva Sud. Tak heran, banyak kawula muda dan penikmat sepak bola klaten yang melabuhkan kebanggaannya kepada mereka.

Ditambah prestasi yang meroket sejak 2016 lalu puncaknya terjadi kala menjuarai Liga 2 pada 2018 menjadi alasan lain. Mau bagaimana lagi, Laskar Sembada juga merupakan satu-satunya tim yang berada di kasta teratas dan masih mudah dijangkau.

Klub itu juga pernah mengorbitkan salah satu putra kebanggaan Klaten, yakni Fachruddin Aryanto. Karena kultur sepakbolanya memang cukup dekat, maka tak heran suporter PSS juga menjamur terutama di Klaten bagian barat.

Tumbuhnya basis tiga klub dari daerah tetangga tersebut jalas tak bisa lepas dari jarak tempuh. Stadion Maguwoharjo, Manahan, Mandala Krida letaknya tak terlalu jauh dan masih mudah dijangkau bagi warga Klaten yang ingin menikmati pertandingan kandang.

Bandingkan dengan jarak ke pusat Jawa Tengah di Semarang misalnya. Solo dan Jogja jauh lebih terjangkau. Meski begitu, basis suporter PSIS di Klaten juga cukup untuk menunjukkan eksistensi yang tidak bisa dianggap remeh.

Dengan menjamurnya basis-basis suporter dari berbagai klub di Indonesia, boleh dikatakan bawha Klaten merupakan daerah dengan multikultur dalam hal sepakbola. Kawasan yang warganya memiliki kebanggan berbeda-beda dalam mendukung sepakbola Indonesia.

Situasi seperti itu menumbuhkan harapan akan harmonisme. Meskipun terdiri dari banyak budaya sepakbola ―yang tak harus disatukan―, kerukunan di masyarakat tanpa membeda-bedakan kebanggaan harus tetap dijaga dan Klaten tetap bisa bersinar sesuai dengan slogannya.

Komentar