Rossi-Biaggi, Del Piero-Totti dan Kewajaran Menangisi Rival

Riding a race bike is an art. A thing that you can do because you feel something inside – Valentino Rossi.

Seorang anak muda, kelahiran Urbino, Italia, menggemparkan tanah Malaysia pada tanggal 31 Maret 1996.

Sirkuit Shah Alam menjadi saksi bagaimana debut dari seseorang yang kelak akan menjadi ikon dari salah satu cabang olahraga yang mendunia, balap motor.

Anak muda itu bernama Valentino Rossi. Seorang pebalap debutan yang mampu mengasapi duet juara dan runner up GP 125 cc dua tahun sebelumnya, Noboru Ueda dan Kazuto Sakata.

Dunia pun terhenyak. Siapakah gerangan anak muda ini?

Waktu berjalan dan dunia semakin mengenal anak muda ini. Rossi yang identik dengan beberapa sebutan, seperti Rossifumi, Valentinik, dan The Doctor, lantas mendapat tempat di hati para penggemarnya berkat torehan spesial yang mampu ia buat.

Dan tahun ini, tepat dua puluh lima tahun karir balapnya, dengan sembilan gelar juara dunia di semua kelas, Rossi memutuskan untuk mengakhiri kisah panjangnya di atas trek.

Karir yang bisa disebut gemilang, meski tetap ada pasang surutnya. Karir yang (mungkin) sulit disamai atau diulang oleh pembalap-pembalap lainnya. Karir yang tidak akan pernah dilupakan oleh para penggemarnya di seantero Bumi.

Dunia menangis. Tentu saja. Dunia kehilangan sosok yang menjadi ikon balap motor.

Jujur saja, saya bukan penggemar Rossi. Sejak lama, saya mengidolakan rival utamanya di kancah balap yaitu Max Biaggi. Namun pensiunnya Rossi, tetap membuat saya menangis.

Rasanya seperti ada yang kosong. Entahlah, saya tak bisa menerjemahkannya dengan kata yang lebih baik atau puitis. Namun itulah yang saya rasakan.

Rivalitas Rossi-Biaggi di kancah balap motor dikenal amat sengit. Keduanya sering terlibat duel panas di atas trek dan beradu komentar-komentar pedas.

BACA JUGA:  Menjadi yang Terbaik ala Carlo Pinsoglio

Salah satu duel yang paling tak terlupakan pastilah GP Jepang 2001. Saking sengitnya, Biaggi sampai menyikut Rossi di tengah lomba.

Kesal dengan perilaku rivalnya itu, Rossi mengacungkan jari tengah kala berada di depan Biaggi. Biaggi sendiri kemudian dihadiahi bendera hitam oleh steward alias didiskualifikasi dari balapan.

Rossi sendiri punya prestasi yang lebih cemerlang saat beradu kemampuan dengn Biaggi.

Ia sukses merengkuh gelar juara dunia balap motor di kelas utama sedangkan Biaggi tak pernah meraihnya.

Antara Del Piero dan Totti

Bergeser ke dunia sepakbola, hal serupa juga pernah saya alami. Semuanya terjadi ketika Francesco Totti memutuskan pamit dari lapangan hijau.

Totti bukanlah pesepakbola yang saya idolakan. Begitu juga klub yang ia bela, AS Roma.

Sejak akhir 1990-an, saya menjadi pengagum Alessandro Del Piero (rival Totti di level klub) sekaligus mendukung klub yang diperkuatnya kala itu, Juventus.

Dari kurun waktu tersebut, saya mulai menikmati rivalitas di antara keduanya pada level klub.

Rivalitas yang selalu seru karena Del Piero dan Totti membawa identitas klub kebanggaan kota masing-masing yaitu Turin dan Roma.

Perjuangan Totti jelas tidak mudah, bahkan ia sempat mendapat tawaran dari beberapa klub elit pada masa jayanya seperti AC Milan dan Real Madrid.

Akan tetapi, Totti memilih bertahan di Roma yang ia bela sedari kecil. Padahal, kans meraih trofi dan uang lebih banyak bisa didapatkannya andai mau hijrah ke Milan atau Madrid.

Kesetiaan Totti kepada I Giallorossi memang tiada duanya. Tak heran kalau ia menjadi simbol klub di era modern.

Sampai akhirnya, usai memainkan 785 pertandingan dan membukukan 300 gol, Totti memutuskan pensiun pada Mei 2017 silam.

BACA JUGA:  Menjadi Lebih Besar Tanpa Papu Gomez

Ada banyak kesedihan yang meluap saat menyaksikan Totti mengucapkan kata-kata perpisahan.

It’s really over now. I’m taking off that jersey for the final time.”

Siapapun yang mendengar kalimat itu, pasti merasa kehilangan. Terlebih bagi mereka yang mengikuti perjalanan karir Er Pupone, julukan Totti.

Saat menyaksikan video itu, jujur saja air mata saya belum kering karena beberapa tahun sebelumnya, Del Piero lebih dahulu memutuskan untuk mengakhiri karir sepakbolanya.

Tahun ini, hal tersebut terulang kembali meski dari cabang olahraga berbeda.

It’s difficult, it’s a very sad moment because it’s difficult to say and to know that next year I will not race with motorcycles”.

Segelintir kalimat perpisahan Rossi sebagaimana dilansir oleh motorsport itu membuat hati saya bergetar.

Kalau kata orang, ini adalah akhir dari sebuah era. Akhir dari suatu masa. Ya, era Rossi beratraksi di atas motor balap.

Saya pun percaya bahwa semua masa akan ada akhirnya. Seperti yang dilantunkan The Rain dalam lagu Terlalu Indah.

Ada awal dan ada akhirnya yang mungkin tak dapat terurai semua.

Bagaimanapun, perpisahan itu menyedihkan dan bisa jadi menyakitkan. Namun perpisahan adalah kepastian dari perjumpaan. Satu yang pasti, menangisi kepergian rival adalah hal yang manusiawi.

Apalagi rivalitas tersebut melahirkan banyak cerita menarik yang abadi. Seperti persaingan Rossi dan Biaggi di atas trek atau Del Piero dan Totti di atas lapangan hijau.

Komentar
Juventini sejati yang tinggal di kota gudeg berhati nyaman. Senang diajak ngobrol tentang sepakbola, otomotif, dan ilmu pengetahuan. Dapat disapa di akun Twitter @IgnatiusAryono