Saatnya Bermuhasabah, Inter Milan!

Menang, seri, menang, menang, kalah, seri. Itulah rapor Inter Milan semenjak Serie A musim 2019/2020 dilanjutkan kembali pasca-jeda pandemi Corona. Sebetulnya, raihan 11 angka dari 18 poin maksimal yang sanggup dipetik Romelu Lukaku dan kolega tidaklah buruk.

Akan tetapi, semua tampak menjijikkan karena I Nerazzurri kehilangan poin dengan cara-cara komikal seperti yang biasa dipertontonkan klub amatir. Misalnya saja kebobolan akibat hilang konsentrasi di menit-menit akhir pertandingan atau kemasukan gol lantaran para penggawanya bikin kesalahan elementer.

Padahal di atas kertas, Inter Milan cenderung lebih tangguh dibanding lawan-lawannya saat kehilangan poin tersebut (Sassuolo, Bologna, dan Hellas Verona). Namun begitulah sepakbola, materi pemain yang lebih baik atau nama besar pelatih bukan jaminan sebuah tim dapat menekuk lawannya dengan mudah. Satu waktu mudah diprediksi, lain kali susah ditebak. Persis seperti kamu.

Gara-gara kehilangan tujuh poin krusial itu, sekarang Inter Milan harus menerima nasib terjengkang ke posisi empat klasemen sementara bermodal 65 poin. Mereka tertinggal sebiji angka dari Atalanta yang duduk di peringkat tiga serta tripoin dari Lazio yang nangkring di tempat kedua. Juventus? Maaf-maaf saja, mereka sudah nyaris tak tersentuh sebab punya tabungan sepuluh angka guna membuat jarak dari puncak klasemen.

Walau surplus 14 poin dari AS Roma dan Napoli yang bertengger di peringkat lima serta enam sehingga kans lolos ke Liga Champions musim depan masih terbuka lebar, Interisti tetap meradang dengan performa I Nerazzurri belakangan ini.

Beragam bentuk kekecewaan Interisti membanjiri media sosial selepas laga kontra Bologna maupun Verona. Ada yang menghujat aksi para pemain. Ada yang mengkritik keputusan taktik sang pelatih, Antonio Conte, yang dinilai gagal memaksimalkan sumber daya kepunyaan timnya. Ada pula yang mencibir kepandiran Inter Milan secara keseluruhan.

Melihat performa tim yang meyakinkan di paruh pertama musim, memblenya penampilan Lukaku dan kawan-kawan di paruh kedua memang sangat menjengkelkan. Alih-alih bersaing di jalur juara, I Nerazzurri tampaknya sedang menyalin rekat kebiasaan Arsenal di periode akhir kepemimpinan Arsene Wenger. Apalagi kalau bukan finis di empat besar demi mengunci tiket ke kejuaraan antarklub Eropa nomor wahid dan beroleh pundi-pundi uang dalam jumlah gemuk.

Berdasarkan laporan Bolasport, klub yang berdiri tahun 1908 ini sudah membuang-buang 20 poin sepanjang musim ini dengan 14 poin di antaranya hilang selepas pergantian tahun. Lucunya, angka-angka tersebut menguap begitu saja lantaran I Nerazzurri tak mampu mempertahankan keunggulan, utamanya di 15 menit terakhir pertandingan.

Lantas apa yang menjadi biang keladi inkonsistensi penampilan klub yang dimiliki Suning Group ini?

Kedalaman Skuad

Sepanjang bursa transfer musim panas dan musim dingin, I Nerazzurri mencomot sekurangnya 10 pemain, baik dibeli permanen maupun dipinjam. Mulai dari Diego Godin, Christian Eriksen, sampai Nicolo Barella, dan Ashley Young. Tujuan kubu manajemen jelas, menambal lubang yang ada di tubuh skuad sehingga mereka lebih kompetitif.

BACA JUGA:  Kans Italia di Euro 2016 dengan Skuat Ala Kadarnya

Tatkala menjalani paruh pertama musim, segalanya tampak baik-baik saja karena Inter Milan sanggup memepet Juventus di papan atas. Jika sebelumnya dikenal sebagai tim yang mengandalkan umpang silang dan Insya Allah gol, Lukaku dan kawan-kawan di bawah arahan Conte seperti punya identitas permainan yang jelas. Tak heran bila mereka mulai disebut-sebut sebagai penantang serius gelar Scudetto musim 2019/2020.

Sayangnya, performa impresif itu hanya bertahan sesaat. Ketika sejumlah penggawa penting dihantam cedera atau suspensi karena harus bertanding dalam jadwal yang padat, wajah Inter Milan yang sesungguhnya terlihat. Menepinya Alexis Sanchez, Kwadwo Asamoah, Barella, Marcelo Brozovic, Stefan de Vrij, Lukaku, Stefano Sensi, dan Milan Skriniar dari lapangan bikin kelemahan I Nerazzurri gampang terekspos.

Bukannya mengungguli lawan, termasuk yang lebih lemah, Inter Milan malah jadi bulan-bulanan. Akibatnya, mereka pun sukar meraup hasil-hasil positif dan tercecer dari persaingan. Terdemosinya Lukaku dan kawan-kawan ke Liga Europa gara-gara rontok lebih dini di ajang Liga Champions merupakan satu dari sekian bukti otentiknya.

Nahas, para pelapis semisal Cristiano Biraghi, Roberto Gagliardini, Andrea Ranocchia, Borja Valero, dan Matias Vecino sering tampil inkonsisten saat mendapat kepercayaan Conte. Bagus di satu laga, amburadul di partai lainnya. Sementara Sebastiano Esposito masih kelewat hijau untuk memikul ekspektasi tinggi dari fans.

Kualitas skuad yang timpang antara tim utama dan pelapis membuat Inter Milan rentan mengalami kemerosotan performa. Terlebih saat mereka dijejali jadwal pertandingan yang padat, entah di kompetisi domestik saja atau gabungan dengan kompetisi regional.

Maka membenahi problem ini jadi kewajiban pihak manajemen di bursa transfer musim panas 2020/2021 nanti. Jangan pula I Nerazzurri tergiur memboyong figur-figur berharga mahal karena gengsi semata. Merekrut pemain yang sesuai dengan kebutuhan tim justru punya urgensi tinggi. Dengan begitu, klub dapat memiliki kedalaman skuad yang merata dan fondasi tim yang lebih kokoh.

Mentalitas

Interisti tentu paham bahwa perjalanan tim kesayangan mereka selama sewindu terakhir sangat inkonsisten. Bagus di paruh pertama, jeblok di paruh kedua. Bertarung di jalur juara pada awalnya, berakhir dengan yang penting lolos ke Eropa. Begitu terus dan berulang-ulang.

Ironisnya, ada banyak juru taktik yang jadi korban performa rollercoaster Inter Milan. Mulai dari Rafael Benitez, Gian Piero Gasperini, Claudio Ranieri, Walter Mazzarri, Luciano Spalletti hingga Andrea Stramaccioni. Oleh manajemen, mereka dianggap gagal bikin tim ini beraksi dengan lebih prima.

Benar jika pelatih memiliki tugas mereparasi mental tim besutannya. Namun hal itu takkan berpengaruh andaikata sang pemain tak punya keinginan untuk memperkuat mental bertandingnya sendiri. Kedua belah pihak wajib bekerja sama, bergerak sebagai satu unit yang utuh.

Ibarat sebuah kendaraan roda empat, Inter Milan selepas era Jose Mourinho seperti FIAT 500 berbodi Lamborghini Aventador. Tampak elegan dari luar, tapi payah di bagian dalam. Tanpa mental yang tangguh, penyakit inkonsisten Inter akan selalu kambuh saban musim dan sulit bagi mereka untuk berjalan ke arah yang benar.

BACA JUGA:  Sepak Bola Arab Saudi dan Iran Di Tengah Persimpangan

Aksi-aksi bodoh dalam laga kontra Sassuolo, Bologna dan Verona harus dilenyapkan di laga-laga selanjutnya. Bila ada sesuatu yang mudah untuk dilakoni, kenapa harus mempersulit diri sendiri? Conte beserta anak asuhnya perlu duduk bersama dan mencari solusi dari permasalahan yang satu ini.

Mengapa kaki-kaki mereka justru berat untuk digunakan berlari setelah unggul? Keraguan apa yang muncul di pikiran mereka saat menguasai bola? Ketakutan apa yang menghantui tatkala musuh mendekati gawang Handanovic? Tekanan apa yang membuat mereka sulit tampil lepas dan tak tahu bagaimana cara menyudahi laga lebih cepat?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab secara tuntas. Jika tidak, persoalan mental di tubuh mereka akan terus ada dan menjadi senjata makan tuan.

Taktik yang Lebih Fleksibel

Layaknya para pelatih lain, Conte tentu memiliki preferensi taktiknya sendiri. Formasi dasar 3-5-2/3-4-1-2 merupakan kesukaannya. Pelatih kelahiran Lecce itu juga gemar memainkan sepakbola dengan intensitas tinggi sepanjang laga.

Ia akan menginstruksikan anak asuhnya buat menguasai bola dan memanfaatkan ruang untuk mencetak gol. Sementara di kala bertahan, timnya bakal merapatkan barisan, mempersempit ruang dan terus melakukan pressing.

Sayangnya, hal itu dapat dilaksanakan dengan enak bila skuadnya dalam kondisi bugar seratus persen. Ketika dihajar jadwal pertandingan yang padat atau ditinggal sejumlah pilar, I Nerazzurri keteteran. Terlebih skuad asuhan Conte tak mempunyai kedalaman yang mumpuni. Mereka seperti mobil yang gampang kehabisan bensin. Bermain tanpa gairah serta penuh kebingungan, sering membiarkan lawan berkreasi semaunya, dan sulit keluar dari tekanan. Medioker.

Memaksa anak asuhnya buat terus menggeber tenaga sepanjang laga saat ada di kondisi pincang tentu kurang bijak. Itu membuat Inter Milan acap kehilangan fokus di fase-fase kritis. Apalagi Conte juga cenderung reaktif dalam menggunakan jatah pergantian pemain. Ketika tim lawan sudah membuat perubahan, barulah Conte memberi respons. Apesnya, keputusan itu terlambat karena Lukaku dan rekan-rekannya lebih dulu kehabisan tenaga atau mengalami kebuntuan akut.

Conte memang dipusingkan dengan keterbatasan sumber daya yang ia miliki dan jadwal pertandingan yang menguras energi. Namun bagaimanapun juga, ia mesti bijak, cermat dan fleksibel dalam menerapkan strategi di atas lapangan sehingga tim asuhannya bisa kembali tampil maksimal dan mampu merengkuh hasil positif.

Menjadi kampiun Serie A masih sebatas mimpi bagi I Nerazzurri. Namun mengakhiri musim di peringkat dua bukanlah kemustahilan kendati Lazio dan Atalanta juga mengincar posisi tersebut. Usai menelan hasil-hasil buruk, Inter perlu bermuhasabah guna mencari solusi dari segala masalah yang ada.

Sanggup melakukannya, Lukaku dan kawan-kawan berpeluang tampil meyakinkan lagi. Namun bila tidak, Interisti harus menyiapkan kekuatan jantungnya sampai musim ini benar-benar selesai.

Komentar