Persela: Berbenah atau Degradasi?

Kompetisi tertinggi liga persepakbolaan Indonesia memang harus diakui tak pernah terlepas dari kekusutannya. Meski begitu, Liga Indonesia masih memiliki keseruan tersendiri bagi para penikmatnya.

Salah satu hal yang menjadi keseruan sekaligus perhatian publik dari Liga Indonesia adalah perkembangan klub-klubnya.

Beberapa musim terakhir, klub yang menjadi kontestan Liga Indonesia didominasi beberapa klub baru yang memiliki pengelolaan cukup bagus dan juga dukungan finansial yang mumpuni.

Misalnya saja Bhayangkara FC dan Bali United. Keduanya berhasil merangsek dan merusak hegemoni klub-klub tangguh era Perserikatan seperti Persib, Persija, dan Persipura.

Di sisi lain, masih ada juga tim ‘tradisional’ yang awet berlaga di kasta teratas sepakbola Indonesia kendati selalu berlabel underdog. Siapa lagi kalau bukan Persela.

Kesebelasan yang berdiri pada 18 April 1967 dan berjuluk Laskar Joko Tingkir ini merupakan penghuni tetap divisi tertinggi sepakbola Indonesia sejak era Indonesia Super League pada 2004 sampai kini memasuki era Liga 1.

Persela menjadi 1 dari 7 klub yang tak pernah merasakan degradasi selama hampir dua dekade.

Prestasi terbaik Laskar Joko Tingkir di kancah nasional sendiri diperoleh dengan menempati peringkat empat ISL musim 2011/2012

Berbeda dengan klub-klub papan atas di Indonesia seperti Persib, Persija atau Persebaya yang memiliki dukungan finansial mumpuni, Persela mencoba bertahan di sengitnya kompetisi tertinggi persepakbolaan Liga Indonesia dengan finansial yang tergolong seadanya tetapi melakukan pengelolaan secara mandiri dan profesional.

PT Persela Jaya yang menaungi Persela melakukan pengelolaan bisnis klub dengan mengedepankan filosofi kekeluargaan serta kehangatan dalam tim untuk mengarungi setiap tantangan yang dihadapi dan senantiasa berusaha untuk menjadikan Persela yang awalnya klub ‘tradisional’ bertransformasi menjadi klub profesional.

BACA JUGA:  Mengapa Pesepak Bola Indonesia Perlu Berkarier di Luar Negeri?

Pada musim ini misalnya, gebrakan-gebrakan manajemen Laskar Joko Tingkir dalam mengelola bisnis klub seharunya patut diberikan apresiasi khusus.

Seperti pendirian gerai resmi klub, Persela Store, yang menjual merchandise orisinal dengan harapan menambah pemasukan klub.

Lalu ada kepemilikan sertifikat hak paten atas merek dan logo Persela oleh PT Persela Jaya secara resmi dari Kemenkumham.

Gebrakan lainnya muncul saat tim yang berkandang di Stadion Surajaya ini resmi memiliki bus baru sebagai sarana operasional tim dalam mengarungi kompetisi tertinggi persepakbolaan Liga 1 musim 2021/2022 dan peresmian Persela Football Academy.

Sayangnya, pengelolaan bisnis klub yang cukup baik itu berbanding 180 derajat dengan urusan pengelolaan teknis klub.

Teknis klub disini mencakup kesiapan tim mengarungi kompetisi, kedalaman skuad tim, hingga jajaran orang yang berada di kursi kepelatihan.

Dalam persiapan tim guna kompetisi Liga 1 misalnya. Menurut banyak pihak khususnya fans, Persela memiliki persiapan yang cenderung singkat bahkan seperti kurang siap.

Lihat saja dari penunjukan pelatih dan pembentukan tim yang dilakukan berdekatan atau mepet dengan sepak mula kompetisi.

Selanjutnya, kedalaman skuad yang sangat jauh dari kata layak untuk bersaing di Liga 1. Kualitas starting eleven dengan barisan penggawa cadangan terbilang jomplang. Saat pemain utama ditarik keluar dan digantikan pemain pengganti, praktis cara main Laskar Joko Tingkir ikut berubah.

Kursi kepelatihan pun demikian. Penunjukan Iwan Setiawan sebagai pelatih dan Didik Ludiyanto sebagai asisten pelatih sempat menjadi pro dan kontra di kalangan Persela Fans.

Terbukti, rentetan hasil buruk yang diraih Birrul Walidain dan kawan-kawan membuat sang pelatih diberhentikan oleh manajemen. Persela Fans memang sudah lama mendesak agar pelatih bermulut besar itu dicopot karena tak ada hasil positif yang datang sejak kehadirannya.

BACA JUGA:  Dejan Out!

Banyak yang merasa bahwa musim ini bak nestapa bagi Persela. Kiprah mereka jauh dari memuaskan. Alih-alih bersaing di papan tengah, Laskar Joko Tingkir malah akrab dengan zona degradasi.

Begitu berat rasanya melihat kebanggan warga Lamongan harus terseok-seok seperti ini. Bertahun-tahun bertahan membawa nama Lamongan ke pentas nasional melalui sepakbola, kini mereka malah lebih dekat dengan ancaman degradasi.

Mungkinkah rekor tak terdegradasi selama belasan musim itu patah di musim ini? Semoga tidak.

Sudah sepantasnya manajemen dan suporter bersinergi untuk kemajuan Persela. Setidaknya, guna sintas di Liga 1 musim 2021/2022.

Nama Persela dan Lamongan di pentas sepakbola nasional kudu dijaga. Mimpi besar untuk meraih prestasi harus dipelihara.

Jika selama paruh pertama musim ini Laskar Joko Tingkir keteteran, maka di paruh kedua nanti mereka mesti bangkit.

Persela harus membasmi hantu degradasi yang membayangi dengan rapalan doa serta performa yang apik di atas lapangan.

Jangan kecewakan publik Lamongan, Persela. Seriuslah dalam berbenah.

Komentar
Penggemar Persela dan Manchester United yang gemar jalan-jalan dan makan-makan. Dapat disapa via akun Twitter @hasbii_