Seandainya Saya adalah Paul Pogba

Adakah dari beberapa pembaca setia Fandom yang merasa kelelahan dan bosan dengan saga transfer Paul Pogba? Atau Anda merasa muak dengan proses negoisasi transfer Pogba yang berlarut-larut dan penuh misteri?

Menurut penelitian ala kadarnya yang saya lakukan, saga transfer musim panas 2016/2017 yang melibatkan Pogba dan Manchester United sudah memakan sedikitnya dua korban. Pertama, Yoga Cholandha yang mencak-mencak karena pemuda 23 tahun tersebut dicap overrated (mungkin kalau overpriced, iya).

Dan kedua, para kontestan Serie A selain Juventus yang keteteran mengimbangi keberingasan Bianconeri dalam membeli pemain untuk mengantisipasi hengkangnya Pogba jelang musim baru akhir Agustus nanti.

Untuk itu, saya coba menuliskan beberapa hal di artikel ini guna member waktu dan ruang bagi kepala dan hati kita agar tenang dan santai sejenak sembari menikmati saga transfer pemain bernama lengkap Paul Labile Pogba ini yang “konon katanya” akan segera deal dalam beberapa hari ke depan.

Gelandang tim nasional Prancis yang hengkang secara gratis dari United menuju Juventus pada musim 2012/2013 lalu ini memiliki banyak sisi menarik. Sangat disayangkan kalau kita tidak mencoba menikmati sisi lain dari Pogba guna menghibur diri dari rumit dan misteriusnya proses transfer dirinya menuju Inggris.

Berikut ada tiga hal yang mungkin akan saya lakukan andai saya adalah Paul Pogba, yaitu:

1. Membayar zakat 2,5%.

Bukan rahasia lagi bahwa selain Mesut Ozil, nama pesepak bola Muslim yang rutin menyumbangkan sebagian penghasilannya untuk kegiatan amal adalah Paul Pogba. Gelandang muda yang rutin berganti model rambut ini banyak melibatkan diri di beberapa kegiatan amal yang salah satu tujuannya adalah membantu anak-anak.

Dengan banyaknya spekulasi mengenai kisaran gaji Pogba di United, terkuak rumor bahwa superstar muda Prancis ini akan mengantongi 400 ribu poundsterling per pekan. Gaji tersebut, andai dirupiahkan dengan kurs saat ini, akan menyentuh angka 6,8 miliar.

Dengan dana sebanyak itu, dan dihitung pendapatannya per bulan sebelum dipotong pajak, Pogba akan mengantongi hampir 1,6 juta poundsterling per bulannya.

Sebagai Muslim yang taat dan patuh pada syariat, dari angka fantastis tersebut, 2,5% bisa digunakan Pogba untuk membayar zakat, dan kalau saya tak salah hitung, angkanya berkisar di nominal 40 ribu poundsterling.

BACA JUGA:  The Pogmentary: Kisah Si Seribu Gaya Rambut ala Paul Pogba

Empat puluh ribu itu jika dikurskan ke rupiah kurang lebih menyentuh angka 680 juta. Lumayan, bukan? Bisa beli beras dan kebutuhan sembako untuk banyak keluarga di Indonesia dengan angka sedemikian besar tiap bulannya? Subhanallah, yaakhi.

2. Menggaji para bintang Arsenal

Pertanyaan awal, kenapa Arsenal?

Karena Arsenal satu dari segelintir klub di Britania yang mungkin masih sedikit rasional menggaji para pemainnya dengan nominal yang manusiawi. Kecuali gaji Theo Walcott yang menyentuh angka 110 ribu poundsterling per pekan, hampir sebagian besar pemain Arsenal mendapat gaji sesuai kapasitas dan posisi pentingnya di tim.

Dari data terbaru per April 2016, pemilik gaji terbesar di skuat Arsenal saat ini adalah Mesut Ozil dengan angka 190 ribu poundsterling per pekan. Di urutan kedua ada nama sayap lincah dari Chile, Alexis Sanchez, yang angka gajinya menyentuh nominal 130 ribu poundsterling per pekan.

Andai kedua gaji dari dua bintang paling top milik klub London Utara ini digabungkan, itu pun masih kalah dengan gaji kotor yang diterima Paul Pogba dari tim Manchester merah tiap pekannya.

Dengan gaji Paul Pogba yang konon berada di angka fantastis per pekannya, pemain yang populer dengan gaya dab style ini mampu menggaji Ozil dan Sanchez untuk bermain bagi dirinya sendiri tiap pekan.

Andai gaji per pekannya terpotong untuk membayar Ozil dan Sanchez sekalipun, Pogba masih mengantongi bayaran sebesar 80 ribu poundsterling, yang mana angka itu masih lebih besar dari gaji para back four Arsenal.

Mulai dari Hector Bellerin (10 ribu poundsterling), Per Mertesacker (70 ribu poundsterling), Laurent Koscielny (60 ribu poundsterling), hingga Ignacio Monreal (50 ribu poundsterling).

Melihat data ini, apakah para Gooner sudah merasa bahwa Arsenal terasa medioker di depan nominal gaji fantastis Paul Pogba?

3. Membuka barbershop.

Sudah saya jelaskan di awal bahwa salah satu kegemaran dan kegilaan Paul Pogba adalah perilaku maniaknya terhadap tatanan model rambut. Jadi, hal terakhir yang akan saya lakukan andai saya Pogba adalah membuka gerai cukur rambut pribadi di seluruh Manchester.

BACA JUGA:  Resep Taktik Sang Juara Liga Inggris

Ini tidak kurang dan tidak lebih hanya upaya aktualisasi diri Pogba mengingat kecintaan berlebihnya terhadap berbagai model gaya rambut bisa tersalurkan seluas-luasnya dan seliar-liarnya seperti meminjam tulisan Ernest Hemingway.

Hemingway pernah menyebut bahwa usaha potong rambu tadalah home of the free and the brave. Saya ambil dua kata kunci menariknya, free and brave. Bebas seperti jiwa muda Pogba, dan berani seperti tatanan gaya rambut yang cenderung liar dan surealis.

Dari berbagai sumber yang saya dapat dari riset ala kadarnya, biaya membuka barbershop atau cutbox di Inggris “hanya” membutuhkan biaya tidak lebih dari 20 sampai 40 ribu poundsterling sebagai modal awal.

Dengan angka sedemikian pun, Anda sudah memiliki gerai barbershop pribadi, mampu menggaji dua sampai tiga karyawan, dan mempunyai lapak sendiri di berbagai tempat seperti di pinggiran jalan atau bahkan di dalam mall.

Bayangkan berapa barbershop yang bisa dibuka Pogba dengan gaji fantastisnya di United? Kalau Pogba mau dan serius, ia bisa memenuhi Greater Manchester dengan puluhan bahkan ratusan barbershop dan menjadikan gaya rambut surealisnya sebagai potongan rambut ala Manchester yang mendunia.

Tentu asyik membayangkan Zlatan Ibrahimovic yang berambut panjang seperti Samson, Wayne Rooney yang semakin mendekati kebotakan, hingga Marouane Fellaini yang berambut seperti lambang partai Golkar itu memiliki gaya rambut seperti Pogba, bukan?

Itu tiga hal yang mungkin saya lakukan seandainya saya Paul Pogba dan juga mungkin, seandainya si pemain benar resmi hijrah kembali ke tempat yang pernah membuangnya dulu.

Para pembaca mungkin memiliki fantasi dan imajinasi tersendiri dan bila berminat, bisa menambahkan di kolom komentar. Karena dari pada pusing memikirkan nominal banderol transfer Pogba yang gila itu, lebih baik kita bersantai sejenak dan melupakan beban hidup.

Lagipula, di era Graziano Pelle mampu mendapat bayaran lebih besar dari Cristiano Ronaldo, mana ada berita tentang transfer yang tidak gila, bung?

Ralat: Zakat dalam Islam nisabnya satu tahun. Dihitung per tahun bukan mingguan atau bulanan seperti dalam artikel ini. Tapi, ya tak mengapa sebagai sebuah naskah yang santai. Mohon maaf untuk kealpaan kami.

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.