Sejarah Persebaya Di Era Perserikatan

Persatuan Sepak Bola Surabaya (Persebaya) merupakan salah satu klub besar di Indonesia. Baik ditinjau dari sejarahnya maupun capaian prestasinya.

Ketika Liga Indonesia dibentuk pertama pada 1994/1995 sebagai gabungan dari Galatama dan Perserikatan, Persebaya berhasil menjadi juara pada edisi ketiga, musim 1996/1997. Bajul Ijo, julukan Persebaya, kembali menjadi juara pada 2004. Berkat gelar itu, Persebaya jadi klub pertama yang jadi juara Liga Indonesia dua kali.

Sejarah berdirinya Persebaya

Klub kebanggaan Bonek ini berdiri pada 18 Juni 1927 dengan nama Soerabhaisasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB). Paijo dan M. Pamoedji, pendiri SIVB, bermaksud menjadikan bond ini untuk menaungi pemain pribumi.

Sebelumnya, pada 1910, berdiri Sorabaiasche Voetbal Bond (SVB). Tapi, bond ini didirikan untuk menjadi representasi masyarakat Belanda yang tinggal di Surabaya. Klub ini juga punya kedekatan dengan pemerintah Hindia Belanda.

Keduanya jelas punya kebijakan yang berbeda. SIVB yang beranggotakan masyarakat pribumi terlibat aktif dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Bersama dengan VIJ Jakarta (sekarang Persija), BIVB Bandung (Persib), MIVB Magelang (PPSM), MVB Madiun (PSM), VVB Solo (Persis), dan PSIM Yogyakarta, tujuh klub ini menginisiasi dibentuknya Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia (PSSI, kata sepak bola baru digunakan mulai kongres 1950 di Solo) pada 19 April 1930 di Yogyakarta.

PSSI kemudian menggelar kompetisi antarklub anggota sejak tahun 1931. Tapi, kemudian vakum mulai tahun 1943 setelah pendudukan Jepang di Indonesia membatasi gerak organisasi. Pada tahun 1943 ini pula SIVB kemudian berganti nama menjadi Persibaya.

Sedangkan SVB berlaga di kompetisi yang diadakan oleh Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). NIVB kemudian diganti menjadi Nederlandsh Indische Voetball Unie) karena pemerintah kolonial beranggapan NIVB sudah tak mampu lagi menandingi PSSI.

Persebaya tidak hanya SIVB

Setelah Indonesia merdeka peta sepak bola pun ikut berubah. PSSI tidak serta merta jadi satu-satunya federasi setelah Ir. Soekarno memplokamirkan kemerdekaan Indonesia.

BACA JUGA:  Menjaga Denyut Nadi Sepakbola Cirebon

Pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS), NIVU masih beroperasi. Mereka menyelenggarakan kompetisi Ikatan Sepak Bola Negara Indonesia Serikat/Voetbal Uni Verenigde Staten van Indonesie (ISNIS/VUVSI). Pesertanya adalah klub yang eksis semasa pemerintahan Hindia Belanda, antara lain VBO Jakarta (pesaing VIJ Jakarta/Persija sebagai anggota PSSI), VBBO Bandung (pesaing Persib), VSO Semarang (pesaing PSIS), dan SVB (pesaing Persibaya).

Pada dua kali penyelenggaraan tahun 1949 dan 1950, SVB selalu menjadi juara. SVB merupakan salah satu tim kuat di NIVU, mereka pernah memenangi kejuaraan sebelas kali. Hanya kalah dari pencapaian VBO Jakarta yang meraih gelar juara 13 kali.

PSSI kemudian dihidupkan kembali pasca-RIS yang berakhir pada 17 Agustus 1950. Melalui kongres PSSI pada 2-4 September 1950 di Semarang, federasi menyatakan akan menggelar Kejuaran Nasional (Kejurnas) PSSI.

Selepas kongres itu PSSI menjadi federasi tunggal sepak bola di Indonesia. Hal ini memaksa klub anggota NIVU bergabung dengan PSSI. Polanya klub NIVU menjadi anggota klub yang berafiliasi dengan PSSI. Misalnya, VBO bergabung menjadi anggota klub internal Persija, lalu VBBO, UNI Bandung, dan Sidolig bergabung dengan Persib, dan ini terjadi di klub lainnya.

Hanya saja ada kasus khusus untuk Surabaya. SVB tidak menjadi anggota internal Persibaya melainkan melebur ke dalamnya dan menyepakati bahwa tanggal lahir Persibaya adalah 18 Juni 1927, yang merupakan tanggal berdirinya SIVB. Di kemudian hari, pada 1959 nama Persibaya bersalin rupa menjadi Persebaya.

Empat gelar juara Perserikatan

Pasca-peleburan ini, Persebaya tampil di Kejurnas PSSI yang di kemudian hari dikenal sebagai kompetisi Perserikatan. Prestasi puncak langsung diraih, Green Force, julukan Persebaya, berhasil menjadi juara pada edisi pertama tahun 1951 setelah mampu mengatasi perlawanan PSM Makassar, Persija Jakarta, dan PSIM Yogyakarta.

BACA JUGA:  [BUKU] Imagined Persebaya: Persebaya, Bonek, dan Sepak bola Indonesia

Tahun berikutnya mereka berhasil mempertahankan gelar juara. Kali ini Bajul Ijo mampu memenangi persaingan dengan Persija Jakarta, Persis Solo, Persib Bandung, PSMS Medan, Persema Malang, dan Persipro Probolinggo.

Selama Perserikatan hingga edisi terakhirnya pada 1994, Persebaya berhasil meraih dua kali gelar juara lagi, yakni pada tahun 1978 dan 1988. Jadi total ada empat gelar juara Perserikatan yang diraih oleh klub yang bermarkas di Gelora 10 Nopember Surabaya ini.

Pada edisi Perserikatan 1978, format kompetisi berubah menjadi turnamen dengan gelar juara ditentukan melalui pertandingan final. Persebaya mampu menekuk Persija dengan skor 4-3 melalui gol yang dicetak Hadi Ismanto (dua gol), Rudy W. Keltjes, dan Joko Malis di stadion Senayan, Jakarta.

Persebaya kembali berhasil memenangi laga final melawan Persija pada 1988 di stadion Senayan, Jakarta, dengan skor 3-2. Laga itu berlangsung hingga babak perpanjangan waktu.

Walaupun dua kali kalah di final melawan Persebaya, hingga Perserikatan digelar terakhir pada tahun 1994, gelar juara Persija masih yang paling banyak. Macan Kemayoran mampu mengoleksi sembilan gelar juara Perserikatan.

Empat gelar juara Perserikatan ini membuat Persebaya total mengoleksi enam gelar juara sepak bola tingkat nasional. Jumlah itu hanya kalah dari Persija dengan total sepuluh gelar juara, Persis dan Persib dengan tujuh gelar juara.

 

NB: Naskah ini pernah diterbitkan sebelumnya di http://gusipul.com/2015/11/28/bajul-ijo-di-era-perserikatan/

 

Disclaimer

Sejarah sepak bola Indonesia tak ditulis dengan baik. Data masa lalu tak terarsip dengan rapi. Apa yang tertulis di sini bukan kebenaran mutlak dan masih bisa diperdebatkan/didiskusikan, serta ada sumber-sumber lain yang masih perlu ditelusuri untuk memperkuat argumen. Jika Anda tertarik dengan sejarah Persebaya, silakan melanjutkan membaca di novanmediaresearch.wordpress.com dan bajulijo.net.

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.