Sepenggal Kisah Galatama

Mendekati pertengahan 2015, pembicaraan mengenai pengelolaan liga profesional di Indonesia belum juga sampai di titik temu. Semuanya masih berkutat dengan wacana bagaimana mengelola liga profesional yang baik. Hal ini juga dibumbui dengan berbagai macam isu, seperti pengaturan skor, fakta bahwa banyak gaji pemain yang belum terbayar, dan intrik-intrik lainnya.

Sejatinya, usaha untuk memiliki liga profesional dan industri sepak bola sudah dirintis sejak empat dekade lalu. Sadar ada potensi yang besar dari sepak bola, baik secara prestasi maupun industri, serta memahami betapa pentingnya memiliki liga yang dikelola secara profesional, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) menyiapkan liga semiprofesional bertajuk Liga Sepak Bola Utama, yang kemudian dikenal dengan sebutan Galatama.

Awal mula Galatama

Galatama merupakan liga semiprofesional yang diharapkan bisa menjadi cikal bakal liga profesional di Indonesia. Sebelum ada Galatama, Indonesia sebenarnya sudah memiliki kompetisi lain dengan skala nasional, namun masih bersifat amatir. Liga amatir itu dikenal dengan nama Perserikatan.

Galatama lahir pada 1979. Ketika itu, ketua umum PSSI adalah Ali Sadikin. Ia menjabat pada tahun 1978-1981. Ketika digulirkan pada tahun perdana, Galatama baru diikuti oleh delapan klub. Dalam perjalanannya, klub yang mengikuti Galatama terus bertambah. Hal tersebut memungkinkan Galatama diselenggarakan dengan pembagian dua divisi, yakni Divisi Utama dan Divisi Satu. Sayangnya, kompetisi Galatama dengan dua divisi hanya berlangsung pada tahun 1983 dan 1990. Hal tersebut menjadi indikator bahwa tidak ada konsistensi dari para pengelola kompetisi.

Beda Galatama dengan Perserikatan

Ketika Galatama mulai bergulir, bukan berarti Perserikatan berakhir. Kompetisi Perserikatan tetap berjalan seperti sebelumnya. Kedua kompetisi tersebut bisa berjalan beriringan karena memang tidak saling berkaitan, khususnya dalam hal pengelolaan klub dan kompetisi.

Klub yang berlaga di Perserikatan merupakan klub daerah yang menjadi muara dari klub-klub anggotanya tersebut. Karena sifatnya amatir, maka klub-klub peserta Perserikatan masih diperkenankan untuk memperoleh subsidi dari Anggaran Penerimaan dan Pendapatan Daerah (APBD).

BACA JUGA:  Hikayat Don Patricio: Dikagumi Real Betis, Menyelamatkan Barcelona

Sementara itu, Galatama beranggotakan klub-klub baru yang pendanaannya ditopang oleh perusahaan swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), serta cukong-cukong maniak sepak bola. Jika semangat Galatama adalah untuk menjadi liga profesional, maka Perserikatan lebih mengedepankan pembinaan pemain dengan identitas kedaerahan (primordialisme) yang menjadi bahan bakarnya. Meski tampak akur, klub-klub Perserikatan ditengarai sempat merasa cemburu lantaran ada kesan jika PSSI lebih memerhatikan klub-klub Galatama ketimbang klub-klub Perserikatan.

Galatama sempat menjanjikan

Pada awalnya, berputarnya roda kompetisi Galatama adalah sebuah torehan yang masuk kategori membanggakan. Bersama dengan Hong Kong League, Galatama dianggap sebagai pionir liga profesional dan semiprofesional di kawasan Asia.

Ada juga cerita yang menyebutkan bahwa Galatama menjadi salah satu bahan studi Jepang ketika mereka hendak membuat J-League. Namun, cerita ini disanggah oleh Joko Driyono, Sekjen PSSI. Terlepas dari benar tidaknya cerita tersebut, liga profesional Jepang pun akhirnya digulirkan pertama kali pada tahun 1996. Ketika itu, Galatama sudah tak lagi ada. Produk awal J-League adalah Hidetoshi Nakata, yang bermain untuk Bellmare Hiratsuka, yang lantas menjelma sebagai The Asian Player of The Year pada tahun 1997.

Galatama memang penuh dengan euforia masyarakat sepak bola Indonesia, baik itu pemain, pelatih, pemilik klub, maupun penonton. Selain karena menyandang predikat sebagai liga semiprofesional, Galatama juga menyuguhkan kualitas sepak bola yang (dianggap) lebih baik daripada Perserikatan. Bagaimana tidak, Galatama dihuni oleh pemain-pemain terbaik Indonesia seperti Hadi Ismanto, Zulkarnain Lubis, Ricky Yakobi, Bambang Nurdiansyah, dan masih banyak lagi.

Galatama juga memerkenankan penggunaan pemain asing. Langkah tersebut diambil oleh pengelola liga agar kompetisi semakin kompetitif dan mampu menarik minat masyarakat untuk menyaksikan langsung pertandingan-pertandingan Galatama di stadion.

Pemain asing yang hingga saat ini masih membekas di memori para penggemar sepak bola nasional karena kemampuannya mengolah Si Kulit Bulat adalah Fandi Ahmad. Legenda hidup sepak bola Singapura ini adalah salah satu ujung tombak terbaik di Asia Tenggara pada dekade 1980-an. Klub-klub besar Eropa bahkan sempat mengajukan tawaran. Namun, ia menolak. Fandi Ahmad lebih memilih untuk bergabung dengan Niac (New International Amusement Centre) Mitra yang bermarkas di Surabaya. Alasannya, selain ingin merasakan atmosfer sepak bola di Indonesia, dengan bermain di Surabaya, ia merasa lebih dekat dengan keluarganya di Singapura dan lebih mudah jika hendak memenuhi panggilan negara.

BACA JUGA:  Kami Ada Karena Persela

Fandi Ahmad tidak sendirian. Bersama kompatriotnya, David Lee, yang berposisi sebagai penjaga gawang, keduanya membantu Niac Mitra menjadi juara Galatama musim 1980/1982. Fandi Ahmad yang bermain di depan bersama Syamsul Arifin mencetak 13 gol untuk membantu klubnya meraih gelar juara. Ia juga berkontribusi besar terhadap torehan 30 gol dari Syamsul Arifin yang kemudian dinobatkan sebagai pencetak gol terbanyak Galatama. Berkat gelar juara ini, Fandi Ahmad dan David Lee memeroleh penghargaan sebagai warga kehormatan kota Surabaya.

Sayang, setelah kesuksesan itu, Fandi Ahmad harus angkat kaki dari Indonesia. Kebijakan PSSI di bawah komando Sjarnoebi Said yang melarang pemain asing bermain di Galatama membuat pria Singapura itu harus mencari klub lain. Fandi Ahmad pun hijrah ke Belanda melanjutkan karier bersama FC Groningen yang berlaga di Eredivisie.

Masalah regulasi pemain asing ini lalu diikuti dengan berbagai macam persoalan lain. Sebut saja masalah pengelolaan kompetisi yang tak profesional, serta skandal pengaturan skor yang menyebabkan popularitas Galatama merosot.

Perlahan tapi pasti, penonton mulai enggan datang ke stadion dan beberapa klub terpaksa gulung tikar. Liga ini akhirnya tinggal nama ketika federasi memutuskan untuk menggabungkan Galatama dengan Perserikatan menjadi Liga Indonesia sejak tahun 1994.

Komentar
Sirajudin Hasbi
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.