Ketika Tarian Rasial Brasil Menghapus “Air Mata Maracana”

Inggris boleh saja mengklaim sebagai negara penemu sepak bola modern, Argentina sesumbar bahwa sepak bola merupakan agama nasional, dan Italia malu-malu mengakui bahwa filosof-filosof sepak bola lahir dari sana, namun tetap saja, gabungan nama besar ketiga negara tersebut masih belum cukup untuk mengimbangi kedekatan determinan “sepak bola” dalam kehidupan sehari-hari rakyat Brasil.

Berikan tanda “=” (baca: sama dengan) antara kata Brasil dan sepak bola. Sebab negara ini—seharusnya—sudah bisa dikategorikan sebagai sinonim bagi kata “sepak bola”.

Bicara soal nafas sepak bola di Amerika Selatan. Tidak hanya Brasil—memang. Uruguay, Argentina, Cile, bahkan negara seperti Kolombia hampir memiliki rutinitas kultural hobi yang seragam; bermain sepak bola.

Sayangnya, hanya Brasil yang memiliki keseimbangan antara hasrat komunal bermain sepak bola dengan rentetan jumlah prestasi turnamen internasional. Gelar lima kali juara Piala Dunia, delapan kali juara Copa America, dan empat juara Piala Konfederasi adalah curriculum vitae yang—jelas—terlalu berlebihan, karena membuat Brasil tidak memiliki pesaing sepadan.

Praktis, satu-satunya “kekurangan” gelar Brasil hanyalah mendali emas Olimpiade untuk cabang olahraga sepak bola.

Prestasi ini semakin masuk akal karena Brasil juga merupakan salah satu “pengekspor” terbesar pemain sepak bola di seluruh belahan bumi.

Dilahirkan di Kastil, dirawat, dan dibesarkan rasisme Brasil

Revolusi terbesar bagi sepak bola barangkali adalah ketika olahraga ini datang ke Brasil tahun 1894 oleh dua bangsawan Inggris, Oscar Cox dan Charles Miller. Sepak bola segera berubah menjadi permainan rakyat setelah sebelumnya merupakan permainan bagi kaum elit kolonial karena memiliki aturan yang ketat dan ribet.

Memudarnya pengaruh kolonialisme Eropa—karena negara-negara penjajah sibuk dengan urusan politik dengan negara lain soal perebutan tanah koloni—menyebabkan sepak bola luput menjadi perhatian bagi aristrokat-aristrokrat Inggris untuk “dilindungi” agar tidak dimainkan oleh para budak Afrika yang dibawa ke Brasil.

Meskipun orang Afrika-Brasil ini sudah menyukai tari-tarian, namun bukan berarti sepak bola kemudian langsung dikombinasikan dengan “bakat” mereka dalam hal menari. Perlu adanya sebuah alasan pahit untuk menyadarkan bahwa gerak lentur seorang penari, ternyata bermanfaat juga untuk bermain bola.

Brasil memang sudah menghapus sistem perbudakan sejak tahun 1888, namun belum berarti memori kolektif akan perbudakan juga ikut hilang. Mantan-mantan budak ini masih dianggap sebagai masyarakat “kelas dua”.

Benar tidak lagi menjadi budak, tapi menjadi “setara” dengan imigran-imigran kulit putih nanti dulu. Pada akhirnya praktik-praktik rasial terjadi di mana-mana. Pada era itu, pelecehan masalah warna kulit dianggap sebagai sesuatu yang alami dan biasa. Sampai kemudian hal tersebut terjadi juga dalam lapangan sepak bola.

Dalam kehidupan sehari-hari, aktivitas penduduk berkulit hitam dan berkulit putih selalu dipisahkan. Orang kulit putih lebih menjaga jarak dan cenderung akan menolak jika mereka diharuskan bertanding dengan tim yang berisi orang kulit hitam.

Kalau pun mau, mereka tidak segan memukuli orang kulit hitam yang berani beradu fisik dengan mereka. Begitulah yang terjadi dengan masa kecil Domingos da Guia di tempat asalnya, Bangu. Dalam buku The Way of Life Brazil, karya Alex Bellos.

BACA JUGA:  Danke, Bastian Schweinsteiger!

“Saya takut bermain sepak bola karena sering melihat pemain kulit hitam—di Bangu—dihajar habis-habisan di lapangan hanya karena melakukan pelanggaran. Bahkan kadang, tidak benar-benar sampai melanggar,” ujar pemain tim nasional Brasil era 1930-an ini.

Peristiwa di Bangu hanyalah contoh. Jadi jelas fenomena ini adalah fenomena massal yang terjadi seantero Brasil. Hal ini kemudian memaksa orang kulit hitam untuk mencari cara agar bisa memainkan sepak bola dengan kontak fisik seminimal mungkin.

“Kakak saya selalu berkata, kucing selalu jatuh di kakinya, bukankah kamu pintar menari? Dia benar. Itu memberi saya ide. Saya kemudian selalu menggoyangkan pinggang. Melakukan dribble pendek dari gerakan muidinho, sebuah tipe tarian samba,” ujar Guia.

Dibantu dengan kemampuan dasar tradisi nenek moyang mereka dari Afrika yang sudah pandai menari maka tidak sulit bagi generasi kulit hitam Brasil untuk bergerak lincah. Dengan trik-trik dan gerakan yang tak terduga, mereka bisa menghindari adu fisik sekaligus pemukulan—tentu saja.

Sepak bola yang merupakan olahraga glamor, kaku, dan disiplin dari tempat asalnya (Inggris) segera berubah ketika dikelola oleh anak-anak pribumi. Sepak bola bertransformasi menjadi lebih cair, cepat, dan indah. Pertumbuhan kultur ini dari tahun ke tahun mendorong pemerintah Brasil untuk mendirikan Confederação Brasileira de Desportos (CBD), Konfederasi Sepak Bola Brasil, pada tahun 1914.

Pada perkembangan berikutnya sepak bola menjadi olahraga nasional. Bahkan menjadi “nilai jual” untuk menyelamatkan rakyat negara tersebut dari konflik karena ketimpangan ekonomi yang hebat.

Menurut Cavalcanti, jurnalis Brasil, “Ini satu-satunya jalan keluar dari kesengsaraan, kelas-kelas masyarakat yang lebih rendah tidak memiliki latar pendidikan yang baik. Mereka tinggal di fevelas di mana narkoba mengendalikan hidup mereka. Olahraga adalah jalan keluar. Dan di Brasil, hanya sepak bola yang membuat mereka peduli.”

Hal yang juga diamini oleh Leonardo, “Harus kami akui, sepak bola adalah masa depan, tradisi, dan kesempatan kami untuk berkomunikasi kepada dunia bahwa kami (negara) hebat,” ujar mantan legenda AC Milan yang menjadi bagian dari pemain Brasil yang memenangi Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat ini.

Awalnya tidak dikenal dan dibenci rakyat sendiri

Piala Dunia 1938, negara tetangga Brasil, Uruguay, adalah negara dengan permainan sepak bola begitu indah, mengagumkan, sekaligus mematikan.

Pada era itu, Uruguay adalah tim yang jauh lebih baik daripada Brasil. Meraih dua medali emas Olimpiade pada akhir tahun 1920-an, serta meraih gelar Piala Dunia pertama sebelumnya. Sudah sejak beberapa tahun ke belakang, Eropa memang takjub dengan keterampilan pemain dari negara-negara Amerika Selatan, terutama pemain-pemain dari Uruguay.

Sejatinya, Brasil telah berpartisiasi di dua gelaran Piala Dunia, tahun 1930 dan 1934. Sayangnya tidak ada yang mengingatnya.

Nama mereka tenggelam oleh nama besar Uruguay. Baru pada Piala Dunia 1938 di Prancis, Brasil mendapatkan kesempatan emas untuk menunjukkan tim nasional mereka kepada dunia ketika pertandingan melawan Polandia—untuk pertama kalinya dalam gelaran Piala Dunia—disiarkan oleh televisi Prancis. Pertandingan inilah yang kemudian akan menjadi rekam jejak sejarah paling mutakhir bagi Brasil sampai beberapa era setelahnya.

BACA JUGA:  Tragedi 1965 dan Sepakbola Surakarta

Pertandingan itu sendiri dimenangkan oleh Brasil dengan banjir gol, 6-5. Leonidas da Silva sontak menjadi terkenal, superstar pertama tim nasional Brasil.

Ketika banyak pihak menduga bahwa Brasil akan membawa pulang piala Jules Rimet untuk pertama kalinya, maka Italia dengan ancaman hukuman mati pemain-pemainnya oleh kekuasaan fasisme Benitto Mussolini mengubur mimpi Leonidas yang tidak bermain di semifinal karena cedera. Dan pada pagelaran berikutnya, Brasil harus menunggu Perang Dunia selesai dahulu untuk bermain sepak bola.

Beberapa tahun pasca Perang Dunia II sepak bola dunia kembali menggeliat. Dibuka dengan Piala Dunia 1950 di Brasil. Di Piala Dunia inilah Brasil mendapatkan pengalaman paling pahit sebagai sebuah negara sepak bola.

Bermain di final dan menghadapi Uruguay—tim yang beberapa dekade sebelumnya merupakan raksasa Amerika Latin. Brasil tenggelam dalam tangis bencana nasional setelah kalah 1-2 dari Uruguay di Maracana.

Para pemain tuan rumah dicaci-maki begitu pertandingan usai. Mereka diperlakukan seolah penjahat bangsa. Kekalahan ini membutakan fakta bahwa tim yang dihadapi Brasil adalah tim yang—memang—pantas juara. Tim yang masih memiliki tuah dan sentuhan juara sejak Piala Dunia 1930. Tim yang “sebenarnya” lebih baik.

Mimpi bocah menghapus luka bangsa

Seorang bocah 9 tahun berjanji kepada ayahnya yang masih sedih akibat kekalahan Brasil dari Uruguay. Bocah itu berjanji akan memenangkan Piala Dunia, si ayah tertawa saja mendengar itu. Delapan tahun kemudian, tawa ayah tersebut menjadi senyum bangga.

Anaknya membuat debut melawan Lev Yashin dari Soviet pada usia 17 tahun. Menjadi yang termuda di antara seluruh pemain Brasil di Piala Dunia 1958, Edison Arantes do Nascimento, nama anak itu, segera menghiasi seluruh headline surat kabar di Brasil. Tentu tidak ditulis dengan nama sepanjang itu, tapi hanya empat huruf; Pele.

Pelatih Vicente Feola membangun tim yang sempurna dari sekelompok individu-individu brilian. Ditambah dengan inovasi dan varian taktik yang beragam di setiap pertandingannya—hal yang masih jarang dilakukan para pelatih pada era itu. Brasil 1958 adalah tim yang memainkan dua pemain non-profesional dalam skuat mereka, satu psikiater, dan satu dokter gigi.

Memainkan formasi 4-2-4 dengan empat penyerang di depan; Pele, Garrincha, Didi, dan Vava. Brasil begitu ofensif. Bahkan Djalma dan Nilton yang merupakan pemain bertahan akan ikut menyerang jika keadaan memungkinkan. Menjadikan tim ini memainkan enam pemain di depan gawang lawan. Gila.

Mario Zagallo, adalah game maker yang cerdik dibantu dengan Zito yang tanpa henti bergerak ke sana ke mari. Meski kalah di pertandingan pertama, Brasil yang mencetak 10 gol di semifinal dan final membawa pulang piala Jules Rimet untuk pertama kalinya.

Legenda sepak bola terbesar sepanjang masa ini menghapus “air mata Maracana” dengan tarian warisan rasialisme bangsanya, sekaligus membayar janjinya kepada ayah paling bahagia.

 

Komentar
Syafawi Ahmad Qadzafi
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab