Son of Manchester

Selebrasi 100 gol Marcus Rashford. (manchestereveningnews.co.uk)
Selebrasi 100 gol Marcus Rashford. (manchestereveningnews.co.uk)

Bagi Rashy kehidupan akan selalu penuh dengan pilihan. Dengan demikian ia akan selalu berada dalam pertaruhan. Selayaknya menendang bola dari titik putih, pesepakbola akan selalu dihadapkan dengan dua kemungkinan yang ekstrem. Dipuja tanpa henti ketika berhasil atau menjadi kambing hitam karena gagal. Marcus Rashford menjadi penendang pertama yang gagal saat adu penalti final Euro 2020 antara Inggrs kontra Italia. Bukan Gianluigi Donnarumma, melainkan tiang gawang yang membuat dirinya dihujat habis-habisan bersama Bukayo Saka dan Jadon Sancho.

“Saya Marcus Rashford, pria kulit hitam, berusia 23 tahun dari Withington dan Wythenshawe, Manchester Selatan. Jika saya tidak lagi punya apa-apa, saya punya itu,” pesannya singkat penuh makna merespons pesan rasial dan perusakan mural bergambar wajahnya yang terlukis di sebuah dinding Coffe House Cafe di Withington.

Rashford lahir dan akan selalu menjadi seorang anak dari Manchester. Performa dan mentalnya menurun drastis pasca pesta sepakbola akbar Eropa saat itu. Rumor kepergiannya dari Old Trafford berhembus kencang, namun tak benar-benar serius kejadian. Sejak dalam pikiran, Rashford sudah menolak berbagai kemungkinan keluar dari kota yang menjadi saksi jalan mimpinya.

Sejak kecil, Rashford sudah dihadapkan dengan pilihan sulit. Tumbuh di Manchester akan selalu mengalami kondisi terpecah belah, termasuk keluarganya. Tiap ulang tahun pada 31 Oktober atau saat malam perayaan natal, Rashy belia akan selalu menantikan sebuah hadiah berupa jersey sepakbola. Namun, jersey yang didapatnya tak hanya sekadar hadiah. Barang sakral itu telah menjadi simbol dogma yang dibawa oleh paman-pamannya. Antara biru atau merah, Rashford kala itu masih setengah-setengah.

Hingga ia menerima sebuah jersey merah, tapi bukan milik Manchester United. Di bagian dada kiri terpatri gambar tiga singa. Sudah jelas jersey itu adalah pemersatu, milik Inggris sang pemegang satu gelar juara dunia. Rashford membalik seragam kebesaran itu. Ketika melihat nama dan nomor punggung, angka 9 terpampang besar dengan nama Wayne Rooney di atasnya. Selesai sudah segala pilihan sulit, perdebatan, dan pertaruhan. Rashford jatuh cinta dengan Rooney dan angka 9. Maka ia mendeklarasikan, bahwa Rashford adalah seorang anak dari Manchester Merah!

Pada 2019 lalu, ibunya menemukan sebuah surat yang ditulis Rashford saat masih berusia 11 tahun. Isinya singkat tapi penuh mimpi. Menjadi pesepakbola profesional untuk Manchester United. Surat itu memang ditulis ketika Rashford sedang menimba ilmu di akademi Setan Merah. Sebuah wadah impian bagi remaja yang jatuh cinta dengan sepakbola. Akademi legendaris yang telah melahirkan talenta hebat dari The Busby Babes hingga Class of ’92.

Sampai Rashford berusia 25 tahun pada 31 Oktober 2022 lalu, dunia telah berputar. Rashford kini merupakan wajah keberhasilan akademi Manchester United yang tak pernah absen menyumbang pemain binaannya ke tim utama sejak pertama kali dimulai oleh Tom Manley dan Jack Wassal pada 30 Oktober 1937.

Bertepatan dengan momen 85 tahun akademi di laga kontra West Ham, Rashford mengukir sejarah 100 gol pertama bersama Setan Merah. Tandukan keras menerima umpan indah Eriksen menembus gawang kawalan Lukasz Fabianski. Ia berlari girang ke arah penonton sambil menunjukkan gestur angka 100 dengan tangannya. Meniru gaya Cristiano Ronaldo ketika menorehkan sejarah serupa pada 2008 silam. Momen itu sekaligus menjadi penanda kebangkitannya musim ini. Rashford perlahan mulai kembali ke bentuk terbaiknya. Tajam, penuh power, dan cair bersama lini depan Manchester United era Erik ten Hag.

Dari 15 pertandingan awal musim ini, ia telah mengoleksi 7 gol dan 3 assists, melebihi capaian musim buruknya tahun lalu saat hanya mampu mencetak 5 gol dan 2 assists dari 30 pertandingan. Banyak pihak mengaitkan penurunan performanya musim lalu dengan aktivitas sosialnya di luar lapangan. Rashford di luar arena hijau adalah seorang filantropis yang mulia.

Paling populer adalah gerakan FareShare pada 2020 lalu ketika Rashford membagikan makanan gratis kepada anak-anak sekolah dari kalangan kurang mampu yang diliburkan akibat pandemi. Setelahnya, ia turut menekan pemerintah Inggris agar memperpanjang kebijakan makanan gratis untuk membantu anak-anak di tengah kondisi wabah COVID-19.

“Tidak pernah menyerah adalah sesuatu yang saya dapat sejak berada di akademi Manchester United,” tegasnya kala itu. Namun, alasan performanya bukan soal itu. Rashford mengakui bahwa musim lalu ia sering berada dalam kondisi kurang ideal dan mengalami masalah dengan kepercayaan diri dan mental. “Terlalu sering musim lalu, saya berada di kondisi pikiran yang tidak ideal. Saya tidak terkejut dengan beberapa hal yang sudah terjadi,” ungkapnya pasca laga kontra West Ham. Sekarang, mentalnya telah kembali dengan fisiknya yang berangsur menguat.

Marcus Rashford dan puluhan pemain Manchester United lainnya kini telah berada di lingkungan yang lebih sehat. Ten Hag harus diakui memegang peranan kunci untuk menyatukan skuad. Bukan kebetulan, bagaimana Anthony Martial, Luke Shaw, dan beberapa pemain yang musim lalu angin-anginan, perlahan bisa konsisten menampilkan yang terbaik musim ini.

Pikirannya kini juga lebih dewasa dan fokus. Membela Inggris di Piala Dunia memang akan selalu menjadi impiannya. Namun lagi-lagi, bagi Rashford hidup adalah pertaruhan. Sekarang, ia memilih fokus dengan dirinya sendiri. Menyelesaikan apa yang belum tuntas dan bekerja setulus hati untuk klub impian. Sejatinya, ia adalah anak yang lahir dari rahim kota tempat bersemayamnya Setan Merah.

17 tahun sudah ia berada di lingkungan Manchester United. Artinya 68 persen masa hidupnya selama ini telah dihabiskan untuk United. 100 gol sama sekali tak buruk untuk pemuda berusia 25 tahun di sebuah klub besar yang berusaha merangkak ke puncak. Ten Hag percaya, bahwa pemegang nomor 10 di United itu masih dapat berkembang lebih jauh lagi. “Saya senang dengan kemajuannya. Bagi saya, Marcus Rashford sudah menjadi pemain hebat, tapi dia masih dapat berkembang. Saya tidak tahu ke mana itu akan membawanya saat ini, akan tetapi kariernya terlihat akan fantastis,” puji sang pelatih

Komentar
BACA JUGA:  Sam Allardyce, Si Gendut yang Ajaib