Stefano Pioli: Si Pengganjal Pintu

Namaku Stefano Pioli dan aku berusia 54 tahun. Sudah dua bulan aku bekerja sebagai pelatih klub yang ingin kembali besar, AC Milan. Selama itu pula, aku menikmati fasilitas kelas atas Milanello, dan aku juga amat terpesona dengan Milan Lab yang katanya mampu memperpanjang karier pemain itu. Aku tidak ingin menyebut pengalaman pertamaku ketika Zvonimir Boban dan Paolo Maldini mengajak berkeliling ke ruang trofi.

Membayangkannya saja, aku merinding. Ada tujuh trofi berbentuk kuping besar itu, yang ketika kulewati, mereka seakan memanggil-manggil ingin bercerita bahwa mereka lelah karena selalu dibangga-banggakan. Padahal yang mereka butuhkan adalah tambahan koleksi, bukan cerita yang terus diulang-ulang.

Siapalah aku ini jika dibandingkan dengan sosok-sosok yang bahu membahu membawa trofi tersebut. Merekalah sosok pembeda dan pionir. Bukan tanpa alasan, mereka bukan sekadar pengumpul trofi, tapi juga menghibur penonton dengan permainan menawan, mengurung lawan dengan dominasi nan rupawan.

Sementara aku? Belum ada apa-apanya. Milanisti di seluruh dunia yang tak menginginkanku bahkan sudah membuat tanda pagar #PioliOut hingga menjadi trending topic di media sosial.

Akulah Si Pengganjal Pintu, yang akan disingkirkan ketika manajemen akan membuka pintu lebar-lebar untuk menyambut pelatih baru. Beginilah aku diperlakukan. Selain dibayar murah, aku juga siap ditendang jika gagal memenuhi target.

Aku juga menyadari bahwa sejak awal bukan aku yang menjadi pilihan utama. Luciano Spalletti adalah sosok itu. Meski kami sama-sama berkepala plontos dan sama-sama pernah melatih klub rival sekota, tapi ia merasa pantas dibayar mahal.

Ia, Spalletti, memang lihai sekali meloloskan timnya ke Liga Champions. Tak peduli kepastian lolosnya terjadi pada pekan terakhir. Toh, hasil akhir kadang menjadi segalanya di negeri ini. Sebegitu pentingnya Liga Champions? Jelas.

Biar begini, aku juga paham tentang finansial klub. Lolos ke kompetisi itu, walaupun akhirnya gagal menembus fase gugur, setidaknya 50 juta euro sudah di tangan. Itu pun belum termasuk pemasukan dari tiket pertandingan dan lain-lainnya. Itulah mengapa ia berani pasang harga mahal. Nominal sebesar 5 juta euro per tahun tidak terasa mahal jika mendapat 50 juta euro sebagai gantinya.

Kembali lagi kepadaku. Dalam hati, aku juga mengakui bahwa kehebatanku belum sementereng rekan sejawat yang satu itu. Karena itulah aku hanya dibayar 1 juta euro saja untuk enam bulan ke depan, dengan tambahan 500 ribu euro jika aku berhasil membawa I Rossoneri lolos ke Eropa.

Itu pun jika mereka tidak tergoda untuk mengontak Spalletti kembali, atau nama-nama lain seperti Mauricio Pochettino, Niko Kovac, Marcelo Gallardo sampai Ralf Rangnick. Sudah jelas bahwa butuh lebih dari sekadar hasil impresif untuk bisa mempertahankan posisiku.

Aku telah melihat jadwal Milan, bahkan sebelum datang ke Casa Milan, kantor megah yang dibangun pada masa kepemimpinan Barbara Berlusconi, untuk menandatangani kontrak. Enam pertandingan pertama yang amat sulit. Lecce yang spartan, SPAL yang kadang mengejutkan, Roma yang berkualitas, Lazio yang solid, Juventus dan Napoli yang kokoh. Jelas, Milan patut mendapat respek lebih dengan jadwal-jadwal berat ini.

BACA JUGA:  Pembuktian Miguel Almiron

Segera setelah pena kugoreskan pada kertas kontrak, tibalah saat bertemu para pemain. Aku cukup sedih melihat mereka, meski tidak terkejut. Tekanan besar, badai kritik, ekspektasi tinggi, bayangan kegagalan meraih target tergurat nyata di wajah Gianluigi Donnarumma dan kolega.

Siapa yang tidak pening menghadapi situasi itu? Tapi, aku tahu cara menghadapi mereka. Aku selalu bersikap jujur dan terbuka, juga lebih banyak berbicara. Mereka, para pemain, jelas butuh sosok yang mampu mengayomi dan mengarahkan.

Akulah yang harus menjadi sosok itu: motivator, pengarah taktik, juga mengajari mereka kapan berlari, kapan menggocek, kapan menembak. Aku juga harus menempatkan mereka pada posisi terbaik di lapangan. Pendek kata: membantu mereka mengeluarkan potensi besar dan meningkatkan kepercayaan diri yang tengah porak-poranda.

Hari ulang tahunku datang hanya seminggu setelah kedatanganku ke sini. Tapi, aku tidak menyiapkan apa-apa. Bahkan membeli kue Red Velvet atau es kopi susu kekinian juga tidak.

Pertandingan debut menghadapi Lecce sudah terlalu menyita perhatian. Aku sudah tahu bahwa mereka adalah tim promosi terkuat, di samping Hellas Verona. Benar saja, pil pahit sudah kuterima ketika Marco Calderoni, pemain yang kuberi partai debut di Piacenza satu dekade lalu, tiba-tiba kerasukan Roberto Carlos.

Hari-hari berat pun harus kulalui. Aku begitu malas membaca media yang mengangkat kegagalanku setinggi-tingginya. Apalagi setelah timku pulang membawa kekalahan dari Roma yang tak diperkuat separuh pemain intinya. Di situlah aku benar-benar merasa kalah, meskipun gol-gol Edin Dzeko dan Nicolo Zaniolo berawal dari kesalahan individual.

Selanjutnya, menghadapi SPAL, Lazio, Juventus, dan Napoli. Kalian sudah tahu bagaimana hasil akhirnya. Dari sini, sikap pendukung seperti terbagi dua. Ada yang menganggap penunjukanku tidak menyelesaikan masalah, tapi tidak sedikit pula yang mengapresiasi permainan Milan sejak kutangani. Kata mereka, permainan kami jauh membaik, meski skor akhir seringkali tidak berpihak.

Sekali lagi, aku sadar bahwa negara ini amat mendewakan hasil akhir. Performa baik tetap harus diganjar dengan kemenangan, karena jika tidak, semua itu seakan tiada arti. Sudah tidak ada lagi pemakluman bagiku, karena jadwal padat sudah lewat.

Berikutnya, tur Emilia Romagna akan kami hadapi. Parma, Bologna, dan Sassuolo secara beruntun. Aku tidak peduli walau banyak makanan lezat berasal dari wilayah itu. Wilayah yang juga tempat kelahiranku. Sembilan poin adalah kewajiban, karena jika tidak, tekanan akan semakin besar, dan aku akan semakin sulit untuk membangkitkan pemain-pemainku.

Aku sadar akan kegundahan beberapa pemainku. Suso sepertinya akan berganti agen dari Alessandro Lucci ke Mino Raiola. Lalu Hakan Calhanoglu secara eksplisit menyebut tidak akan menolak jika datang tawaran pindah ke Bayern Muenchen atau Borussia Dortmund. Belum lagi Krzysztof Piatek malah berujar tentang valuasi transfernya pada saat kita semua berbicara tentang jumlah golnya.

Akan tetapi, aku tidak khawatir. Bagiku, pemain boleh berbicara apa pun selama tidak menjelek-jelekkan klub, pendukung atau manajemen. Tentang pemain-pemain di bawah Raiola, bukankah selama ini mereka baik-baik saja? Donnarumma, Giacomo ‘Jack’ Bonaventura, dan Alessio Romagnoli masih bahagia di sini, dan mereka akan terus bertarung bersamaku setidaknya hingga akhir musim ini.

BACA JUGA:  Lenyapnya “Phantom Dribble” Van Basten di Rimba Serie A

Soal masa depan mereka, tentu saja aku tidak bisa menjaminnya. Namun pasti aku akan berusaha membuat mereka tetap di sini dengan meloloskan Milan ke Liga Champions.

Calhanoglu? Ia bisa berbicara sesuka hatinya. Pertanyaan besarnya, sudahkah ia berada di level Bayern dan Dortmund? Jika sudah, barulah kita bisa kembali berbicara.

Piatek? Nah, yang ini aku pun bingung. Sudah berulangkali kuminta semua pemain mengarahkan bola kepadanya. Namaun kalau mengontrol bola dengan baik saja tidak bisa….. Ah, sudahlah. Aku malas melanjutkannya.

Aku lebih suka membayangkan kolaborasiku dengan pemain yang sering menyebut dirinya sebagai binatang raja hutan itu. Dengan berada di sini saja, ia sudah sangat membantuku. Tidak akan ada yang berani main ponsel cerdas, atau ponsel itu akan ditendangnya. Ia akan menuntut respek, meminta semua pemain untuk lebih serius dan membenci kekalahan. Namun tunggu dulu. Kedatangannya belum pasti, dan aku tidak suka membicarakan pemain yang bahkan tidak bermain di sini.

Jujur saja, soal pemain bermain ponsel, itu memang aku yang mengizinkan. Kalian tidak tahu, kan, kalau yang mereka lihat itu adalah video taktik hasil analisa tim pelatih? Enak saja kalian menyebut para pemainku bermain Mobile Legend atau membalas DM-DM di Instagram. Mana buktinya?!

Terlepas dari semua masalah yang ada, dan dari segala ketidakpastian masa depanku di sini, aku akan terus bekerja. Aku percaya bahwa tim ini mengalami kemajuan. Mereka kini bermain sebagai sebuah tim, dan inilah yang paling penting. Tentu saja aku berterima kasih kepada Boban dan Maldini yang tiba-tiba menghubungiku. Padahal kami tidak pernah bertukar nomor telepon dan tidak pernah berada dalam satu grup whatsapp yang sama.

Aku adalah Interista, begitu pula keluargaku. Kami bersorak untuk Helenio Herrera, mereka bersorak untuk Nereo Rocco. Kami berdiri untuk Sandro Mazzola, mereka melakukannya demi Gianni Rivera.

Aku bersedih ketika kami menukar Andrea Pirlo dengan Andres Guglielminpietro, sama seperti mereka bersedih ketika Fulvio Collovati memutuskan pindah ke Inter. Selalu berseberangan, bukan? Masa depan memang selalu menjadi misteri, dan kadang kita dipaksa untuk menjilat ludah sendiri.

Bukankah Inter dilatih oleh seorang Juventino, dan Juventus dilatih mantan bankir kelahiran Napoli? Segala hal itu akan dilupakan ketika kami mulai menang. Lalu saat kami mulai menang, mereka akan merengek untuk permainan cantik dan menghibur. Pun bila kami menang di kejuaraan domestik, mereka meminta untuk menang di kejuaraan kontinental. Tidak ada habisnya, dan mereka akan selalu lebih pintar daripada kami.

Sementara, aku masih tetap menjadi Si Pengganjal Pintu, dan pintu ini akan terus kuganjal sekuat tenaga. Kalaupun aku gagal, setidaknya mantan pemain kesayanganku, Davide Astori, akan selalu berbahagia bahwa aku pernah menjadi pelatih di klub tempatnya mengawali karier.

 

 

Komentar
@aditchenko, penggemar sepak bola dan penggiat kanal Casa Milan Podcast