Louis Van Gaal dan Memori 2013

Awal bulan Agustus, asosiasi sepakbola Belanda (KNVB) mengumumkan penunjukan kembali meneer Aloysius Paulus Maria van Gaal alias Louis van Gaal untuk ketiga kalinya sebagai pelatih tim nasional Belanda.

Lelaki jangkung ini harus turun gunung untuk membantu De Oranje lolos ke Piala Dunia setelah mereka tidak berpartisipasi pada 2018 sekaligus menggantikan Frank de Boer yang purnatugas setelah Belanda tersingkir dari Piala Eropa 2020.

Dasar pemilihan itu dikarenakan kandidat yang telah didekati KNVB seperti Erik ten Hag, Henk ten Cate, dan Peter Bosz lebih memilih melanjutkan karir kepelatihan di level klub pada musim ini.

Situasi ketika van Gaal datang saat ini mirip dengan periode keduanya melatih De Oranje.

Ketika itu, Belanda baru saja gugur dari Piala Eropa 2012 secara prematur. Bert van Marwijk dicopot dan van Gaal masuk sebagai juru taktik anyar.

Harapan KNVB jelas, van Gaal bisa membangkitkan performa tim agar lolos ke Piala Dunia 2014.

Sebetulnya, penampilan Belanda di Piala Eropa 2020 kemarin cukup menjanjikan walau dalam keterbatasan. Namun KNVB merasa bahwa de Boer bukan sosok yang mampu menjawab kebutuhan dan ambisi mereka.

7 Juni 2013, sekumpulan orang dari Negeri Tulip menjejakkan kembali ke tanah bekas kolonialnya bukan untuk mencari rempah atau ekspansi wilayah kekuasaan.

Mereka datang untuk mengajak bermain sepakbola bersama tetapi tidak di bawah naungan Hindia Belanda seperti pada Piala Dunia 1938.

Timnas Belanda datang dalam agenda tur benua Asia serta membawa beberapa pemain kunci semisal John Heitinga, Dirk Kuyt, Robin van Persie, Arjen Robben, dan Wesley Sneijder.

Bermain di Stadion Gelora Bung Karno, pertandingan berjalan timpang karena perbedaan jauh kualitas pasukan Oranye dan Garuda.

BACA JUGA:  Tiga Faktor Kebangkitan Timnas Belanda

Skor 3-0 menutup laga setelah gol-gol dari Siem de Jong (dua gol) dan Robben tak mampu dibalas sebiji pun oleh penggawa Indonesia.

Pertandingan tersebut merupakan hal yang emosional dan akan saya kenang sepanjang hidup karena mempertemukan Indonesia dengan Belanda, negara yang saya jagokan di level internasional.

Saya lumayan nekat untuk pulang sejenak, saat masa kuliah di Yogyakarta hampir memasuki ujian akhir semester dan memilih berangkat ke Jakarta demi menonton laga persahabatan tersebut.

Atmosfer di stadion sangat hidup, ramainya beberapa kelompok suporter dari Indonesia timur seperti Maluku dan Papua yang dikenal sangat fanatik untuk mendukung timnas Belanda.

Situasi demikian sampai membuat van Gaal heran kenapa suporter tuan rumah justru bersorak senang saat Belanda mencetak gol.

Hal sentimental yang akan selalu diingat bagi saya ketika satu stadion menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia. Lirik lagu yang membuat saya bergidik merinding dan terenyuh sembari membangkitkan nasionalisme dalam sekejap.

Sejak saya menonton beberapa pertandingan Indonesia secara langung melawan negara lain di stadion, cukup banyak pertandingan yang memiliki kesan tersendiri.

Seperti laga melawan Korea Selatan di Piala Asia 2007, partai uji coba melawan Uruguay yang dihiasi hujan gol, laga penuh ketegangan melawan Turkmenistan, dan duel penuh tensi kontra Malaysia.

Akan tetapi, pertandingan melawan Belanda merupakan salah satu momen pergulatan emosional karena nasionalisme untuk negeri sendiri beriririsan dengan kekaguman melihat tim favorit yang menghampiri eks jajahannya untuk bertanding sepakbola.

Beban berat sekarang ada di pundak van Gaal guna menaikkan moral timnas Belanda yang porak-poranda di Piala Eropa 2020 kemarin.

Van Gaal adalah opsi darurat yang dipilih KNVB buat mengantar Negeri Tulip tampil lebih baik seraya lolos ke Piala Dunia 2022.

BACA JUGA:  Tiga Alasan Kegagalan Belanda Lolos ke Euro 2016

Walau berpengalaman, sejatinya cukup banyak keraguan yang muncul saat van Gaal kembali melatih De Oranje. Terlebih ia datang dengan status sudah pensiun sejak dua tahun lalu.

Bulan September nanti, van Gaal bakal memulai tugasnya di pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Kemungkinannya dari presensinya ada dua, antara bisa tampil bagus hingga lolos dan berprestasi lagi seperti di Brasil 2014 atau goyah dan gagal seperti di tahun 2002 saat pertama kali menangani De Oranje.

Komentar