Sukarnya Klub Eropa Timur Bersaing dengan Klub Eropa Barat

Sejak dimulai pada tahun 1955, hanya ada dua klub sepakbola dari Eropa Timur yang pernah merasakan juara nikmatnya mengangkat trofi Piala/Liga Champions, mereka adalah Steaua Bukarest (1986) dan Red Star Belgrade (1991) yang saat itu sama-sama mengandalkan bakat lokal.

Setali tiga uang, di kancah Piala UEFA/Liga Europa yang dihelat sejak 1971, cuma ada empat kesebelasan dari sisi timur Benua Biru yang mengecup trofi. Mereka adalah Galatasaray (2000), CSKA Moskow (2005), Zenit St. Petersburg (2008), dan Shakhtar Donetsk (2009).

Dibanding tim-tim asal Eropa Barat, pencapaian klub Eropa Timur di kejuaraan antarklub Benua Biru kalah telak.

Enam trofi yang mereka dapat secara keseluruhan bahkan masih tertinggal dari jumlah gelar Piala/Liga Champions kepunyaan AC Milan (7 buah).

Berkaca pada situasi teraktual, kesenjangan yang terjadi antara klub-klub Eropa Barat dan Eropa Timur memang nyata adanya.

Hal ini diperkeruh dengan kompleksitas masalah yang terus mengganggu persepakbolaan di kawasan yang identik dengan bangsa Slavia tersebut.

Sudah menjadi rahasia umum bila perkembangan sepakbola Eropa Timur seperti jalan di tempat.

Pemilik klub yang korup, masalah finansial, buruknya tata kelola, kurangnya visi dalam membangun klub sepakbola, sampai ketergantungan pada korporasi tertentu adalah sekian faktor yang bikin klub-klub Eropa Timur sulit mendekati level tim-tim dari Eropa Barat.

Lalu bagaimana nasib klub-klub dari area Balkan sampai Pegunungan Ararat ke depannya? Apakah mereka akan selamanya hanya menjadi penggembira di ajang Liga Champions maupun Liga Europa? Apakah kesenjangan yang telah tercipta tidak dapat dijembatani?

Periode Kejayaan Tirani

Masa ini merupakan periode emas berbagai macam tirani yang berkuasa di Benua Biru. Sepakbola pada saat itu dipandang sebagai salah satu sektor strategis untuk dijadikan alat propaganda.

Ini adalah era di mana kita semua mendengar cerita dari ayah atau kakek kita mengenai segala macam keterkaitan klub sepakbola dengan penguasa otoriter.

Misalnya saja Real Madrid dan Jenderal Franco di Spanyol yang sukses memenangkan lima trofi Piala Champions.

Ada juga komunitas olahraga Dynamo/Dinamo yang lekat dengan rezim komunis dan sukses mendominasi berbagai kompetisi liga di Eropa Timur selama puluhan tahun.

Tak heran bila di masa tersebut, kesuksesan sebuah tim sepakbola acap dipandang sebelah mata karena dinilai tak murni didapat di atas lapangan. Bisa saja, prestasi itu digondol lantaran pengaruh penguasa di belakangnya.

Pola yang dapat dilihat dari pengembangan sepakbola di wilayah-wilayah negara Uni Soviet pada saat itu erat dengan unsur politis dan berkaitan dengan entitas negara.

Contohnya adalah CSKA Moskow dan CSKA Sofia yang dibentuk oleh militer (Angkatan Darat).

Lalu ada klub-klub bernama depan Dynamo (Moskow, Tbilisi, Bukarest, Kiev, Minsk, Zagreb dan lain-lain) yang dibentuk oleh pihak Kepolisian.

Terakhir, ada kesebelasan yang didirikan oleh Dinas Perkeretaapian Kementerian Perhubungan yang berwujud Lokomotiv (Moskow, Sofia, sampai Tashkent).

Dengan pemerintah, melalui berbagai instrumen, yang mendukung sepakbola secara penuh, bikin para pemain di masa itu mendapat fasilitas kelas satu agar dapat mengembangkan kemampuannya dengan baik.

Hasilnya pun bisa dilihat dengan melejitnya Partizan Belgrade (dibentuk oleh militer Yugoslavia) ke final Piala Champions 1966. Mereka pun sah jadi klub Eropa Timur pertama yang menembus babak puncak kejuaraan antarklub Benua Biru.

BACA JUGA:  Kiprah Pemain Senior di Liga Champions dan Jika Mereka Berada dalam Satu Tim

Catatan gemilang itu lantas diikuti oleh Dynamo Kiev dengan Oleg Blokhin dan Valeri Lobanovskiy yang menunjukkan salah satu permainan paling menarik sepanjang era 1970-an hingga 1980-an.

Anehnya, puncak dari tahun-tahun “emas” ini justru datang ketika komunisme di Eropa Timur runtuh pada akhir 1980-an. Steaua menjadi kubu pertama yang memecahkan kebuntuan sampai akhirnya diekori oleh Red Star.

Angin Perubahan yang Berpihak pada Eropa Barat

Pada awal tahun 1990-an, sepakbola mulai memasuki era modern. Kompetisi-kompetisi di Eropa Barat mulai bergerak ke arah yang lebih profesional, ditandai dengan perubahan nama Premier League di Inggris.

Visi dan misi kompetisi mereka begitu jelas. Sepakbola tak hanya dipandang sebagai hiburan semata, tetapi mulai diseriusi penggarapan bisnisnya alias dijadikan industri.

Ketika sumber daya yang dimiliki klub-klub Eropa Barat kian berlimpah dan masif, tim-tim dari Eropa Timur tak bisa mengimbangi lantaran masih bergantung pada pengelolaan pemerintah atau korporasi milik negara.

Bisnis di kancah olahraga belum dianggap sebagai lahan hijau oleh korporasi swasta setempat pada waktu itu.

Alhasil, butuh proses peralihan dan adaptasi yang lebih lama bagi tim-tim asal Eropa Timur untuk tumbuh secara profesional dan mandiri.

Dari sisi tim nasional, negara-negara Eropa Timur, terutama pasca-runtuhnya Uni Soviet juga mengalami penurunan prestasi.

Perpecahan yang terjadi membuat sumber daya pemain yang sebelumnya melimpah, kini terdistribusi ke negara-negara yang lebih kecil. Padahal, dahulu Uni Soviet dikenal sebagai salah satu negara adidaya di kancah sepakbola, terutama Eropa.

Walau begitu, pada awal 1990-an, negara-negara kecil pecahan Uni Soviet masih mampu menghasilkan beberapa tim nasional yang kemampuannya apik.

Namun hal ini merupakan hasil dari mekanisme lama, bukan perubahan yang muncul dari perkembangan sepakbola secara profesional di negara-negara tersebut.

Piala Dunia 1994 melejitkan Bulgaria dan Rumania, sementara Piala Dunia 1998 melambungkan Kroasia.

Negara-negara ini juga meroketkan sejumlah pemain hebat seperti Hristo Stoichkov, Krasimir Balakov, Gheorghe Hagi, Gheorghe Popescu, Zvonimir Boban dan Davor Suker.

Alasan Klub-Klub Eropa Timur akan Selalu Tertinggal

Pada era modern, jika melihat klub-klub kuat dari kawasan timur yang sempat mencoba untuk berbicara banyak di Eropa, kita dapat melihat model pendekatan bisnis dan pasar transfer yang kurang lebih sama yaitu investasi pemain bintang sebanyak-banyaknya

Galatasaray mengeluarkan uang yang banyak pada 2013 untuk merekrut Wesley Sneijder, salah satu pemain paling dicari saat itu. Ia bergabung dengan Didier Drogba dan Lukas Podolski dua tahun kemudian.

Hasil dari investasi tersebut? Satu gelar liga domestik berhasil mereka menangkan usai puasa empat tahun. Namun tidak ada hasil yang luar biasa di kompetisi kontinental.

Pada 2012, Zenit St. Petersburg mengejutkan semua orang ketika mereka merekrut Hulk dan Axel Witsel yang menghabiskan dana tak kurang dari 90 juta Euro.

Hasilnya? Hanya satu trofi domestik dalam lima tahun dan maksimal hanya mampu menembus babak 16 besar Liga Champions pada tahun 2015.

Klub-klub kaya dari blok timur lain juga sempat meniru pendekatan ini, tetapi hasilnya nihil. Antara gagal atau bangkrut di tengah jalan atau kalah saing dengan klub-klub tradisional lain yang mengandalkan talenta lokal.

BACA JUGA:  PSG: Kisah Berbeda di Prancis dan Eropa

Anzhi Makachkala adalah satu contohnya. Mereka sebenarnya mencoba meniru investasi jor-joran ala Manchester City atau Paris Saint-Germain (PSG) di sisi barat. Sayangnya, kekuatan finansial tim-tim Eropa Timur tak sekuat tim Eropa Barat.

Di luar itu, kualitas dan nama Bundesliga, La Liga, Ligue 1, Premier League, dan Serie A dinilai lebih mentereng ketimbang Liga I, Russian Premier League maupun SuperLiga.

Alhasil, pemain-pemain dunia lebih tertarik untuk menjajal kompetisi di Eropa Barat daripada Eropa Timur.

Apalagi kompetisi di barat Benua Biru menjanjikan fulus yang lebih banyak. Iklim di sana pun cenderung lebih bersahabat ketimbang zona timur yang dingin dan beku.

Membentuk Tim Nasional yang Kuat

Saat ini, ketimbang memaksakan diri melakukan investasi gila-gilaan dengan merekrut pemain bintang berbanderol selangit, ada hal lain yang patut dicoba klub-klub Eropa Timur.

Shakhtar merupakan salah satu pionirnya yakni melakukan pengembangkan pemain lokal muda yang progresif.

Di bawah arahan Rinat Ahmetov dan Mircea Lucescu, mereka sukses membuktikan bahwa rencana jangka panjang dapat mengantarkan klub menuju prestasi.

Dengan fasilitas yang fantastis, manajer yang cerdas dan visioner, talenta-talenta muda lokal yang dikombinasikan dengan talenta-talenta muda dari Brasil serta kesabaran untuk tumbuh bersama bikin Shakhtar mampu mendominasi Ukrainian Premier League dan konsisten menyulitkan tim-tim elite Eropa.

Berdasarkan peringkat koefisien UEFA per Maret 2021, posisi mereka bahkan lebih tinggi dari tim-tim tradisional seperti Ajax Amsterdam, Benfica, dan Internazionale Milano.

Liga-liga di kawasan timur harus mengakui bahwa kesenjangan dengan kompetisi di sisi barat sudah terlalu lebar. Maka strategi baru kudu dibuat demi memperkecil jarak. Salah satunya dengan mengutamakan pengembangan pemain lokal.

Dengan begitu, mereka dapat menelurkan bakat-bakat muda yang kelak bisa ditransfer ke kawasan barat dengan harga beli tinggi. Ya, mereka akan menjadi pemasok pesepakbola berkualitas.

Di sisi lain, hal tersebut juga berdampak pada munculnya tim nasional yang pilih tanding dari Eropa Timur.

Hasil positif dari pergeseran cara pandang tersebut sebenarnya sudah mulai tampak. Serbia (2015) dan Ukraina (2019) mampu menjadi juara di Piala Dunia U-20.

Kroasia juga mampu mengejutkan dunia dengan tampil sebagai runner-up Piala Dunia 2018 kemarin. Semua kesuksesan tersebut diraih dengan pemain-pemain yang ditempa dan berkembang di liga-liga kompetitif Eropa Barat.

Sepakbola memang penuh dengan kejutan. Siapa saja pasti terkesima dengan kisah heroik Yunani di Piala Eropa 2004 atau Leicester City saat menjuarai Premier League 2015/2016. Mungkin, itu adalah pencapaian terhebat pada abad ke-21, setidaknya sampai hari ini.

Melihat tim-tim asal Eropa Timur dapat menyaingi raksasa dari Eropa Barat bak sebuah kemustahilan.

Namun hal itu bisa dipatahkan dengan terus mengekspor pemain-pemain muda berbakat yang kelak bisa menjadi andalan negara-negara Eropa Timur sehingga di level timnas, mereka dapat bersaing dengan jagoan Eropa Barat.

NB: Naskah ini merupakan terjemahan dari naskah How the gap between Eastern and Western European football has become impossible to bridge yang ditulis Alexandru Avram dan tayang di laman boxtoboxfootball.

Komentar
Penggemar Chelsea yang tetap setia meski klub kesayangannya hobi ganti pelatih. Bisa disapa via akun Twitter @CFC_Atma