Tiga Elemen AS Roma: Loyalitas, Cinta, dan Pengorbanan

Sebelum Leicester City menjadi juara Liga Primer Inggris, di Italia lebih dulu ada AS Roma, klub medioker yang menggebrak dan menguasai Serie A pada musim 2000/2001. Tak ada yang salah ketika menyebut Roma adalah klub semenjana di Negeri Pizza jika kita menilik sejarah.

Jangan bandingkan dengan Juventus, Internazionale Milano, atau pun AC Milan. Jumlah gelar juara I Gialorossi bahkan tak lebih banyak dari Genoa. Saat Genoa membutuhkan dua tangan untuk menghitung gelar juara, satu tangan AS Roma malah terlalu banyak untuk menghitung gelar juara Roma.

Tak ada yang bisa dibanggakan oleh Romanisti penggemar Roma selain loyalitas, cinta, dan pengorbanan. Tiga elemen yang sangat normatif dan terlampau biasa untuk membanggakan klub medioker sekelas Roma.

Loyalitas adalah Nama Tengah AS Roma

Jika loyalitas menjadi salah satu ukuran yang bisa dibanggakan oleh sebuah fans, maka Roma tak perlu repot-repot membeli banyak pemain. Loyalitas Romanisti kepada klub kesayangannya ini terlampau banyak dan kalau kalian mengamati derasnya aliran banjir di Jakarta pada awal tahun 2020 lalu, ya, loyalitas mereka berada di level yang sama.

Salah satu nama loyalis yang tak bisa dilepaskan dari Roma adalah Francesco Totti. Kebetulan, takdir membuatnya jadi salah satu pemain Roma di dunia profesional. Pangeran Roma yang loyalitasnya tak perlu diragukan lagi. Terlampau banyak tulisan, artikel, atau esai yang membahas loyalitas Totti untuk I Giallorossi. Ada yang pernah mendengar kabar saat Totti menolak tawaran AC Milan?

Oke, mari kita bahas sedikit.

Milan menaruh minat yang teramat besar untuk bisa membawa Totti ke San Siro. Dalam sebuah wawancara untuk media Italia, Il Venerdi di Repubblica, keputusannya untuk bertahan di Roma adalah keputusan yang sulit, tapi harus dilakukan.

Dalam wawancara itu pula, Totti mengungkapkan bahwa saat masih muda, Milan menawarkan uang cukup banyak untuk merayunya agar bersedia pindah.

“Kabar itu (Milan merayu Totti) benar. I Rossoneri siap membayar 300 juta lira (mata uang Italia sebelum Euro) ketika aku masih berusia 12 tahun. Saat itu, kami menolaknya, apalagi ibuku. Dia menolaknya,” ujar kapten legendaris itu.

Tak cuma sekali, Milan dua kali mencoba memboyong Totti ke Milanello. Kesempatan kedua mereka lakukan pada tahun 2003 atau setelah Totti meraih gelar bersama Roma. Silvio Berlusconi yang memegang kendali AC Milan berupaya merekrut Totti. Saat itu, Roma menolak mentah-mentah tawaran Milan.

Selain Milan, ada juga ketertarikan yang muncul dari tim raksasa asal Spanyol, Real Madrid. Florentino Perez, mantan Presiden Real Madrid ingin membawa Totti ke Madrid yang saat itu sedang membangun tim bertabur bintang dengan label Los Galacticos.

Tak lama setelah memutuskan pensiun, Totti mengungkapkan sebuah fakta bahwa mantan pemain Madrid ada yang menyebutnya sebagai pemain gila karena menolak tawaran klub yang bermarkas di Stadion Santiago Bernabeu tersebut.

BACA JUGA:  Mason Greenwood, Phil Foden, dan Proses Kedewasaan Pemain Muda

“Ketika aku bersama mantan pemain Madrid, mereka berkata, ‘Kamu gila, kamu menolak tim terbaik di dunia.’ Aku membuat keputusan karena cinta dan tak pernah menyesalinya,” Totti menggali kembali ingatannya.

Loyalitas. Sebuah kata yang menggambarkan bahwa bermain untuk Roma tak selalu membutuhkan skill menawan. Cukup berikan loyalitas, maka namamu akan terpatri di dalam hati Romanisti hingga pengujung waktu.

Tentang loyalitas, Totti adalah juaranya. Meski begitu, ada pemain lain yang menggunakan loyalitas saat bermain untuk Roma. Ia adalah Marco Delvecchio.

Lahir di Milan dan mengawali karier di Inter, tapi nama Delvecchio justru harum di Kota Abadi. Memulai karier pada 1992, ia bergabung dengan Roma pada tahun 1995. Delvecchio menghabiskan waktu satu dekade merumput di Stadion Olimpico hingga akhirnya pindah ke Brescia untuk menikmati sisa karier.

Ia menjadi bagian dari Roma saat meraih Scudetto musim 2000/2001. Meski lebih banyak menghabiskan waktu sebagai pemain pengganti, tetapi nama Delvecchio tak pernah lekang oleh waktu serta awet menjadi figur yang dipuja Romanisti. Ia memilih memendam ego demi sebuah loyalitas.

Cinta yang Kerap Terlupakan

Sepakbola memiliki sejuta arti bagi setiap orang. Bagi saya, sepakbola adalah sebuah kehidupan. Jika sepakbola adalah kehidupan, maka saya tak akan mengerahkan semuanya demi sepakbola. Sepakbola adalah pilihan yang sulit, layaknya surga atau neraka.

Ada yang menganggap sepakbola sekadar hobi. Jika sepak bola tak lebih dari hobi, maka sepakbola hanya sebuah permainan biasa, sama seperti congklak atau petak umpet. Jika sepakbola sebatas pekerjaan, maka yang ada di otak adalah bagaimana caranya bisa hidup dari sepakbola. Jangan heran kalau ada pesepakbola yang bermain-main dengan mafia karena tak ada cinta di dalam hatinya.

Cinta. Satu kata yang sederhana, tapi kerap dilupakan oleh banyak orang. Namun tidak untuk Roma. Cinta adalah elemen yang harus dimiliki oleh para pemain Roma, jika mereka ingin berkarier lama di Stadion Olimpico.

Cinta inilah yang bisa jadi membuat Vincenzo Montella enggan mengalahkan Serigala Ibu Kota. The Litte Airplane atau Sang Pesawat Kecil, melanjutkan kariernya di dunia sepakbola sebagai pelatih. Fiorentina, Roma, Milan, dan Sampdoria sempat merasakan racikan strateginya.

Pada 2014, Montella sampet berujar bahwa rasa cintanya yang besar untuk Roma membuat ia susah mengalahkan mantan klubnya. Kelakar itu ia ucapkan kala melatih Fiorentina.

Meski sebuah guyonan, tetapi rasa cintanya untuk Roma bukanlah sebuah candaan. Cinta yang indah adalah ketika ada balasan. Di titik inilah balasan cinta untuk Montella datang dari para penggemar yakni dijadikan bagian dari Hall of Fame Roma.

“Saya tersanjung menerima penghargaan penting ini, walaupun rasanya aneh ketika mendapatkan Hall of Fame di usia saya yang masih muda. Hal itu membuat saya bangga dan saya tahu bahwa mereka yang memilih saya adalah mereka yang melihat saya,” ungkap Montella.

BACA JUGA:  Masa Kelam Juventus di Panggung Domestik

“Penggemar yang menyaksikan saya di Stadion Olimpico saat memenangkan Scudetto. Saya tidak akan pernah pernah melupakan waktu yang saya habiskan di Roma dan semua masa-masa indah bersama semuanya,” pungkas Montella.

Pengorbanan, Puncak dari Loyalitas dan Cinta

Jika Totti adalah simbol dari loyalitas dan Montella adalah perwakilan dari cinta, maka simbol pengorbanan yang abadi adalah Damiano Tommasi. Mengawali karier di Verona, namanya melambung saat berseragam I Giallorossi. Mengecap 262 penampilan, gelandang berambut kribo ini menjadi katalisator di lini tengah Roma.

Fabio Capello, mantan pelatih Roma, menyebut Tommasi sebagai pemain paling penting bagi Roma saat itu. Menggunakan pola 3-5-2, Tommasi selalu mengisi pos nomor 6 di ruang mesin Roma. Ia akan berdampingan dengan salah satu dari Emerson atau Cristiano Zanetti.

Pengorbanan Tommasi terlihat pada tahun 2005. Ia mengalami cedera parah di lutut kanan setelah dihajar pemain Stoke City, Garry Taggart. Cedera pada usia 31 tahun membuat banyak orang memprediksi karier Tommasi habis.

Musim 2004/2005 dimulai dan Tommasi belum pulih dari cederanya. Namun masalah itu tak membuatnya galau berkepanjangan. Berbekal semangat dan totalitas, Tommasi berhasil bangkit dari cedera itu dan akhirnya merumput lagi dengan seragam I Giallorossi.

Ia disodori kontrak baru oleh Roma. Nilai kontraknya sungguh mengejutkan karena setara dengan pemain-pemain muda Roma yaitu sebesar 1.500 Euro per bulan. Ia menolak sodoran kontrak yang lebih mahal dari Roma. Sebuah pengorbanan yang tak ternilai harganya.

Kini, Tommasi menjabat sebagai Ketua Federasi Pesepakbola Italia (AIC) yang kalau di Indonesia kerap disebut APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Italia). Ia dipilih oleh mayoritas pesepakbola di Negeri Pizza. Mereka merasa bahwa Tommasi adalah simbol dari pesepakbola sejati.

Termutakhir, ia meminta federasi sepakbola Italia, FIGC, untuk menghentikan Serie A musim 2019/2020 karena bahaya virus Corona. Ia mengirimkan surat tersebut kepada banyak pihak yang terkait dengan Serie A demi keselamatan banyak pihak, mulai dari pemain, pelatih, ofisial hingga suporter.

“Pada momen ini, menghentikan sepakbola adalah langkah paling berguna untuk negara,” tulis Tommasi.

Pengorbanan. Atas dasar apa pun, pengorbanan adalah tingkatan tertinggi di dunia sepakbola. Jika banyak yang berkorban demi keluarga lewat sepakbola, maka Tommasi berkorban demi semuanya lewat sepakbola.

[Best_Wordpress_Gallery id=”28″ gal_title=”AS Roma Legends”]

NB: Seluruh ilustrasi yang ada di artikel ini dikerjakan oleh para ilustrator yang tergabung dalam Indonesian Football Artist / IFA (idfootballartist). Fandom.id mendapat kesempatan untuk menayangkan karya-karya terbaik IFA. Daftar ilustrator yang terlibat untuk ilustrasi edisi #MengingatSejarah AS Roma ini: Totti (@sam.nahrub), Montella (@toyapethak21), Cafu (@nizarbenjamin), Tommasi (@kng.rds), Di Francesco (@wildanhafidz ), Nakata (@blueboy.ig ), dan Delvecchio (@saurus.design).

Komentar
Penulis adalah seorang mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Mencintai sepakbola seperti mencintaimu. Penikmat Sepak bola Indonesia dan Italia. Dikontrak seumur hidup oleh Gresik United dan AS Roma dengan kepimilikan bersama atau co-ownership. Yang mau diskusi tentang sepak bola ataupun curhat tentang cinta, bisa ditemui di akun twitter @alipjanic .