Vujadin Boskov: Simbol Kejayaan Sampdoria

Di penghujung 80-an dan awal 90-an, tak ada liga Eropa mana pun yang bisa menyaingi keglamoran kompetisi nomor wahid Italia, Serie A. Bila diibaratkan sajian di atas meja makan, Serie A adalah main course yang lezat dan mahal ketika Liga Primer Inggris atau La Liga Spanyol tak lebih dari sekadar appetizer dan desert biasa.

Pemain-pemain kelas dunia berbondong-bondong datang ke Negeri Pizza demi prestasi dan gengsi. Persaingan ketat di level domestik merembet ke level Eropa. Secara bergantian, tim-tim Italia memanen trofi demi trofi dari tiga ajang, Piala/Liga Champions, Piala UEFA/Liga Europa dan Piala Winners.

Dalam rentang 1989-1994, klub-klub raksasa Italia bancakan dengan menggamit setidaknya 10 buah trofi. Namun, ada satu klub yang juga tampil fenomenal di tengah jepitan klub-klub besar, bukan duo Roma, bukan pula Fiorentina, melainkan Sampdoria.

Semua bermula tatkala pebisnis asal kota Roma yang juga Laziale, Paolo Mantovani, membeli klub berjuluk I Blucerchiati ini pada tahun 1979 ketika masih terjerembab di Serie B. Di bawah kepemimpinannya, Sampdoria bercita-cita bisa segera naik kasta ke Serie A. Hal yang pada akhirnya tercapai tiga tahun selepas diakuisisi.

Tak lama seusai naik ke Serie A, Sampdoria berhasil mencaplok trofi Piala Italia pertama mereka di musim 1984/1985 saat ditukangi Eugenio Bersellini. Materi skuad Il Samp kala itu cukup mentereng karena diisi nama-nama sekelas Evaristo Beccalossi, Trevor Francis, Graeme Souness, Luca Pellegrini, Pietro Vierchowod, dan duo sensasional, Roberto Mancini-Gianluca Vialli.

Prestasi tersebut jelas memuaskan Mantovani. Namun sayang, terjadi penurunan prestasi di Serie A pada musim berikutnya (finis di posisi 11) plus kegagalan untuk berbicara banyak di ajang Piala Winners (keok di Babak Kedua) walau kembali menembus final Piala Italia (tumbang dari AS Roma) membuat Mantovani ingin sebuah perubahan.

Nama pelatih berkebangsaan Serbia yang sempat melalangbuana bareng Feyenoord dan Real Madrid, Vujadin Boskov, ditunjuk sebagai pengganti Bersellini per musim 1986/1987. Di tangan pelatih yang pada 1979/1980 mengantar Los Merengues memenangi gelar ganda di kompetisi lokal Spanyol, Mantovani meletakkan asa klub miliknya bakal semakin meroket. Realitanya, sentuhan Boskov benar-benar sanggup mengubah peruntungan Sampdoria.

Di awal era kepelatihan Boskov, Sampdoria kerap menyulitkan duo Milan, Juventus, dan Napoli yang saat itu menjadi kekuatan dominan. Secara konsisten, I Blucerchiati selalu nangkring di posisi enam besar.

Tak sampai di situ, Sampdoria juga mampu dibawa Boskov merengkuh Piala Italia secara beruntun di musim 1987/1988 dan 1988/1989. Pada dua kesempatan tersebut, Il Samp merontokkan Torino (agregat 3-2) dan Napoli (agregat 4-1).

BACA JUGA:  Prinsip Sekali Persib, Selamanya Persib

Seperti saat memenangi Piala Italia pertama di bawah asuhan Bersellini, Sampdoria-nya Boskov juga dihadiahi tiket otomatis ke ajang Piala Winners di musim berikutnya berkat ukiran prestasi tersebut.

Kejutan dibuat Vialli dkk. saat melaju hingga babak final Piala Winners musim 1988/1989. Sayangnya, upaya merebut trofi Eropa perdana dikandaskan oleh dua gol dari Julio Salinas dan Luis Lopez Rekarte yang berkostum Barcelona di bawah bimbingan Johan Cruyff.

Namun, takdir, pada akhirnya membawa Boskov dan anak asuhnya mentas lagi di babak final Piala Winners musim 1989/1990 dan bersua utusan Belgia, RSC Anderlecht.

Sampdoria, yang tak ingin gagal dua kali di partai puncak benar-benar tampil brilian. Dwigol Vialli di masa perpanjangan waktu sudah lebih dari cukup untuk membawa trofi Eropa pertama ke Genoa. Sambutan meriah pun diterima pasukan I Blucerchiati. Begitu pun Boskov yang mendapat sanjungan banyak pihak.

Berkat rentetan prestasi itu, ekspektasi kepada Sampdoria dan Boskov ikut meninggi. Tapi bukannya terbebani, Sampdoria malah tampil luar biasa di Serie A musim 1990/1991. Mereka sanggup berpacu dengan duo Milano untuk memperebutkan Scudetto!

Walau mampu mencomot dua Piala Italia dan satu Piala Winners, meraih Scudetto jelas sebuah impian yang tampak terlalu muluk saat itu mengingat AC Milan, Internazionale, dan Juventus begitu superior di liga.

Namun, Sampdoria memang kesebelasan terbaik di Serie A musim itu. Rekor bertanding mereka begitu mengilap, yakni 20 kali menang, 11 kali seri, dan hanya 3 kali keok. Angka 51 (saat itu kemenangan diberi nilai dua) sudah cukup buat Sampdoria untuk duduk di posisi teratas Serie A, surplus lima poin dari duo Milano yang menguntit beriringan di tempat ke-2 dan ke-3.

Sekali lagi, pesta meledak di penjuru kota Genoa, khususnya oleh tifosi Sampdoria yang bahagia tak kepalang. Selain merayakan keberhasilan klub favoritnya, mereka juga menyempatkan diri untuk mengejek sang rival sekota, Genoa, yang musim itu hanya finis di peringkat empat klasemen akhir.

Nama Boskov benar-benar harum. Dirinya bak dewa di mata tifosi klub yang berdiri 70 tahun silam itu. Boskov menjadi idola fans Sampdoria di seantero Italia maupun dunia.

Kesuksesan merengkuh Scudetto mengantar Il Samp mencicipi Piala/Liga Champions musim 1991/1992. Walau berstatus sebagai kampiun Italia, memiliki pemain-pemain bertalenta hebat dan pelatih jempolan, Sampdoria bukan unggulan di kompetisi mahakeras ini. Tapi, status tersebut nyatanya bisa dijungkirbalikkan oleh Mancini dkk.

BACA JUGA:  Dua Dekade sejak Fortunato Pergi

Mereka tampil heroik di Babak Pertama dengan mengandaskan wakil Norwegia, Rosenborg (via agregat 7-1). Menekuk Honved dari Hungaria di Babak Kedua (agregat 4-3), sebelum akhirnya memuncaki Grup A yang dihuni Red Star Belgrade, Anderlecht, dan Panathinaikos dengan koleksi 8 poin hasil tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan sekali tumbang di fase penyisihan grup.

Keluar sebagai pemuncak grup A mengantar Il Samp melaju ke babak final untuk sekali lagi bertemu dengan Barcelona yang menjadi juara grup B, yang juga masih dibesut oleh Si Jenius Cruyff.

Laga ini sendiri berjalan ketat sehingga tak satu gol pun tercipta sampai waktu normal habis. Pertandingan mesti dilanjutkan via perpanjangan waktu. Di fase inilah, Barcelona sukses mencuri gol lewat tendangan bebas Ronald Koeman di menit ke-112 yang menghujam jala Gianluca Pagliuca.

Sampdoria tak mampu membalas dan mesti terisak begitu wasit asal Jerman, Aron Schmidhuber, meniup peluit panjang tanda laga usai.

Kekalahan di final Piala/Liga Champions itu sendiri menjadi sinyal berakhirnya era emas Sampdoria. Walau Mancini tetap bertahan di Luigi Ferraris, Pagliuca dan Vialli memilih untuk hengkang ke Internazionale dan Juventus.

Dengan skuat yang makin menua, hijrahnya pilar-pilar penting, serta berkurangnya injeksi dana dari Mantovani membuat Il Samp mencoba untuk berinvestasi pada nama-nama belia. Pada akhirnya, hal ini mendorong Boskov pergi dari kota Genoa dan mencoba peruntungannya di ibukota bersama Roma.

Namun, kesuksesan seperti yang direngkuhnya bersama Il Samp tak pernah terulang kembali meski sempat pula menangani Napoli, Servette, dan Perugia. Boskov menutup karier kepelatihannya dengan mengantar tim nasional Yugoslavia hingga babak perempatfinal Piala Eropa 2000.

Pelatih yang juga dikenal suka bergurau di konferensi pers ini telah mangkat pada 21 April 2014 silam akibat kondisi kesehatan yang semakin menurun. Namun, berkat dirinya, nama Sampdoria dikenal, bahkan dikagumi banyak orang. Boskov dengan semua kelebihan dan kekurangannya adalah simbol kejayaan Sampdoria.

“In my life I’ve won but the scudetto won with Sampdoria was the most beautiful, the sweetest. Because I won it in the most difficult amd most balanced league in the world and because it was the first for a club that had yet to celebrate half a century of existence. It is like a bit when your first child is born. The joy is greater.”




Komentar