Adnan Januzaj: Keterpurukan dan Kebangkitan yang Samar

Usai tergusur dari Liga Champions, Manchester United mesti legowo terekstradisi ke ajang Liga Europa. Pada momen undian babak 32 besar kejuaraan antarklub kelas dua di Benua Biru itu, The Red Devils akan berjumpa dengan wakil Spanyol, Real Sociedad. Walau keduanya baru bertemu dua kali sepanjang sejarah sehingga terasa asing, tetapi buat United, Adnan Januzaj bukanlah figur asing.

Pemain berpaspor Belgia itu mencicipi debut profesionalnya di kancah sepakbola bersama United pada 2013 silam. David Moyes yang menggantikan Sir Alex Ferguson merupakan sosok kunci yang memberi kesempatan lebih kepada Januzaj. Seiring waktu, ada sejuta ekspektasi yang muncul terhadapnya dari para penggemar.

Sejak duduk sebagai nakhoda, Moyes percaya bahwa Januzaj bisa menjadi bintang masa depan The Red Devils. Dalam sejumlah laga pramusim 2013/2014, Januzaj mampu memperlihatkan segenap potensi menjanjikan yang ia miliki. Berdasarkan hal itulah, dirinya beroleh kesempatan main yang cukup rutin di kompetisi resmi kendati banyak diawali sebagai pemain pengganti.

Antusiasme terhadap Januzaj makin menjadi-jadi setelah pemain berpostur 186 sentimeter itu mencetak dua gol penentu kemenangan United atas Sunderland. Torehan itu sendiri dilakukannya saat turun sebagai starter di ajang Liga Primer Inggris untuk pertama kalinya. Beberapa hari sesudahnya, Moyes meyakinkan manajemen dan Januzaj untuk menandatangi kontrak jangka panjang sekaligus menjauhkan sang berlian muda dari buruan klub-klub lain.

Pada musim pertama Januzaj merasakan atmosfer tim utama, ia berhasil membukukan empat buah gol dan enam asis. Tidak buruk bagi ukuran pemain yang baru berusia 19 tahun. Performa menterengnya berujung pada pemanggilan oleh tim nasional Belgia guna bertempur di ajang Piala Dunia 2014. Sejauh narasi ini digulirkan, segalanya berjalan bak dongeng bagi Januzaj. Namun sepulangnya dari Brasil, petaka mulai mengintainya.

Pemecatan Moyes dan hadirnya Louis van Gaal sebagai gaffer anyar mengubah nasib Januzaj di Stadion Old Trafford. Van Gaal tak memberi kebebasan kepada pemainnya untuk bergerak sebebas burung di lapangan dan mesti patuh dengan sistem permainan yang diusungnya.

Januzaj yang selama era Moyes diberi banyak keleluasaan dalam bermain, baik menusuk via sayap atau bahkan berperan sebagai second striker, jadi terpinggirkan. Apalagi United baru saja mendatangkan Angel Di Maria jelang bergulirnya musim 2014/2015.

BACA JUGA:  Zlatan Ibrahimovic yang Menguning Lagi

Sudah demikian, di periode awal van Gaal mengarsiteki United, eks pelatih Ajax Amsterdam itu kebanyakan mengusung skema 3-4-1-2 atau 4-3-1-2 yang tidak banyak memberi ruang bagi pemain berkarakter eksplosif dan punya kegemaran menusuk pertahanan musuh dari tepi lapangan seperti Januzaj.

Bahkan menurut penuturan Wayne Rooney kepada Stretty News, The Iron Tulip, julukan sang pelatih, menjadikan Di Maria sebagai satu-satunya pemain dalam tim yang diperbolehkan untuk melakukan giringan dan berimprovisasi.

Kakunya sistem permainan yang diterapkan van Gaal tersebut juga diamini oleh Morgan Schneiderlin yang merasakan atmosfer kepelatihan manajer kelahiran Amsterdam tersebut pada musim 2015/2016. Dalam sebuah wawancara dengan The Athletic, Schneiderlin mengutarakan jika sang pelatih sangat membatasi kreativitas pemain dan amat terpaku pada sistem yang begitu diyakininya.

Kepada Goal, secara tersirat Januzaj juga menuding van Gaal atas tragedi yang menimpa dirinya sehingga potensinya tak merekah maksimal sebagai salah satu pemain paling berbakat di Eropa pada saat itu. Dalam wawancara itu, sosok kelahiran Brussels ini menyatakan jika van Gaal tak pernah memberikan kenyamanan dan ruang untuk berkembang sebagai pemain muda.

Pada musim 2014/2015, Januzaj tidak mampu mencatatkan barang satu gol pun maupun asis. Berbekal catatan tersebut, van Gaal mengirimnya ke Jerman untuk menimba ilmu di Borussia Dortmund pada bursa transfer musim panas 2015/2016. Nahasnya, Januzaj dipulangkan ke Manchester tak sampai enam bulan kemudian setelah merumput 12 kali saja di Stadion Signal Iduna Park selama separuh musim.

Tatkala van Gaal diberhentikan dan disubstitusi oleh Jose Mourinho, karier Januzaj bareng The Red Devils sama suramnya. Pria Portugal itu lebih memilih untuk meminjamkan Januzaj ke Sunderland selama satu musim penuh, terhitung sejak 2016/2017. Kebetulan, pelatih The Black Cats saat itu adalah Moyes.

Di utara Inggris, lokasi Sunderland, Januzaj kembali menemukan performanya. Kendati tak keren-keren amat, setidaknya ia bisa terus tampil secara konsisten saban pekan. Moyes sendiri mengingatkan bahwa Januzaj masih harus meningkatkan penampilannya bila ingin menembus tim utama United saat pulang ke Manchester.

Sayangnya, manajemen The Red Devils punya pikiran lain. Alih-alih memaksimalkan tenaga Januzaj jelang berputarnya kompetisi musim 2017/2018, mereka lebih suka menerima kucuran dana segar sebesar 9,8 juta Poundsterling usai melegonya ke Sociedad.

Keputusannya hijrah ke Spanyol berbuah cukup manis. Menit bermain yang ia dapatkan meningkat kendati tak selalu dimainkan sebagai pemain inti karena harus bersaing dengan nama-nama seperti Ander Barrenetxea, Roberto Lopez, dan Mikel Oyarzabal. Dalam rentang 2017/2018 sampai 2019/2020, Januzaj merumput tak kurang dari 24 pertandingan per musimnya. Ia pun berkontribusi atas capaian La Real yang posisi finisnya di La Liga Spanyol meningkat dari waktu ke waktu.

BACA JUGA:  Pratinjau Derby Manchester: Jose Mourinho vs Pep Guardiola

Musim ini pun, performa Sociedad kian berkilau dengan konsisten meramaikan posisi lima besar. Hingga tulisan ini dibuat, mereka tengah duduk di peringkat tiga klasemen sementara berbekal 29 poin dari 17 jornada yang telah dilakoni.

Sayangnya, Januzaj agak ditepikan oleh Imanol Alguacil, pelatih Sociedad, belakangan ini. Baik karena kebutuhan taktis maupun cedera yang terus mendera pemain bernomor punggung 11 tersebut. Walau demikian, cukup pantas kalau duel United melawan Sociedad di 32 besar Liga Europa mendapat atensi lebih, utamanya dari fans The Red Devils.

Jika pulih dan bisa diturunkan, Januzaj berpeluang meniru jejak eks penggawa United lain seperti Wilfried Zaha, Rafael da Silva, dan Sam Johnstone yang bermain apik dengan tim barunya kala bertemu lagi dengan The Red Devils.

Hasrat untuk melakukan pembuktian diri adalah hal yang bisa dijadikan oleh Januzaj sebagai bahan bakar untuk menunjukkan insting membunuhnya dalam laga kontra United mendatang sekaligus membungkam kritik dan tekanan publik yang secara tidak langsung telah memadamkan potensinya sebagai salah satu pemain paling bertalenta di mayapada.

Kisah ini lagi-lagi menyadarkan kita semua bahwa tidak semua pemain yang bersinar di usia muda mampu meraup kesuksesan jangka panjang. Hal itu bisa disebabkan banyak hal, baik dari internal maupun eksternal pemain. Khusus yang terakhir, kita sebagai fans memang harus mengendalikan angan-angan sehingga tak melahirkan ekspektasi berlebih bagi para pemain belia. Kudu diakui, Januzaj adalah korban dari hal tersebut.

Komentar
Sesekali mendua pada MotoGP dan Formula 1. Bisa diajak ngobrol di akun twitter @DamarEvans_06