Akuilah Jika Manchester United Adalah Klub Terbesar Di Dunia

Kita sebagai makhluk hidup selalu menjumpai satu hal yang sama namun berbeda-beda persepsi yang pada akhirnya membentuk opini dan menimbulkan perdebatan. Tak terkecuali tentang kebesaran suatu klub sepak bola.

Perdebatan tentang kehebatan atau kebesaran suatu klub sepak bola, tak bisa dihindari oleh para pendukung. Baik itu klub lokal maupun internasional. Karena ini pula tak jarang terjadi gesekan yang menyebabkan bentrok di antara dua pendukung.

Dalam hemat saya, suatu klub dicap terbesar di dunia tak hanya dinilai dari prestasi dan kekayaan semata. Apalagi karena pemain-pemain yang menghuni klub tersebut. Lebih dari itu, jumlah suporter, jumlah haters, dan nama klub tersebut juga berperan dalam cap sebagai klub terbesar. Dan karena hal ini, saya merasa bahwa Manchester United (MU) adalah klub terbesar didunia.

Jika takarannya menyangkut soal prestasi dalam sedekade terakhir, tentu nama Barcelona menjadi kandidat terkuat sebagai klub terbesar. Namun, MU juga tak kalah gemilang, meskipun “hanya” sanggup meraih trofi Liga Champions sekali dalam  satu dekade terakhir.

Namun, sebelum bersinarnya Barcelona dan para pemain akademinya dalam sedekade terakhir, nama MU lebih dulu berkibar. Raihan treble winners 1999 menjadi bukti sahih, sebelum Barcelona mendapatkannya pada 2009 dan 2015. Dan Class of 92 jauh lebih dulu merumput selagi Lionel Messi dan koleganya masih berumur lima tahun.

Berbicara tentang kekayaan, yang bisa menjadi salah satu alasan untuk menjadi klub terbesar, MU jelas bisa dimasukkan ke dalam kategori ini. Mereka selalu berada di peringkat tiga besar dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun beberapa kali berada di bawah bayang-bayang duo La Liga, Barcelona dan Real Madrid, namun berada di peringkat tiga besar sudah membuktikan betapa para sponsor mau memberi uangnya untuk Manchester United.

BACA JUGA:  Mengapa Seorang Kakak Lebih Sukses Dibanding Adiknya Jika Sama-Sama Berkarir di Dunia Sepak Bola?

Mungkin dalam raihan prestasi dan kekayaan, gelar MU sebagai klub terbesar di dunia versi saya, sangat bisa diperdebatkan. Maka dari itu, mari berbicara tentang jumlah suporter.

Sejumlah survei membuktikan bahwa jumlah pendukung The Red Devils adalah yang terbanyak di seluruh dunia. Dari belahan dunia utara sampai Asia, selalu ada kelompok pendukung Manchester United yang disebut total jumlahnya 659 juta.

Kebanyakan dari mereka adalah fan yang mendeklarasikan diri beberapa tahun silam semasa MU dilatih oleh Sir Alex Ferguson (SAF). Selain karena prestasi yang gemilang, passion dari para pemain MU sendiri juga menjadi faktor mengapa akhirnya mereka menjadi fan MU.

Kita sendiri tahu, ketika bersama SAF, para pemain MU kerapkali menjadikan pertandingan menjadi lebih dramatis dan berakhir sampai menit terakhir. Contohnya saat pertandingan terakhir SAF melawan West Bromwich Albion yang berakhir 5-5.

Meskipun demikian, memiliki jumlah suporter banyak juga bisa menghasilkan haters yang banyak pula. Entah apa pun alasannya, selalu ada yang membenci dari prestasi suatu klub. Baik karena mengangkangi prestasi klub kesayangan sang haters atau karena suporter dari klub rival mereka sendiri. Dan itu bisa sangat jelas kita rasakan jika kita mengamati sepak terjang MU.

Lihat saja berbagai macam ejekan yang dialamatkan kepada tim asuhan Louis Van Gaal ini ketika mereka tak berhasil mengalahkan tim sekelas Southampton. Berbagai macam sindiran dan ledekan tak pernah malas mendekati mereka. Meme-meme beredaran tentang hasil tersebut dan biasanya paling lama beredar. Jika dibandingkan dengan rival lain macam Arsenal atau Liverpool, ejekan yang diterima United lebih banyak dan masif.

Hal ini dimungkinkan sebagai ajang balas dendam terhadap prestasi United yang selalu mengkilap dan stabil. Atau dengan kata lain, mumpung United lagi terpuruk dan tampil membosankan.

BACA JUGA:  Memantau Kinerja Arteta

Namun jika kita boleh jujur, justru ini menjadi cermin bahwa MU adalah klub yang paling ditunggu kiprahnya dan mendapatkan banyak perhatian karenanya. Dan hal itu bukan hanya dilakukan oleh para pendukung setianya saja, melainkan seluruh penikmat sepak bola.

Di samping faktor teknis, tentu terdapat faktor nonteknis yang melatar belakangi argumen saya ini. Salah satunya adalah para pemain yang menghuni United baik sekarang maupun pada masa lalu dan nama Manchester United itu sendiri.

Kita tahu kisah luka di pelipis David Beckham yang berawal dari marahnya Sir Alex. Pada akhir musim 2002/2003 itu, Manchester United melego sang no. 7 ke kubu Real Madrid. Tentu tak sembarangan MU menjual bintang sekaliber Beckham. Namun, SAF punya dalih. bahwa fokus sang bintang tak lagi di sepak bola, melainkan di industri hiburan.

Saat itu, nama Beckham memang mulai merambah ke ranah Hollywood. Namun, SAF pernah berkata, “Tidak ada pemain yang lebih besar daripada klub.” Dengan nama Beckham yang semakin melambung, justru bisa “mengalahkan” nama United sebagai pemiliknya. Maka dari itu tak jadi soal untuk melepasnya.

Hal ini pula yang terjadi pada saat penjualan Cristiano Ronaldo. Karena bagaimana pun, pemain adalah bagian dari klub, bukan sebaliknya dan nama klub harusnya memang lebih besar daripada sang pemain.

Filosofi ini sampai sekarang menjadi semacam jimat bagi United dan tak dimiliki para rival. Lihat saja bagaimana nama Ronaldo lebih sering diperbincangkan dibanding Real Madrid. Begitupula dengan Messi dan Barcelona, meskipun akhir-akhir ini semakin mereda. Karena ini pula barangkali yang menjadikan United, yang tampil membosankan, tetap menarik di mata Pep Guardiola dan Jose Mourinho.

 

Komentar
Muchamad Anzar Ardiansyah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNS dan sempat magang di Harian Bola.