Arsene Wenger dan Bla…Bla…Bla

Sejak 3 atau 4 tahun terakhir, Arsene Wenger sudah berulang kali dikritik oleh pendukung Arsenal karena sikap dan pendekatan sepak bolanya yang kuno. Ia kurang peka dengan perubahan dunia taktik yang semakin kompleks. Pun dalam mengatur jadwal latihan pramusim bagi pemainnya.

Arsene adalah sosok yang ikut berperan merevolusi sepak bola Inggris. Ia datang dari Jepang, dengan membawa sesuatu yang baru.

Ia menanggalkan gaya sepak bola barbar bernama kick and rush ala Inggris daratan dan memainkan pola yang baru dan segar. Arsene juga yang mematangkan konsep pembinaan pemain di akademi untuk membantu suplai pemain muda ke tim utama.

Hale End Academy adalah bukti bahwa Arsene pernah menjadi sosok revolusioner. Arsene pula yang mencontohkan perihal sports science di iklim sepak bola Inggris, mengajarkan pentingnya suplai nutrisi bagi pemain.

Sialnya, itu semua dilakukan kakek tua dari Prancis ini pada dua dekade lalu, di awal kedatangannya ke Britania dan disambut dengan ucapan sinis, “Arsene who?

Arsene yang dulu, masih sama dengan Arsene yang sekarang. Ia bebal, banal, dan anti-kritik. Ia piawai berkelit perihal pasifnya manuver Arsenal di bursa transfer, karena memang ia mampu untuk itu. Ia malas mengembangkan taktiknya karena mungkin ia ingin Arsenal hanya boleh bermain dengan satu gaya, Wengerball.

Masalahnya, di era taktik yang makin rumit dan memiliki banyak corak, masih relevankah gaya main Arsenal?

Kritik untuk Arsene datang bukan tanpa sebab. Bukan semata perkara kekalahan di awal musim dari Liverpool pada Minggu (14/8). Bukan pula semata karena minimnya pergerakan Arsenal di bursa transfer. Tapi ke banyak hal lain, Arsene Wenger bukan lagi pelatih yang baik dan bijak.

Usai kekalahan dari Liverpool, di laman resmi Arsenal, Arsene berkelit tentang belianya usia duo bek tengah yang menjadi sebab empat gol bersarang ke gawang Petr Cech. Ia juga yang menyakini bahwa Arsenal kalah karena mentalitas yang buruk di babak kedua.

BACA JUGA:  Andai Manchester City Lolos dari Sanksi UEFA

Sekilas hal itu masuk akal, tapi coba dipikir lagi, kenapa Arsene harus memasangkan Rob Holding dengan Calum Chambers? Bukankah cederanya Per Mertesacker dan Gabriel Paulista sangat mungkin disebabkan oleh pramusim Arsenal, yang dikritik Raymond Verheijen, sebagai tata kelola yang buruk?

Soal mentalitas, ini kan konyol. Arsene adalah orang yang berdiri dan memberikan teamtalk ke pemain saat turun minum. Kalau mau mencari kambing hitam soal mentalitas pemain yang ambruk di babak kedua, harusnya pria kelahiran Strasbourg ini mengambil cermin. Lalu, pandangi lekat-lekat wajah siapa yang tampak di kaca itu.

Masalah belum selesai. Karena dua pemain Arsenal, Alex Iwobi dan Aaron Ramsey mengalami cedera di laga lawan Liverpool. Cedera hamstring Aaron Ramsey kemarin misalnya, bukankah seharusnya Ramsey masih memulihkan diri usai membela Wales di Euro 2016?

Mengingat untuk pemain yang negaranya lolos hingga semifinal di Euro 2016 lalu, sudah selayaknya Ramsey mendapat cuti istirahat yang agak lebih lama dibanding kawan-kawannya.

Dan bayangkan, untuk penutup pramusim di Swedia, Arsene bahkan menyempatkan memaksa Ramsey dan Alexis Sanchez untuk bermain. Ini konyol, walau tak sepenuhnya salah, karena pemain butuh match fitness yang apik demi menyongsong pertandingan pertama di liga.

Tapi itu menjadi hal yang salah karena dua pemain tersebut terkesan dipaksakan dan berujung kepada performa yang tak maksimal di lapangan ketika melawan The Reds.

Pada titik ini, semua pledoi dan pembelaan Arsene Wenger tentang kekalahan di Emirates adalah murni bualan belaka.

Semua adalah bla…bla…bla.

Untuk seorang manajer top yang melatih klub papan atas, Arsene Wenger justru menampilkan sosok manajer yang terlihat minim pengalaman. Padahal ya, pria tua ini sudah berusia 66 tahun.

BACA JUGA:  Beda Nasib Tim Nasional dan Klub-klub Spanyol

Nah, untuk perihal transfer, saya masih pro-Arsene. Eks pelatih AS Monaco ini tentunya jauh lebih paham daripada kita kaum awam yang menilai pemain dari data Whoscored atau Squawka.

Ya minimal kita melihat aksi mereka di kanal Youtube lewat jaringan Scout Nation itu. Dan saya tidak sepenuhnya setuju bahwa 100% keberhasilan sebuah tim meraih trofi adalah membeli pemain sebanyak mungkin.

Pada poin ini, diakui atau tidak, Arsene perlu belajar dari Jose Mourinho, si rival berisik. Jose gemar melakukan transfer mahal. Ia juga hampir selalu berada di tim yang menyuplainya dengan limpahan dana yang besar. Ditambah, penanganan kebugaran pemain yang sedikit lebih baik ketimbang Arsene Wenger.

Hampir tidak pernah Jose mengalami badai cedera sehingga memaksanya membeli pemain di Januari atau mengorbitkan banyak pemain muda. Sedikit alasan mungkin, kenapa pria Setubal ini malas mengorbitkan banyak pemain muda dibanding Louis van Gaal, misalnya.

Dan sedikit alasan juga, kenapa eks pelatih FC Porto ini adalah manajer dengan koleksi gelar juara yang banyak.

Usai kalah dari Liverpool, Arsene harus dan sangat wajib berbenah. Banyak aspek yang perlu dibenahi, seperti yang sudah disinggung di atas. Mulai dari kebijakan transfer, kebutuhan taktik yang lebih modern, dan manajemen kebugaran pemain.

Membeli pemain itu penting, jika kebutuhannya mendesak, dan Arsene jelas tahu ia punya masalah besar di lini belakang. Tapi menghakimi Arsene untuk sebuah dosa karena abai di bursa transfer adalah hal yang salah.

Lho, salah kenapa? Ya tidak lain tidak bukan, karena dosa Arsene sangat banyak pada Arsenal. Dan hanya menuding bahwa ia berdosa karena aktivitas transfer yang minim, sungguh terlalu sopan sekali.

Ia bersalah di banyak hal dan sudah seharusnya, kakek tua keras kepala ini perlu membenturkan kepalanya berkali-kali ke tembok rumahnya.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.