Analisis Pertandingan VfL Wolfsburg 3-2 Manchester United

VfL Wolfsburg memastikan melangkah ke perdelapan final Liga Champions setelah menundukkan Manchester United (MU) dengan skor 3-2 di Volkswagen Arena (8/12). Ketiga gol dicetak oleh Naldo (dua gol) dan Vierinha. Sementara gol Setan Merah dicetak oleh Anthony Martial dan gol bunuh diri Joshua Guilavogui. Hasil ini juga memastikan MU pindah berkompetisi ke Europa League.

Kedua tim sama-sama memulai pertandingan menggunakan bentuk dasar 4-2-3-1.  Tetapi 4-2-3-1 Wolfsburg sedikit berbeda karena 4-2-3-1 mereka cenderung menyerupai 4-4-2 ketimbang milik Manchester United. Di samping itu, juga sering terjadi pertukaran posisi antara Max Kruse dengan Andre Schurrle.

Dalam situasi tertentu, Schurrle dan Vieirinha bertukar posisi di masing-masing sayap. Nantinya, mobilitas pemain-pemain depan Wolfsburg, seperti Kruse dan Julian Draxler, membantu mereka dalam mendapatkan akses untuk berprogresi dari pressing blok tinggi United.

Susunan VfL Wolfsburg vs Manchester United
Susunan VfL Wolfsburg vs Manchester United

Skema bertahan Manchester United

Pada awal babak pertama, permainan pressing blok tinggi United tampak menjanjikan, karena pressing mereka mampu memaksa Wolfsburg menempatkan (hingga) delapan pemain di sekitar sepertiga awal mereka. Kondisi ini membantu United merebut bola di sekitar zona 5 Wolfsburg, terutama ketika pemain-pemain Wolfsburg memainkan bola-bola pendek tanpa kesadaran spasial yang tepat. Apa itu zona 5, bisa anda baca di sini.

Satu contoh adalah berhasilnya Marouane Fellaini merebut bola di menit ke-4 dari kaki Maximilian Arnold dikarenakan saat Arnold menerima bola ia menghadap Benaglio dan tidak menyadari kehadiran Fellaini di belakangnya.

Di sisi lain, kemampuan membangun serangan dari lini belakang (deep build-up) Wolfsburg juga tidak terlihat maksimal, karena terlihat mereka memainkan bola-bola panjang langsung dari belakang dalam situasi yang tidak mengharuskan.

Seperti ketika Diego benaglio (Kiper) di-press oleh Anthony Martial sementara dua bek tengah Wolfsburg berada di sayap, yang berarti mereka bebas tanpa kawalan, Benaglio memilih melakukan umpan langsung jauh ke depan. Padahal, bila memperhatikan struktur pressing United pun, bentuk mereka saat itu tidak berada dalam level kompaksi yang ideal karena jarak dari lini pressing pertama dengan lini di belakangnya terpisah cukup jauh (+ 27 meter), artinya ada kesempatan progresi dengan bola-bola pendek saat itu.

Beberapa “lubang” terlihat dalam bentuk presing racikan Louis Van Gaal. Soliditas bentuk mereka terganggu karena, salah satunya, agresifitas dan sikap pressing Bastian Schweinsteiger yang malah menciptakan perforasi dalam sebuah unit yang seharusnya tercipta dari ikatan (posisi) antara pemain.

BACA JUGA:  Arsenal 2-0 Manchester United: Arsenal Menang di Tengah Permasalahan Taktik Kedua Tim

Dalam satu momen Max Kruse turun jauh ke sepertiga awal untuk menjadikan dirinya sebagai akses vertikal dan Schwinsteiger tampak berada terlalu jauh. Dalam momen lain, Arnold bisa bebas mendapatkan ruang untuk menerima umpan di area tengah karena Schweinsteiger yang bergerak terlalu jauh (ke half-space).

Gol kedua Wolfsbutg, oleh Vieirinha, juga diawali dari situasi seperti ini. Draxler turun jauh ke bawah dan masuk melalui celah antara Memphis Depay dan Fellaini, yang masing-masing menjaga Christian Trasch dan Joshua Guilavogui di half-space  kanan. Pergerakan Draxler menciptakan situasi menang jumlah 3v2/4v3. Dalam situasi ini, Schweinsteiger atau Matteo Darmian merupakan pemain-pemain yang seharusnya memberikan gangguan terhadap pergerakan Draxler.

Inisiatif  lini belakang United untuk menutup intermediate-defense (celah antara lini belakang dan tengah) juga menjadi isu dalam kompaksi vertikal United. Tanpa kompaksi vertikal yang pas, Wolfsburg bisa menemukan akses di antara lini tengah dan lini belakang United yang  jaraknya lebih dari 15 meter. Hal ini disebabkan oleh terlalu dalamnya garis lini bertahan Wolfsburg dibandingkan posisi lini di depannya yang melakukan pressing di sekitar sepertiga awal Wolfsburg.

Pertahanan Wolfsburg

Pressing Wolfsburg lebih banyak dimulai dari blok menengah yang mana lini pertama pressing melakukan sikap resting-press. Sama seperti United, lini pertama pressing Wolfsburg terdiri dari dua pemain.

Terkadang terlihat sebagai 4-4-2 masif terkadang 4-2-3-1. Bentuk awal tadi akan bertransformasi ke bentuk 4-1-4-1 saat United berprogresi ke area Wolfsburg.

Dalam transisi inilah, United berhasil menemukan celah di half-space di wilayah persilangan antara no. 6, 7, dan 10. Kompaksi pressing Wolfsburg tidak stabil dalam transisinya dari 4-2-3-1 menuju 4-1-4-1. Juan Mata atau Fellaini sering mencoba mengokupansi area ini.

Tanpa perlindungan memadai dari lini tengah, penempatan posisi yang tepat dari Martial dan sayap terdekat (contoh: Depay), bisa menciptakan opsi triangle-offense (bentuk segitiga) bagi pemegang bola (contoh: Juan Mata). Dikarenakan bek tengah dan bek sayap Wolfsburg terdekat terikat oleh Martial dan Depay, saat Mata berhasil melakukan umpan terobosan hal tesebut sangat mungkin menempatkan Benaglio secara langsung berhadapan dengan pemain-pemain depan United. Gol Martial merupakan contoh situasi ini.

Sisi positif dari skema bertahan Wolfsburg adalah pressing-trap mereka yang beberapa kali mampu menghambat progresi United juga memberikan kesempatan melakukan transisi menyerang yang cepat. Menyoal pressing-trap bisa Anda baca dalam tulisan ini.

BACA JUGA:  Isu Stabilitas Blok Struktural dan Manajemen Ruang yang Buruk: Analisis terhadap Performa Chelsea di awal Musim 2015/2016

Babak kedua

Beberapa fitur taktik menarik diperlihatkan oleh United. Salah satunya adalah bagaiman mereka berusaha berprogresi ke sepertiga akhir melalui half-space atau area tengah. Fellaini ditugaskan sebagai no. 8 vertikal yang bergerak masuk ke lini bertahan Wolfsburg dengan harapan  Guilavogui mengikutinya dan half-space terbuka untuk kemudian diisi oleh sayap terdekat atau Martial.

Fitur menarik ini kemudian menjadi kurang berarti dikarenakan struktur pendukung pergerakan pemain yang masuk ke celah ini terlihat kurang kuat.

Dalam situasi ini, Wolfsburg telah berada dalam bentuk 4-1-4-1. Ketika Martial menerima bola di area terbuka tadi, Wolfsburg masih berksempatan menempatkan Vieirinha, Arnold dan Draxler untuk menjepit Martial. Pergerakan Martial menjadi sulit karena gelandang sayap, bek sayap terdekat dan Schweinsteiger berada terlalu jauh. Wolfsburg mengisolir Martialdengan mudah.

Di babak kedua, United bahkan semakin banyak memainkan bola-bola panjang  dari lini belakang ke depan dalam situasi yang tidak semestinya mereka lakukan. Dalam banyak momen saat mereka melakukan deep build-up, United berada dalam situasi menang jumlah; 3v1, 2v1, tanpa pressingcover yang memadai dari Wolfsburg. Dalam situasi seperti ini pun,bola-bola panjang menjadi pilihan progresi.

Skema-skema serupa memperlihatkan orientasi Louis Van Gaal terhadap Fellaini semakin besar, baik secara lansgung maupun tidak. Selain umpan langsung diarahkan ke Fellaini dan berharap pada kekuatan fisiknya, Fellaini juga banyak ditemukan masuk ke area tengah untuk menjadi bagian dari eksekutor.

Wolfsburg sendiri bermain lebih dalam untuk menunggu United bergerak naik. Formasi 4-4-2 tetap menjadi bentuk awal pertahanan dengan perubahan ke bentuk 4-1-4-1 dalam blok rendah. United yang tetap bermain dengan blok tinggi tidak memperlihatkan kemampuan melakukan counter(gegen)pressing dalam banyak situasi, ketika seharusnya mereka bisa melakukannya bila memainkan struktur posisional yang lebih mendukung.

Kesimpulan

Selain sistem pertahanan mereka, Wolfsburg juga terbantu oleh keberhasilan mereka memanfaatkan bola-bola mati. Dari United, lini tengah, terutama area no. 6 dan no. 8, menjadi area yang sering kali mendapatkan perlindungan minimalyang pada gilirannya mengganggu kompaksi pertahanan United. Dan pertandingan menghadapi Wolfsburg kembali memperlihatkan hal serupa. Kekalahan ini, selain membawa United berlaga di Europa League juga bisa berarti membuat fokus mereka makin besar ke Premier League.

 

Komentar