Anginlah yang Membuat Lars Stindl Menjadi Anomali

Lars Stindl. Pernah dengar nama itu? Tentu saja, apalagi bagi kalian yang akrab dengan simulasi bertema sepakbola. Tertarik membaca riwayatnya? Itu beda perkara.

Sebetulnya wajar saja kalian mengabaikan Stindl. Menjadi pusat perhatian bukan bagian dari narasi kariernya selama ini. Jangan sungkan, Joachim Loew saja enggan menggubrisnya.

Panggilan dari pelatih Die Mannschaft belum juga datang, tak peduli apa yang sudah dibuatnya. Dilihat dari lubang mana pun, Stindl adalah pemain terbaik Borussia Monchengladbach musim lalu.

Dalam sebuah kesunyian

Setiap 117 menit, ia memberikan gol atau asis untuk Die Fohlen, mengangkatnya ke peringkat empat Bundesliga. Tapi justru rekannya, Max Kruse yang mondar-mandir membela Jerman.

Bisa jadi nasib malang bersama timnas Jerman buah dari ulahnya sendiri. Bukan tanpa alasan sebuah majalah Jerman, 11 Freunde membahasnya dalam artikel bertajuk Der stille Einpeitscher atau “Kesunyian Sang Konduktor”. Konduktor di sini berarti si pemandu suporter.

Betul, Stindl mampu mencetak gol ketika menjalani peran apa saja. Entah ketika bermain sebagai gelandang kanan, gelandang serang, atau bahkan ketika tampil sebagai penyerang. Namun, penampilannya secara keseluruhan jauh dari kata memukau.

Gaya bermainnya mewarisi etos sepakbola Jerman yang sudah lama kita kenal. Sepakbola yang tak mendewakan keindahan, melainkan efektifitas dan kegigihan yang galib disangkutpautkan dengan mesin perang bernama Panzer.

Masalahnya, bukan cerita baru bahwa sepakbola Jerman mengalami perubahan besar-besaran sejak awal milenium. Umpan menyihir yang diperagakan Toni Kroos, kecepatan Marco Reus, bahkan istilah “flamboyan” yang dulu kental dengan pelakon ofensif kini bisa disematkan pada dua bek tengah Jerman, Mats Hummels dan Jerome Boateng.

Begitu pula era tim nasional Jerman yang dipenuhi pemain berpengalaman. Kini, anak-anak muda silih berganti mencuri perhatian, menunggu telepon dari Loew.

Secara singkat dan kasar, Lars Stindl seperti dilahirkan di waktu yang salah. Bukannya bebal, kepada 11 Freunde Stindl berkata, “Jerman punya begitu banyak bakat besar di depan, kemudian masih ada pemain-pemain muda yang siap mengisi. Di usia 28 tahun, saya tak pantas berada di tengah-tengah mereka.”

Setidaknya ia boleh berharap sekali lagi.

Stindl dan pecking-rate

Belum lama ini, tim nasional Jerman membeli lisensi Impect, sebuah perangkat pengolah data yang diciptakan oleh dua pensiunan gelandang bertahan, Stefan Reinartz serta Jens Hegeler. Katanya, produk yang mereka tawarkan akan mengubah cara sepakbola melihat statistik.

Konsep Impect terdengar sederhana. Jika produk lain dianggap mengukur kuantitas permainan, mereka justru ingin menggambarkan kualitas. Untuk itu, satu-satunya ukuran yang digunakan adalah jumlah pemain lawan yang dilewati, boleh itu dengan umpan, menggiring bola, atau posisi pemain saat menerima bola. Jumlah yang dikumpulkan kemudian disebut packing-rate.

Bayangkan seorang pemain yang mempunyai tingkat penyelesaian umpan yang tinggi. Bagi Impect, selama umpan-umpannya tak melewati pemain lawan, usaha itu sia-sia.

Lantas, bagaimana Impect bisa menyelamatkan harapan Stindl? Karena prinsipnya yang menitikberatkan kepada kesadaran ruang, Impect ibarat panggung bagi potensi Stindl yang selama ini sulit diangkat oleh indikator lain.

Simak video di bawah ini:

Sekarang, perhatikan gambar berikut:

Pemosisian diri Lars Stindl membuatnya mampu mencatatkan pecking-rate yang tinggi.

 

Gambar di atas merupakan proses awal terjadinya gol pembuka Gladbach atas Freiburg yang dicetak Stindl pada menit ke-73. Dari situasi ini, ia mendapatkan lima packing-rate sebagai akseptor dari umpan Fabian Johnson.

BACA JUGA:  Museum Kecil untuk Alisson

Sampai jeda musim dingin, Stindl mencatatkan rata-rata 70 packing-rate per pertandingan. Perolehannya hanya sanggup diungguli oleh Franck Ribery (78) diikuti Thomas Muller (74).

Dan tak sulit menerjemahkan angka ini ke bahasa yang lebih universal. Stindl sudah mengantongi 14 gol serta delapan asis dalam 34 pertandingan. Jangan heran, ia sekarang punya panggilan baru (lainnya), Raumdeuter yang terlupakan.

Asal penampilannya konsisten, ia berhak menolak panggilan barunya itu. Thomas Muller, pemain yang mempopulerkan istilah Raumdeuter, sedang mengalami paceklik. Ia masih beradaptasi dengan kehidupan barunya bersama Carlo Ancelotti. Buktinya, Muller baru membuat 1 gol dari 21 pertandingan Bundesliga.

Telepon dari Loew mungkin sebentar lagi akan berdering di ponselnya. Sekarang atau tidak sama sekali. Karakter Stindl pantas dipertimbangkan untuk memenuhi peran Raumdeuter di tengah kealpaan Müller.

Tapi Stindl ingin jadi dirinya sendiri. Ia lebih suka disebut dengan kata Windschatten.

Di balik angin ia berlindung

“Saya selalu ada di belakang sejak di tim junior. Mereka yang tampil mencolok dan sangat berambisi malah tertinggal. Saya dapat berkembang dengan “berlindung dari angin” (Windschatten), selalu selangkah demi selangkah. Sama seperti gaya berlari saya, selalu 12 kilometer, tanpa sprint,” akunya pada 11 Freunde, lalu menutupnya dengan tawa.

Istilah ini memang terdengar asing di sepakbola, namun cukup populer di dunia balap sepeda. Windschatten merujuk pada teknik menguntit pebalap lain, menggunakan orang di depannya sebagai pelindung dari angin. Lewat cara ini, seseorang dapat mengimbangi kecepatan pebalap terdepan dengan mengeluarkan tenaga yang lebih sedikit.

Para pebalap yang ditugaskan memenangi sebuah stage, umumnya menghabiskan sebagian besar lomba dengan teknik ini. Sampai menjelang kilometer final perlombaan barulah mereka habis-habisan untuk finis di urutan pertama.

Mereka yang memanfaatkan windschatten tahu betul kapan waktunya menyerang. Sama halnya dengan Stindl. Jika waktunya belum tiba, ia tetap bersembunyi di balik bayang lawan-lawannya.

Dalil Stindl dekat dengan Windschatten berbeda dengan Muller dan Raumdeuter. Menurutnya, sebutan ini bukan saja mewakili gaya bermainnya di lapangan, tapi juga kepribadiannya sehari-sehari.

Stindl ialah kapten untuk dua klub terakhirnya, Hannover 96 dan Monchengladbach. Sebagai sosok yang dikenal pendiam, ia memimpin dengan menonjolkan kualitas kemauan untuk mendengar.

Rekan-rekannya di Gladbach juga mendapati kebiasaan Stindl yang janggal. Saat berselancar di internet, ia sanggup berlama-lama menghafal kumpulan chant di YouTube. Selain itu, Stindl juga aktif memantau jumlah fans yang berangkat ke partai tandang.

Ketika ia mengucapkan kalimat klise seperti, “Kemenangan ini untuk fans,” mengertilah, ini keluar dari mulutnya tanpa pemanis buatan.

Kenny Legg, seorang jurnalis Inggris yang menetap di Berlin menuturkan pada The Guardian bahwa kultur ultras mulai berkembang di Jerman sepanjang pertengahan 1990-an.

Kelompok ini digagas oleh generasi muda yang baru saja melalui turbulensi politik akibat reunifikasi Jerman. Maka sering ultras Jerman sangat lantang menyuarakan aspirasi politiknya, bisa itu terkait sisi komersial sepakbola, atau isu-isu sosial di luar lapangan hijau.

Stindl, yang ingat betul pengalaman pertamanya menonton Karlsruher pada 1996, tetap menikmati sepakbola dari sudut yang sama dengan mereka yang bersorak di tribun.

Sejak awal musim 2014/2015, kelompok ultras Hannover menolak memberi dukungan pada tim senior Die Roten. Boikot ini bermuara dari perselisihan antara ultras dengan presiden klub, Martin Kind.

BACA JUGA:  Jadilah Bintang, Youssoufa Moukoko!

Kind merupakan figur terdepan penentang model 50+1, ketentuan unik di Jerman yang melindungi klub jatuh ke tangan satu individu atau perusahaan. Wolfsburg dan Bayer Leverkusen diberi pengecualian karena baik Volkswagen atau Bayer telah menopang klub lebih dari 20 tahun sebelum 1 Januari 1999.

Beberapa tahun lalu, Kind berhasil memenangi perkara yang memaksa federasi sepakbola Jerman mencabut batas waktu tersebut. Kecurigaan akan niat Kind yang ingin menjadikan Hannover seperti klub korporasi mulai timbul.

Salah satu momen penting terjadi kala Kind dengan sepihak menaikkan harga tiket di tribun utara. Baginya, Ini hukuman atas ulah ultras yang mengibarkan spanduk bergambar Fritz Haarmann, pembunuh legendaris asal Hannover.

Keadaan semakin diperparah dengan jebloknya kinerja Hannover di atas lapangan. Mereka belum lagi meraih kemenangan selama 13 pertandingan Bundesliga. Menyisakan 5 pertemuan, ancaman turun kasta nyata di depan mata.

Lars Stindl, yang cukup waras dalam debat kusir ini memutuskan untuk menemui langsung perwakilan ultras. Segala unek-unek kemudian ia jejalkan di depan Kind, memintanya agar mengindahkan pendapat mereka.

Tanpa nyanyian dari 6% penonton itu, bermain di Niedersachsenstadion ibarat melawat ke kandang lawan. Tak lama berselang, ultras Hannover bersedia menyudahi boikotnya.

Pada akhirnya, Hannover lolos dari lubang jarum degradasi, namun Stindl telanjur memutuskan hengkang dari Die Roten. Dua bulan sebelumnya, ia mengumumkan kepindahan ke Borussia Park.

Stindl selalu bilang bahwa tantangan baru menjadi alasan hengkang. Tapi, keadaan di Hannover adalah penyebab yang mempercepat kepergiannya. Ia termasuk kaum yang berharap agar orang-orang seperti Kind membiarkan sepakbola tetap apa adanya.

Sama seperti kekhawatirannya terhadap penerapan video asisten wasit di sepakbola. Apa yang tersisa untuk dibicarakan orang-orang di Twitter, TV, sekolah?

Bila kurang setuju dengan pendapatnya, kalian pantas menaruh curiga. Saat bertemu Ingolstadt akhir Februari lalu, tangan Stindl secara jelas menyentuh bola yang berujung gol untuk Gladbach. Selama sepekan, publik Jerman punya bahan obrolan baru.

Dengan membandingkan pengakuan handball Miroslav Klose di Lazio yang monumental itu, Thomas Berthold dalam acaranya Bundesliga Kick-Off!, menyebut Stindl seorang pengecut. Namun sebagai mantan pesepakbola di level elite, Berthold mestinya mafhum kemenangan moral Klose gampang dipuja daripada ditiru.

Lars Stindl, sebagaimana pesepakbola pertama yang kalian kenal―Bima Sakti atau Maradona?—gila dan mendambakan kemenangan. Sepatutnya, setiap pemain yang mencetak gol, ia juga meluapkannya penuh emosi.

Masalahnya, menghargai pesepakbola semata-mata dari banyak gol dan medali hanya menawarkan kemudahan, tapi mereduksi sisi humanis yang dalamnya tak terkira. Bagaimana simbol-simbol itu diraih oleh beragam kepribadian? Layak dan wajib dirayakan.

Sayangnya, sampai kapan pun, akan tetap muncul suara-suara yang membayangkan Stindl jauh lebih sukses, lebih mujur, lebih segalanya andai ia pribadi yang tak “berlindung dari angin”. Tapi percayalah, wejangan dari penulis James Thurber: “Beautiful things don’t ask for attention.”

Kepergiannya adalah pukulan telak buat Hannover. Ketakutan terbesar mereka bukan soal gol dan asisitu bisa diciptakan―melainkan hilangnya seorang teman dan penyambung. Pribadi seperti Stindl mustahil digantikan, jadi nikmatilah selagi ada.

Memandang tribun utara, Stindl mengucapkan salam perpisahannya usai laga pamungkas melawan Freiburg. Spanduk wajah Haarmann telah diganti, kali ini berbunyi, “Danke Lars”.

Betapa beruntungnya orang-orang di Monchengladbach.

Komentar
Penulis kambuhan yang menganggap kedekatannya dengan sepakbola ibarat perselingkuhannya dari masalah dunia. Ada di @notomoyoo dan berbagi pengalaman di tribun lewat instagram @cornelkick