Antara Saya, Ivan Rakitic dan Aksi Kemerdekaan Catalunya

“Penumpang sekalian, karena terminal 1 bandara ditutup, kita harus menunggu bus bandara untuk membawa kita ke terminal 2. Terima kasih atas perhatiannya.”

Pengumuman dari pramugari itu membuat para penumpang heboh. Berkat kemampuan memahami Bahasa Spanyol saya yang sudah lumayan, saya bisa menangkap pembicaraan beberapa penumpang asal Spanyol tentang penyebab ditutupnya terminal 1 bandara internasional El-Prat itu. Ternyata, selama beberapa jam di hari Senin, 14 Oktober 2019 itu, para demonstran menduduki terminal 1 dan menutup akses lalu lintas ke bandara El-Prat.

Satu jam kemudian, saya akhirnya sudah berada di terminal 2. Setelah mengambil koper, saya bergegas ke luar untuk melihat keadaan. Niat saya yang tadinya menumpang bus ke pusat kota terpaksa harus batal. Jalanan di luar terminal 2 pun sudah kacau balau.

Namun, kacau balau maksud saya di sini adalah penggambaran ratusan, mungkin ribuan orang yang kebingungan mencari moda transportasi untuk membawa mereka dari bandara ke pusat kota Barcelona. Karena jalanan ditutup, bus dan taksi sama sekali tak bisa merapat. Ada beberapa taksi yang berhenti, tapi setelah diperhatikan, penumpangnya adalah petugas bandara atau pekerja media.

Setelah bertanya ke beberapa petugas keamanan, saya mendapat informasi bahwa kereta dan kereta bawah tanah (metro) masih beroperasi dan merupakan pilihan terbaik pada saat itu untuk menuju ke pusat kota. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan metro terakhir untuk hari Senin adalah tepat tengah malam.

Saya bergegas ke stasiun metro, tapi ternyata stasiun metro sudah dipenuhi orang-orang membawa koper. Setelah mengantre untuk membeli tiket di mesin otomatis selama 20 menit, saya masih harus menunggu hampir setengah jam sebelum petugas keamanan mengizinkan kami masuk.

BACA JUGA:  Celta Vigo (4-1) Barcelona : Permasalahan Staggering dalam Sistem Luis Enrique

Ternyata, akses untuk masuk ke metro juga dipenuhi oleh para demonstran yang menggunakan jasa transportasi ini untuk meninggalkan bandara. Tepat lima menit sebelum pukul 12 malam, akhirnya saya sudah berada di dalam metro yang membawa saya ke pusat kota. Di kanan dan kiri saya, ada begitu banyak turis asal Jerman, Inggris, Italia, dan lain-lain yang juga kebingungan menerka penyebab kekacauan malam itu.

Keesokan paginya, saya baru menyadari bahwa nasib saya pada malam itu masih jauh lebih beruntung daripada ribuan orang lain yang mendarat di bandara El-Prat pada hari Senin, 14 Oktober. Salah satunya adalah gelandang FC Barcelona, Ivan Rakitic.

Pemain tim nasional Kroasia tersebut terpaksa berjalan kaki bersama ratusan atau ribuan wisatawan yang terkena dampak demonstrasi besar-besaran di hari tersebut.

Kala itu, Rakitic baru saja pulang dari membela tim nasionalnya di babak kualifikasi Piala Eropa 2020. Apes betul nasibnya. Ini menambah panjang daftar kesialan eks pemain Schalke 04 dan Sevilla ini dalam beberapa pekan terakhir. Seperti kita ketahui, Rakitic mulai tersingkir dari skuat utama El Barca.

Setelah membaca-baca media, akhirnya saya memperoleh informasi bahwa demonstrasi yang menyulitkan Rakitic beroleh taksi dan melumpuhkan berbagai aktivitas di ibu kota region Catalunya ini dipicu oleh ketidakpuasan para pendukung kemerdekaan Catalunya. Mereka memprotes keputusan Mahkamah Agung Spanyol yang memenjarakan sembilan orang aktivis gerakan separatis.

Kesembilan aktivis tersebut dijatuhi hukuman penjara antara sembilan hingga tiga belas tahun akibat penghasutan dan penyalahgunaan dana publik pada pelaksanaan referendum kemerdekaan Catalunya di tahun 2017 lalu. Meskipun referendum itu sendiri menghasilkan kemenangan untuk para pendukung separatisme, pemerintah Spanyol menolak hasilnya karena prosesnya dianggap cacat hukum.

BACA JUGA:  Chauvinisme Sepak Bola

Tensi politik yang kembali memanas di region Catalunya ini mau tidak mau akan berdampak pada pelaksanaan laga El Clasico di Stadion Camp Nou pada 26 Oktober 2019.

Sampai tulisan ini dibuat, pihak operator liga sedang mengupayakan pergantian stadion sebagai pelaksana laga El Clasico pertama dengan alasan keamanan. Namun, pihak Barcelona dan Real Madrid dikabarkan menolak usulan perubahan tempat, apalagi penundaan pertandingan.

Yang jelas, semua mata di dunia pasti menunggu para pendukung El Barca melaksanakan ritual tuntutan kemerdekaan mereka yaitu pada menit ke-17 dan detik ke-14 di setiap pertandingan kandang mereka sendiri. Tentunya menarik untuk melihat ritual yang mengacu ke tahun “1714” (tahun yang dianggap sebagai menyerahnya Catalunya ke tangan kerajaan Spanyol) ini dialamatkan kepada Los Blancos, julukan Madrid, musuh abadi mereka sekaligus klub kebanggaan pihak kerajaan.

 

 

Komentar
Selalu percaya sepak bola bukan hanya 2 x 45 menit di lapangan hijau, melainkan juga filosofi sederhana yang bisa mengubah hidup manusia. Cintanya terhadap sepak bola tumbuh di stadion bersejarah yang dulu bernama Mattoanging, dan sampai sekarang tetap menjadi pendukung setia PSM. Pernah menerbitkan buku memoar perjalanan sepak bola berjudul Home & Away (2014).