Musim Dingin yang Disambut Chelsea dengan Senyum Ceria

Winter is coming. Begitu istilah di semesta Game of Thrones untuk menandakan datangnya periode kegelapan, bersamaan dengan tumpukan salju yang menutupi cerobong asap. Namun di jagad sepakbola, terutama Eropa, musim dingin adalah pertanda datangnya dua hal, libur kompetisi (kecuali di Inggris) dan bursa transfer jilid kedua.

Khusus hal yang disebut belakangan, ada satu pihak yang kini menyambutnya dengan senyum ceria. Beberapa waktu lalu, Chelsea mendapat hukuman dari induk organisasi sepakbola dunia (FIFA) berupa larangan berkecimpung di bursa transfer selama dua periode (musim panas 2019/2020 dan musim dingin 2019/2020) akibat perekrutan pemain di bawah umur.

Akan tetapi, The Blues mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) agar beroleh keringanan. Dan beruntung, harapan Chelsea terkabul usai CAS mengumumkan bahwa klub yang dimiliki Roman Abramovich tersebut boleh beraktivitas di bursa transfer musim dingin 2019/2020 dan denda yang mereka harus bayarkan berkurang jadi 300 ribu Franc Swiss (awalnya 600 ribu Franc Swiss) pada 6 Desember kemarin.

Cukup wajar bila Chelsea ingin menambah pemain baru pada bursa transfer musim dingin mendatang. Mesti diakui jika performa mereka sejauh ini belum memuaskan. Di Liga Primer Inggris, tiga dari empat pertandingan terakhir Tammy Abraham dan kolega berakhir nestapa. Mereka kalah dari Manchester City (23/11), West Ham (30/11) dan Everton (7/12). Hasilnya, The Blues masih tertahan di posisi empat klasemen sementara.

Setali tiga uang, unjuk kerja mereka juga tak meyakinkan di ajang Liga Champions. Hingga menyelesaikan lima laga, Chelsea menghuni posisi tiga klasemen sementara Grup H dengan raihan delapan angka. Peluang untuk melaju ke fase gugur memang terbuka, tapi berbuat kesalahan di partai terakhir yang akan mereka lakoni pada 10 Desember nanti kontra Lille, berpotensi menjerumuskan Abraham dan kawan-kawan ke neraka Liga Europa.

Bila menilik komposisi skuat yang banyak mengandalkan pemain muda, penampilan Chelsea sebenarnya tak buruk-buruk amat. Performa para rival layaknya Arsenal, Manchester United, dan Tottenham Hotspur bahkan jauh lebih semenjana.

Akan tetapi, kebobrokan klub rival adalah cerita lain. Sementara memperbaiki internal tim adalah pekerjaan rumah sesungguhnya bagi Frank Lampard. Masalah paling nyata dan sudah diakui sang pelatih sebagai kekurangan terbesar timnya adalah lini belakang yang keropos.

BACA JUGA:  Fantasy Premier League: Bonus Point System dari Pemain Bertahan

Sampai pekan ke-16 Liga Primer Inggris musim ini, gawang Kepa Arrizabalaga telah koyak 24 kali. Berdasarkan statistik, jumlah itu merupakan yang paling banyak di antara penghuni delapan besar klasemen.

Aspek bertahan Chelsea memang wajib diperhatikan dan dibenahi. Sudah jadi rahasia umum jika The Blues sering kepayahan menghadapi tim yang mengandalkan serangan balik. Tim besutan Lampard juga beberapa kali kebobolan melalui situasi bola mati. Lemahnya koordinasi antar pemain dalam menghadapi skema tersebut jadi poin lain yang patut diperbaiki.

Chelsea butuh sosok bek tengah yang mampu memimpin trio Andreas Christensen, Fikayo Tomori, dan Kurt Zouma. Sejatinya Lampard punya sosok Antonio Rüdiger, tapi lelaki berkebangsaan Jerman itu masih berkutat dengan cedera yang dideritanya. Sang pelatih pun hanya punya dua opsi realistis, menunggu Rüdiger fit kembali atau merogoh kocek untuk mendatangkan satu bek tengah berpengalaman lainnya.

Nama bek Napoli, Kalidou Koulibaly, sejak beberapa musim lalu sering dikaitkan dengan The Blues. Situasi kurang baik di tubuh I Partenopei saat ini tentu wajib dimanfaatkan jika Koulibaly dijadikan buruan utama. Toh, isi rekening Chelsea masih kelewat gemuk, bukan?

Selain itu, pos bek kiri masih saja memusingkan Lampard. Bahkan, ia akhirnya menempatkan kembali Cesar Azpilicueta di posisi tersebut gara-gara belum maksimalnya Emerson Palmieri yang berkutat dengan problem kebugaran dan Marcos Alonso yang inkonsisten. Ben Chilwell dari Leicester City adalah opsi menarik sekaligus terbaik, meski keadaan The Foxes saat ini jauh lebih menyenangkan ketimbang Chelsea.

Bagaimana dengan lini tengah? Saya merasa bahwa Chelsea belum membutuhkan tambahan tenaga untuk pos ini. Dibanding musim lalu, beberapa pemain mengalami peningkatan performa yang cukup signifikan dan memberi pengaruh besar di atas lapangan. Jorginho dan Mateo Kovacic kian mentereng sebagai nyawa permainan The Blues. N’Golo Kante? Semua orang tahu perihal kualitasnya.

Mason Mount kerap memberikan dimensi permainan yang berbeda dan menyegarkan. Jika Ruben Loftus-Cheek pulih dan bisa mengembalikan performa terbaiknya, mesin permainan The Blues tentu semakin garang. Praktis, cuma Ross Barkley yang kudu dirukyah supaya tampil lebih baik dan tak lagi indisipliner.

BACA JUGA:  Memetakan Masa Depan Lini Tengah Chelsea

Kebuntuan Chelsea di sepertiga akhir, saat menderita kekalahan dari West Ham, mempertegas betapa krusialnya mendatangkan satu nama di lini serang. The Blues butuh pemain yang berani merangsek ke kotak penalti, membuka ruang seraya menciptakan peluang. Abraham perlu dimanjakan dengan suplai bola yang lancar agar kilaunya semakin terihat. Terlebih, penempatan posisinya tergolong sangat apik.

Pedro dan Willian memang masih kompeten, tapi usia yang semakin uzur bikin aksi keduanya mulai menurun. Di sisi lain, Lampard belum memberi kepercayaan lebih kepada Michy Batshuayi. Sementara Olivier Giroud lebih sering diberitakan bakal segera angkat kaki dari Stadion Stamford Bridge kendati musim lalu presensinya cukup esensial.

Selain Abraham, Chelsea memiliki ketergantungan cukup tinggi kepada Christian Pulisic. Apalagi penampilannya menunjukkan peningkatan akhir-akhir ini. Sedangkan Callum Hudson-Odoi, walau menjanjikan, masih terus mencari bentuk terbaiknya.

Nama pemain depan yang melambung sebagai incaran The Blues adalah Jadon Sancho. Kedekatannya dengan beberapa penggawa muda Chelsea di tim nasional Inggris sedikit memberi harapan. Namun klub yang memburu Sancho bukan hanya kampiun Liga Champions 2011/2012 tersebut karena sang rival, United, juga mengintip peluang dari balik tirai.

Sejarah di Stadion Old Trafford bisa saja meluluhkan hati Sancho jika dirinya ingin jadi pusat perhatian. Namun kalau Marina Granovskaia, direktur klub, benar-benar memiliki visi yang sama dengan Lampard tentang cetak biru Chelsea di masa depan, uang penjualan Eden Hazard dan David Luiz musim panas kemarin layak untuk digunakan sebagai amunisi buat menebus Sancho dari Borussia Dortmund.

Chelsea diprediksi siap menghabiskan puluhan juta paun pada periode transfer musim dingin nanti. Wajar bagi klub sebesar mereka untuk mengucurkan dana tidak sedikit demi membenahi skuat agar target yang dicanangkan Lampard pada musim ini dapat dipenuhi. Apalagi kas tabungan The Blues tengah menggunung sehingga tak ada rasa khawatir untuk belanja secara jor-joran.

 

Komentar
Andi Ilham Badawi, penikmat sepak bola dari pinggiran. Sering berkicau di akun twitter @bedeweib