Apa itu Gegenpressing?

LIVERPOOL, ENGLAND - OCTOBER 09: Jurgen Klopp is unveiled as the new manager of Liverpool FC during a press conference at Anfield on October 9, 2015 in Liverpool, England. (Photo by Alex Livesey/Getty Images)

Kabar dikontraknya Jurgen Klopp sebagai pelatih baru Liverpool tampaknya memunculkan euforia tersendiri. Beberapa ekspektasi mulai bermunculan untuk dirinya. Ekspektasi tersebut tentu saja lumrah mengingat dirinya pernah sukses besar bersama Borussia Dortmund.

Salah satu yang melekat pada Klopp adalah penggunaan gegenpressing oleh dirinya. Seolah gegenpressing merupakan suatu identitas yang melekat pada dirinya. Namun, apa sebenarnya gegenpressing itu?

Pengertian gegenpressing

Gegenpressing merupakan sebuah frasa dari bahasa Jerman yang apabila diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi counterpressing. Frasa ini memiliki peran tersendiri dalam fase permainan sepak bola.

Sebagaimana kita tahu dalam permainan sepak bola terdapat tiga fase utama, yaitu menyerang, bertahan, dan transisi. Fase transisi ini dapat berupa transisi dari bertahan ke menyerang atau transisi dari menyerang ke bertahan.

Jose Mourinho pernah menyatakan bahwa fase transisi merupakan fase yang paling krusial dalam permainan. Mengapa demikian? Karena pada fase ini, umumnya struktur pemosisian suatu tim sedang tidak terorganisir. Maka, tim yang dapat memanfaatkan situasi ini dengan lebih baik akan memiliki keuntungan atas lawannya.

Spielphase

Siklus fase permainan dalam sepak bola

Berdasarkan siklus ideal di atas, ketika suatu tim kehilangan bola maka mereka harus melalui fase transisi bertahan sebelum berada pada situasi bertahan terorganisir. Kemudian setelah berhasil merebut bola, maka mereka akan kembali melalui fase transisi sebelum mencapai situasi penguasaan bola yang terorganisir.

Bagaimana jika kita dapat memotong rantai siklus di atas? Di mana ketika kita kehilangan bola tidak perlu berada dalam fase bertahan, dan sesegera mungkin kembali berada dalam fase menyerang. Di sinilah peranan gegenpressing.

Aplikasi sederhananya, ketika suatu tim kehilangan bola maka pada saat itu juga mereka harus segera merebut bola kembali. Ada beberapa alasan yang dapat menjadi pertimbangan untuk melakukan hal ini.

Pertama, anda tidak ingin para pemain harus menempuh jarak yang jauh ketika berada pada fase transisi. Jarak tempuh yang jauh pada fase transisi ini dapat menguras energi. Apalagi untuk berada dalam fase bertahan terorganisir, anda dituntut untuk melakukannya dengan cepat.

Kedua, untuk mencegah counterattack lawan. Terutama ketika lawan anda memiliki kecepatan yang sangat baik, baik kecepatan secara individu maupun kecepatan dalam melakukan counterattack secara tim. Dengan menerapkan counterpressing, maka anda akan menghambat laju counterattack lawan. Oleh karena itu terdapat beberapa anggapan bahwa gegenpressing/counterpressing = to press the opponent’s counterattack.

 Sampai pada batasan apa gegenpressing ini dapat dilakukan?

Baca Juga:  Bayern Munchen (3-0) Bayer Leverkusen

Setiap pelatih tentu memiliki tujuan dan style bermainnya masing-masing. Beberapa mengaplikasikan gegenpressing untuk menghambat laju counterattack lawannya, sedangkan beberapa melakukannya untuk dapat kembali menguasai bola. Pelatih seperti Pep Guardiola bahkan memiliki aturan tersendiri yang disebut “six second rule”, di mana para pemainnya harus segera kembali merebut bola dalam waktu enam detik.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa timnya memiliki rata-rata penguasaan bola yang sangat besar. Sederhananya, dengan menguasai bola maka suatu tim dapat melakukan serangan.

Apa keuntungannya melakukan gegenpressing?

Berdasarkan pada siklus fase permainan sebelumnya ketika suatu tim baru saja merebut bola dari lawannya, maka tujuan utamanya adalah sesegera mungkin untuk melakukan counterattack. Pada situasi ini tentu saja struktur pemosisiannya akan berada pada situasi tidak terorganisir di mana para pemain lawan akan berusaha untuk bergerak ke depan. Sehingga ketika bola berhasil direbut kembali melalui gegenpressing, maka akan lebih mudah dalam melakukan serangan karena lawan berada dalam situasi tidak terorganisir. Lebih tepatnya karena struktur posisi lawan tidak memungkinkan untuk berada dalam fase bertahan terorganisir.

Selain itu, ketika bola berhasil direbut kembali melalui gegenpressing maka posisinya akan berada lebih dekat dengan gawang lawan. Berbeda jika bola berhasil direbut kembali ketika berada pada fase bertahan terorganisir, di mana posisi bola akan lebih dekat dengan gawang sendiri.

Jika sebelumnya telah disebutkan bahwa pada fase transisi ini terdapat disorganisasi struktur posisi, lalu bagaimana bisa suatu tim melakukan gegenpressing dengan efektif?

Pep Guardiola memiliki aturan tersendiri yang disebutnya sebagai ‘’fifteen pass rule”. Sebelum melakukan serangan (progresi bola), timnya harus setidaknya melakukan umpan sebanyak 15 kali. Dengan 15 kali umpan ini diharapkan timnya akan berada dalam struktur posisi yang tepat untuk melakukan progresi dan penetrasi serta berada dalam struktur posisi yang tepat pula untuk melakukan gegenpressing jika bola hilang.

Sederhananya ketika berada dalam fase menyerang timnya juga mempersiapkan diri ketika nantinya berada dalam fase transisi bertahan. Oleh karena itu, Pep Guardiola (dan Juan Manuel Lillo) tidak lagi memandang sepak bola dari siklus tiga fase permainan seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Mereka lebih memandangnya sebagai “continuous flow of specific positional structure which the team is trying to achieve” (aliran kontinyu dari struktur posisi tertentu yang dibutuhkan pada situasi tertentu).

Baca Juga:  Memahami Konsep Progresi dan Penetrasi dalam Sepakbola

Bagaimana mengaplikasikannya?

Ada sejumlah orientasi yang dapat digunakan dalam mengaplikasikan counterpressing. Orientasi ini dapat didasarkan pada orientasi permainan yang pernah diungkapkan oleh Arrigo Sacchi, yaitu bola, ruang, lawan, dan teman. Orientasi ini yang nantinya akan mempengaruhi perilaku ketika melakukan gegenpressing, seperti posisi badan dalam melakukan pressing, berapa orang yang terlibat dalam memberikan pressing, ruang mana yang harus ditutup, dll.

Orientasi-orientasi tersebut juga dapat kita pisahkan masing-masing untuk menyederhanakan aplikasi dari gegenpressing ini. Misalkan pada orientasi lawan, begitu kehilangan bola setiap opsi umpan di sekitar pemain lawan yang menguasai bola akan langsung dijaga. Sementara itu hanya satu atau dua orang saja yang memberikan pressure terhadap pembawa bola. Namun tentu saja pengaplikasian yang paling efektif harus mempertimbangkan situasi di lapangan yang berdasarkan pada keempat orientasi tersebut.

Apakah gegenpressing dapat dikontrol?

Iya. Yang dimaksud dengan kontrol di sini bukanlah struktur posisi untuk melakukannya, namun kemunculannya.

Bagaimana?

Seperti yang telah dijelaskan pada bagian definisi, bahwa gegenpressing dilakukan untuk merebut bola kembali. Situasi yang terjadi adalah lawan baru saja merebut bola dan akan melakukan counterattack, sehingga struktur posisinya tidak terkontrol dengan baik. Tujuannya adalah untuk dapat melakukan serangan dengan struktur posisi lawan yang tidak mendukung untuk berada dalam fase bertahan setelah merebut bola kembali via gegenpressing.

Berdasarkan hal tersebut muncul sebuah inovasi taktik di mana suatu tim secara sengaja memberikan umpan yang salah untuk kemudian melakukan gegenpressing. Umpan yang salah ini dapat ditujukan pada area atau pemain tertentu. Tentu saja struktur posisi untuk melakukan gegenpressing harus sudah dipersiapkan. Hal ini dapat dilakukan sejak dari build-up. Build-up yang dilakukan bukanlah untuk melakukan progresi melalui umpan-umpan yang konstruktif, namun untuk mempersiapkan struktur yang memungkinkan untuk melakukan gegenpressing. Pelaku utama dari strategi ini adalah Roger Schmidt yang sukses dengan RB Salzburg dan kini menangani Bayer Leverkusen.

 

Komentar