Berlomba Menjadi Loyalis Sepak Bola

Zen RS suatu waktu pernah berkata, terkadang, manusia butuh piknik untuk menghindari ketololan. Perkataan yang saya anggap benar. Rasa tolol berlebih pula yang menggiring saya untuk tamasya ke tumblr Zen berjudul kurangpiknik itu.

Seketika saya melahap seluruh isinya yang cenderung berat dan penuh isu-isu politis, utamanya publikasi beberapa hari belakangan perihal teror di Prancis dan esai tentang politik ingatan. Piknik, sekali lagi, menjadi diksi pas bagi beberapa orang untuk mewaraskan perilaku manusia modern yang mulai bebal dan banal.

Sepak bola acapkali lekat dengan kebodohan masif yang dibaluti dengan megah oleh rasa pongah dan kepemilikan berlebih dari seorang suporter untuk salah satu pemain idola atau bahkan, klub idola mereka masing-masing.

Saya bukan pribadi nihilis, saya menghargai opini dan diktum Bill Shankly yang bilang sepak bola lebih dari urusan hidup atau mati. Atau kutipan syahdu Nick Hornby yang memuja sepak bola laiknya seorang pria memuja wanitanya.

Bukan hanya menghargai, namun juga setuju dengan kutipan-kutipan tersebut. Bagi saya sepak bola jauh lebih melankolis dari bulir-bulir hujan bulan Desember (kebetulan ini bulan Desember, ya?).

Indonesia, seperti laiknya negara dunia ketiga, acapkali lekat dengan stigma tertinggal dan terbelakang.

Ketika kita masih sibuk memikirkan hal-hal remeh seperti Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang beniat memberi sensor ke beberapa tayangan kekerasan di serial kartun anak-anak, Hollywood lewat film The Martian bahkan secara aneh tapi masuk akal berhasil membuat salah satu scene hebat saat Mark Wahlberg berhasil menanam dan memanen kentang di Mars.

Bayangkan jarak yang sedemikian terasa antara sensor KPI tentang kartun anak-anak dengan propaganda Hollywood meyakinkan manusia bahwa bercocok-tanam di Mars adalah sebuah kemungkinan yang sahih, walau hanya dalam film.

BACA JUGA:  Zinedine Zidane: Motivator Ulung yang Miskin Taktik

Sepak bola di Indonesia pun tumbuh subur dengan beberapa individu atau komunitas yang tak jarang berlaku banal dan bebal. Khususnya menyoal tentang dukungan dan kecintaan terhadap sebuah klub sepak bola di Eropa sana.

Masih mending ketika Anda seorang bobotoh yang tiap kali hadir ke Jalak Harupat untuk mendukung Maung Bandung dan seketika Anda murka karena Persib dihina atau bermain buruk.

Tapi, bayangkan Anda yang mendaku diri suporter klub top Eropa yang gemar murka dan marah-marah karena klub idola Anda kena banter, memangnya berapa kali Anda rutin ke stadion? Berapa kali berteriak lantang dengan chants kebanggaan klub langsung ke stadion di Inggris, Spanyol atau Italia sana?

Atau kalau Anda ingin beri sumbangsih secara finansial untuk klub, seberapa sering Anda beli produk-produk resmi klub yang harganya jutaan rupiah itu? Meminjam ucapan Soekarno, apa yang sudah Anda berikan untuk klub idola sampai sebegitu bebalnya Anda mendukung sebuah klub Eropa sana?

Saya suporter Arsenal. Benar, tim asal London Utara yang sekalipun dalam hidup belum pernah saya kunjungi stadionnya.

Maka ketika periode 2005 sampai detik ini Arsenal kerap dituding dengan sebutan apa pun, saya tak pernah marah atau menanggapi dengan ngotot. Jujur saja, alasan rasional apa yang membuat saya harus marah? Karena kepemilikan?

Saya bukan Stan Kroenke atau Ivan Gazidis. Karena taktik yang monoton, badai cedera yang mendera, hingga puasa gelar? Tentu saja bukan, saya bukan Arsene Wenger.

Karena performa tim yang kerap labil dan sering kalah lawan tim medioker? Bukan juga, toh, kapten tim adalah Mikel Arteta dan Per Mertesacker, bukan saya.

Kerapkali saya bahkan menuding beberapa fanbase Arsenal yang tersebar di berbagai regional di Indonesia juga sering berlebihan. Merasa paling benar dan menunjukkan citra yang loyalis untuk tim.

BACA JUGA:  Refleksi Masa Muda Slaven Bilic dalam Diri Dimitri Payet

Saya juga ikut menangis haru saat dua tahun lalu Arsenal mengalahkan Hull City di final Piala FA, tapi itu saja tak cukup untuk membuat saya percaya diri mendaku diri sebagai loyalis yang hebat.

Saya tak seloyal itu. Dan saya cukup tahu diri dengan itu. Tak usah berlebihan berlomba pamer loyalitas, sewajarnya saja, memang faktanya Arsenal klub medioker karena sepuluh tahun puasa gelar Liga, lalu mau apa?

Fanbase tim-tim di Eropa ini sebenarnya terlalu berlebihan dalam menanggapi banter dan tulisan sarkastik tentang tim pujaannya. Perilaku orang-orang yang kurang piknik, dan butuh piknik.

Orang hanya mau membaca ulasan yang baik namun abai terhadap fakta buruk timnya, buat apa? Buat disombongkan kebaikannya dan ditutup rapat-rapat bobroknya? Cara mencintai seperti itu yang Anda ingin tunjukkan?

Masifnya dunia menuju modernitas dan perkembangan media daring dan linimasa media sosial yang makin maju, membuat dalam sekejap Anda bisa tahu perkembangan tim-tim idola melalui situsweb resmi atau postingan di Twitter dan Facebook.

Lalu, dengan bekal membaca berita dan merasa dekat dengan tim idola, Anda berusaha menunjukkan cinta dan loyalitas yang besar? Dengan masuk dan membaca website tim-tim tersebut Anda merasa seakan Anda fans yang rutin menyisihkan uang untuk masuk ke stadion yang tiketnya mahal tersebut?

Banyak baca buku dan belajar lagi ya, Anda dan saya itu hanya suporter layar kaca. Mendukung dan mencintai boleh, tapi loyalitas tak usah berlebihan dan terkesan ditonjolkan atau bahkan dilombakan untuk ditampilkan, sewajarnya saja, memangnya Anda siapa?

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.