Bisa Apa Dortmund Musim Ini?

Olympiastadion Munchen merupakan salah satu arena sepak bola paling bersejarah di Jerman. Stadion berkapasitas sekitar 70.000 tempat duduk ini tercatat pernah menggelar dua partai final kompetisi antarnegara paling prestisius, yakni Piala Dunia 1974 dan Piala Eropa 1988.

Sementara di level antarklub, stadion yang pernah dijadikan kandang oleh Bayern Munchen ini menghelat laga puncak Liga Champions sebanyak tiga kali, yaitu 1979, 1993, dan 1997.

Namun, uniknya, Bayern tak pernah sekali pun melenggang ke partai puncak di tiga kesempatan tersebut. Justru Borussia Dortmund, rival bebuyutan Bayern di Jerman yang sempat mencicipi nikmatnya berpesta di stadion ini setelah menggondol gelar Liga Champions tahun 1997.

Die Schwarzgelben yang saat itu dihuni bintang-bintang seperti Juergen Kohler, Andreas Moeller, Karl-Heinz Riedle, dan Matthias Sammer serta diasuh Ottmar Hitzfeld sukses membabat utusan Italia yang berstatus sebagai juara bertahan, Juventus.

Sepasang gol Riedle dan sebiji gol dari youngster Lars Ricken hanya bisa dibalas sekali oleh tim besutan Marcello Lippi via kaki Alessandro Del Piero.

Mengakhiri laga dengan skor 3-1 dan membawa trofi Liga Champions kembali ke tanah Bavaria jelas sebuah episode kehidupan yang takkan lekang oleh waktu bagi awak tim maupun fans setia Die Schwarzgelben kala itu.

Bahkan, mereka-mereka yang baru mengenal dan mendukung Dortmund belakangan ini sudah pasti akan mencari tahu sembari mengingat momen emas tersebut selama-lamanya.

Sebenarnya, Dortmund punya kans untuk mengulangi pencapaian tersebut pada 2013 silam ketika mentas di stadion Wembley. Sayang, usaha Marco Reus dkk. ketika itu digagalkan sang rival abadi, Bayern Munchen, dengan skor tipis 1-2.

Adalah winger kidal asal Belanda, Arjen Robben, yang memupus impian Dortmund saat itu dengan menceploskan gol kedua untuk Bayern saat laga memasuki menit-menit akhir.

Tragisnya, kekalahan dari Bayern di All German Final itu bak sinyal kemunduran yang dialami kubu Dortmund, baik di level domestik maupun kontinental. Karena sejak musim 2013/2014, mereka tak mampu lagi keluar sebagai kampiun Bundesliga, DFB-Pokal, lebih-lebih kompetisi antarklub Eropa.

Kepergian para bintang, yang uniknya justru menyeberang ke Bayern, seperti Mario Goetze dan Robert Lewandowski dianggap sebagai salah satu biang keladi mengingat peran keduanya amat sentral bagi Die Schwarzgelben saat itu.

BACA JUGA:  Buah Pemikiran Ancelotti dalam Kebangkitan Everton

Tanpa tedeng aling-aling, Bayern dianggap “mempreteli” kekuatan sang rival. Selama periode itu juga, Die Roten sukses menjadi yang terbaik di tanah Jerman.

Seorang teman saya yang merupakan penggemar Chelsea dan Liga Primer Inggris bahkan dengan woles menyebut jika kompetisi Liga Jerman selayaknya berganti nama dari Bundesliga menjadi Bayernliga. Alasannya tentu karena dominasi klub kesayangan Kak Abraham Sitompul itu memang tiada duanya.

Die hard Arsenal bernama Isidorus Rio yang kabarnya sedang getol nggarap skripsi pun sampai penuh takzim menyebut bahwa para pemain muda dan bagus di penjuru Eropa akan hengkang ke Jerman satu demi satu karena semua akan Bayern pada waktunya.

Lalu apa yang bisa diperbuat Dortmund untuk mengganggu dominasi Bayern sekaligus memutus paceklik prestasi mereka musim ini?

Permainan Dortmund era Juergen Klopp yang kondang dengan gegenpressing mendapat sedikit bumbu penyedap dari Thomas Tuchel, sang pelatih anyar sejak musim lalu, berupa gaya penguasaan bola nan presisi.

Di tangan trainer berusia 42 tahun itu, pengoleksi delapan titel Bundesliga ini kembali menyandang status penantang utama Die Roten. Musim 2014/2015, prestasi Dortmund anjlok karena hanya finis di peringkat ke-7 klasemen akhir karena berkutat di papan bawah pada awal musim.

Sayangnya, upaya mengganggu Bayern memang tak pernah mudah karena Dortmund sendiri harus kehilangan beberapa pemain penting dalam strategi racikan Tuchel. Mats Hummels mudik ke Bayern, Ilkay Gundogan dicomot Manchester City, dan Henrikh Mkhitaryan dilego ke Manchester United.

Namun setidaknya, dari penjualan tiga pemain tersebut, Dortmund memperoleh dana segar sebesar 104 juta euro. Nilai yang amat masif, bukan?

Tuchel pun sadar bila celah-celah yang ada di skuatnya harus segera mungkin ditambal. Melalui dana melimpah itu pula, manajemen Die Schwarzgelben merekrut nama-nama baru dan segar dalam diri Marc Bartra, Emre Mor, Ousmane Dembele, Raphael Guerreiro, Andre Schuerrle, dan memulangkan Si Anak Hilang, Mario Goetze, ke Signal Iduna Park.

BACA JUGA:  FC Bayern Munchen 5-1 Arsenal: Perubahan Struktur Posisional Menjadi Kunci Kemenangan Die Roten

Bersama nama-nama lawas macam Pierre-Emerick Aubameyang, Shinji Kagawa, Reus, dan Neven Subotic plus beberapa wonderkid seperti Felix Passlack, Christian Pulisic, dan Julian Weigl membuat Dortmund tak perlu merasa gentar pada Bayern.

Cahaya yang sempat hilang dalam setengah dekade pun seolah muncul lagi di depan mata saat Dortmund tampil cukup prima selama pramusim. Kala bersua duo Manchester di ajang International Champions Cup kemarin, Dortmund sukses mencukur United 4-1 untuk kemudian main seri 1-1 sebelum memenangi laga via adu penalti 6-5 saat bersua City.

Sayangnya, di ajang DFL-Supercup alias Piala Super Jerman beberapa waktu yang lalu, Dortmund masih harus bertekuk lutut dihadapan Bayern usai keok 0-2. Laga itu sendiri merupakan debut resmi nakhoda anyar Bayern asal Italia, Carlo Ancelotti.

Walau kalah, namun itu tak berarti Dortmund inferior dibanding Bayern yang musim ini “hanya” membeli Hummels dan Renato Sanches. Barangkali Tuchel masih butuh waktu sedikit lagi untuk memadukan penggawa barunya dengan pilar-pilar Dortmund musim sebelumnya.

Keberadaan empat sekawan Aubameyang, Goetze, Reus, dan Schurrle di sektor penyerangan Dortmund bahkan digadang-gadang bakal mampu menyaingi kekuatan kuartet Lewandowski, Thomas Muller, Franck Ribery, dan Robben di kubu Die Roten.

Maka berjuang semaksimal mungkin menjadi syarat utama yang mesti dilakoni anak asuh Tuchel bila ingin secepatnya memeluk trofi dan menggeser Bayern dari tahtanya sembari berharap Dewi Fortuna akan berpihak kepada mereka. Terlebih, meski punya segudang pengalaman, bisa jadi Ancelotti tetap butuh waktu beradaptasi dengan skuat barunya.

Nah, langkah awal Dortmund untuk memutus dominasi Bayern musim ini berjalan dengan cukup apik. Aubameyang memborong dua gol untuk menundukkan Mainz dengan skor 2-1. Awal manis ini harus dipertahankan. Menjaga momentum dan memelihara konsistensi adalah tugas yang paling utama.

Maka, sanggupkah Dortmund mematahkan dominasi Bayern sekaligus memetik prestasi di akhir musim ini sehingga The Great Yellow Wall di Signal Iduna Park bakal semakin bergemuruh?

Ataukah bakal ada kalimat “Bayern lagi. Bayern lagi” yang kelak terucap sambil menasbihkan nama baru Liga Jerman menjadi Bayernliga?

 

Komentar