San Marino, Indonesia, dan Sepotong Kebahagiaan

Apa yang dapat dibanggakan dari sepak bola sebuah negara mungil berperingkat kedua terbawah FIFA?

San Marino terkenal, mungkin, karena dua hal.

Pertama, mereka menggelar sirkuit balap yang kerap masuk kalender tahunan jet darat bergengsi dunia, Formula 1. Kedua, sepak bola negara ini masuk kategori liliput dengan memegang rekor catatan kebobolan terbanyak dalam satu pertandingan kualifikasi Piala Eropa tatkala dihantam Jerman 13 gol tanpa balas.

Lalu kenapa, satu gol tandang yang dicetak Mattia Stefanelli ke gawang Norwegia, memicu banjir euforia di tanah media sosial?

Mengapa para pemain tim nasional San Marino merayakan gol pada menit ke-54 tersebut dengan meriah dan penuh kebahagiaan? Bukankah hasil akhir pertandingan tersebut adalah 4-1 untuk kemenangan Norwegia, sekaligus memperpanjang puasa poin negara ini di kualifikasi Piala Dunia 2018?

Menjadi penikmat bola di San Marino, bagi saya pribadi, adalah cara terbaik untuk menikmati sepak bola dalam bentuk paling sederhana.

Kesadaran diri bukan “pemain besar” di ranah sepak bola dunia, membuat pola pikir dan ekspektasi mereka akan kesuksesan amat sangat sederhana. Ini seperti membayangkan perasaan suporter, manajemen, dan pemain Leicester City kala menjuarai Liga Primer Inggris musim lalu.

Berangkat dengan ekspektasi terhindar dari jerat degradasi, di akhir kompetisi, mereka justru keluar sebagai juara. Dongeng ada untuk membuat sepak bola bukan lagi semata sebagai kompetisi, persaingan, dan kebebalan, tapi juga euforia, mimpi, dan yang paling utama, kebahagiaan yang hakiki.

Gol Stefanelli, penyerang muda berusia 23 tahun itu, adalah sesuatu yang setara dengan impian publik sepak bola Indonesia yang merindukan gelar usai dahaga prestasi dan karut marut sepak bola yang tak jelas arah dan ujungnya.

Bedanya pun jelas, ketika Indonesia, sebagai negara sepak bola yang pernah menjadi momok menakutkan di Asia Tenggara pada masanya, kini selalu tertatih, suntuk menata ulang federasi dan membangun ulang kekuatan timnasnya.

BACA JUGA:  Menghargai Pengabdian Widodo C. Putro

San Marino, negara kecil itu, justru sibuk merayakan sebuah gol tandang pertama di ajang kualifikasi Piala Dunia sejak 2001, atau tepatnya, sejak 15 tahun terakhir.

Bahagia dan sukses adalah soal pola pikir. Dan terkadang, cara paling sederhana untuk bahagia adalah dengan tidak memikirkannya sama sekali.

Menyaksikan perayaan gol San Marino malam itu adalah pengingat bahwa sepak bola masih bisa menawarkan romantisme. Perhatikan gurat-gurat bahagia para pemain San Marino.

Stefanelli, sang pencetak sejarah, merayakan golnya dengan berlari ke bangku cadangan. Ia disambut rekan dan tim pelatih dengan suka cita. Di tengah tuntutan sepak bola industri yang makin kapitalis, masih ada bulir-bulir kebahagiaan yang dapat disesap.

Paradoks Indonesia

Lalu kenapa Indonesia, negara kepulauan terbesar di tenggara Asia, masih saja tak bisa menemukan kebahagiaan dari lapangan hijau? Mantan Macan Asia ini terlalu sibuk dengan macam “aturan” dan “pasal” sehingga yang namanya prestasi, bahkan yang paling sederhana, masih terlalu jauh untuk digapai.

Jawabnya ada di ekspektasi dan pola pikir. Begini contohnya, bayangkan Anda lahir dari orangtua warga negara San Marino. Sedari Anda kecil, orangtua Anda pasti tidak akan menceritakan bualan belaka bahwa dahulu kala, negara Anda adalah nama besar di kancah sepak bola dunia.

Karena memang tidak ada yang bisa diceritakan dan dibanggakan dari sepak bola San Marino.

Ini berbeda dengan kita yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia. Sedari kecil, saya misalnya, sudah dicekoki berbagai sudut pandang dan cerita menakjubkan tentang kehebatan Ribut Waidi, Rochy Putiray yang gemar bergaya eksentrik di atas lapangan, dan cerita gol spektakuler Widodo Cahyono Putro di gelaran Piala Asia 1996.

Cerita dan dongeng itu membuat ekspektasi saya, bocah kecil penggila sepak bola dari pinggiran kota kecil di Jawa Timur, menjadi tinggi dan berpikir secara sederhana, “Oh negara saya adalah nama besar di pentas sepak bola dunia.”

BACA JUGA:  Better Call Hiddink!

Di sini paradoks itu muncul. Cerita masa lalu yang sedemikian hebat dan didramatisir sedemikian rupa membuat kita malas berkembang. Sialnya, sepak bola di dalam negeri seolah hanya jalan di tempat senantiasa sepanjang waktu.

Seperti tidak ada impian yang dirajut, tidak ada asa yang dikejar. Sepak bola disusupi politik, isu pengaturan skor mewabah, panggung permainan paling populer di kolong langit seketika berubah menjadi komedi yang tak lucu untuk ditonton.

Bagaimana mungkin, negara yang pernah berjaya sepak bolanya, bisa hancur lebur sepuluh gol tanpa balas melawan Bahrain?

Itulah kenapa pencabutan sanksi FIFA adalah angin segar. Kompetisi ala kadarnya diputar kembali untuk menambal kerinduan masyarakat akan tontonan sepak bola demi gairah kedaerahan dan nafsu menggebu menonton Atep atau Ahmad Bustomi berlarian menggiring bola dan berkompetisi secara berkala.

Maka wajar ketika timnas berlaga kontra Malaysia (menang 3-0) dan Vietnam (imbang 2-2) menjadi sesuatu yang jauh lebih membahagiakan dari semua perasaan bahagia lainnya yang pernah dirasakan penikmat sepak bola tanah air.

Ketika kita berharap Indonesia berprestasi lagi tanpa menyadari bahwa di dalam federasi sendiri kita tidak siap untuk bersaing dengan raksasa Asia, target kita harusnya disederhanakan saja seperti pemain dan publik San Marino, yaitu merayakan sebisa mungkin apa yang bisa dirayakan dari sepak bola.

Berteriak ketika Irfan Bachdim atau Zulham Zamrun mencetak gol, memaki sekencang-kencangnya ketika Yanto Basna membuat blunder, atau melempar sesuatu ke layar kaca tiap kali gawang Andritany Adhiyasa dibobol lawan. Contoh yang asyik, bukan?

Euforia itu, kebahagiaan itu, jauh lebih penting dari target muluk untuk juara. Dari San Marino, negara kecil di dekat Italia itu, sialnya, kita sekali lagi lupa, bahwa di sepak bola, kebahagiaan tak pernah padam selama bola masih bergulir dan sepak bola masih dimainkan tanpa henti sampai kiamat menjelang.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.