Buah Manis Hasil Ketelatenan Atalanta

Tidak semua tim fenomenal dibangun berdasarkan ekspektasi megah. Selalu ada tim fenomenal yang bertolak dari kesederhanaan. Namun, itu juga tidak dibentuk dalam semalam.

Di balik melejitnya sebuah tim, ada upaya fundamental yang dilakukan dengan kesabaran berlapis-lapis. Maka, jika pada suatu fase mereka sensasional, itu tak terlepas dari jerih payah segenap elemen klub.

Di Liga Italia, belakangan Atalanta menciptakan fenomena bagi pecinta sepakbola. Pada musim ini mereka semakin dekat dengan rekor 100 gol dalam semusim. Sekarang mereka bertahan di empat besar klasemen dan mencapai perempat final Liga Champions.

Pola permainan menyerang Atalanta juga menjadi perhatian khusus di tengah pandangan terhadap Italia yang mengusung doktrin sepakbola bertahan. Dihuni oleh pemain-pemain yang sebelumnya tak terdeteksi radar transfer klub-klub besar, Atalanta justru mampu bermain atraktif.

Nama-nama yang sebelumnya tak begitu disorot seperti Papu Gomez, Duvan Zapata, ataupun Josip Ilicic, malah menjadi poros permainan agresif dari Atalanta. Di sisi lain mereka juga diasuh oleh pelatih Gian Piero Gasperini yang tidak punya prestasi mentereng.

Hanya saja semua fakta itu tak membuat Atalanta kehilangan kepercayaan diri. Lebih dari itu, Atalanta kini menjelma Black Swan, sebuah istilah dari filsuf Karl Popper bagi anasir yang berhasil mendobrak kebekuan pikir khalayak.

Dan terbukti, Black Swan dari Bergamo tersebut sanggup menjebol orde lama Liga Italia yang biasa dihuni raksasa Italia seperti , ataupun duo Milan.

Di sisi lain, fenomena Atalanta belakangan ini juga dihasilkan dari pekerjaan di belakang meja. I Nerazurri memiliki desain pengelolaan klub yang memprioritaskan daya tahan di ekosistem sepakbola Italia.

Terlebih mereka tak terlalu bernafsu meraih trofi bergengsi. Tampaknya hal itu yang membuat Atalanta bisa melaju dengan ringan. Tak ada beban sosial atapun individual berlebih pada laju mereka.

Terkadang, memang beban sosial-individual itu berawal dari kultur sepakbola sebuah klub. Di  Atalanta kultur klub tidak terlalu mewajibkan mengejar trofi, sehingga dapat berfokus pada kerapian manajemen dan orientasi ke arah pengembangan mutu pemain.

BACA JUGA:  Cepat Berbenah, Persib Bandung!

Hasilnya juga sepadan, mereka diakui sebagai salah satu penghasil talenta sepakbola terbaik di Italia. Sebagai penghasil bakat sepak bola yang konsisten, tak sedikit nama besar pesepakbola Negeri Pizza pernah berseragam biru-hitam Atalanta.

Sebut saja Christian Vieri, Inzaghi bersaudara, hingga Roberto Donadoni. Untuk generasi terkini, ada nama-nama seperti Andrea Conti, Davide Zappacosta, dan Giacomo Bonaventura.

Tersemat label sebagai institusi pengembang pemain, klub itu menjadi rujukan transfer bagi tim-tim besar di Italia. Hasil dari transaksi pemain kemudian digunakan untuk menyeimbangkan neraca keuangannya.

Tak heran jika mereka sanggup memiliki stadion sendiri, yakni Stadion Atleti Azzruri D’Italia. Kepemilikan atas kandang mereka membuat Atalanta menjadi salah satu dari empat klub di Italia yang memiliki stadion sendiri.

Gasperini Merajut Tim dengan Ulet

Ketika para pemain Atalanta mengenakan seragamnya, tentu secara alamiah mereka akan membawa beban pribadi yang berbeda-beda. Untuk itu, klub membutuhkan jembatan yang menghubungan kultur klub ke dalam kesadaran para pemain.

Dalam hal ini, keberadaan Gianpiero Gasperini menjadi vital. Ia punya kewenangan untuk menerjemahkan kultur klub ke dalam bahasa permainan. Tujuannya adalah menyatukan visi pemain yang tadinya berbeda-beda menjadi satu di bawah impian klub.

Gasperini sendiri tidak datang ke Atalanta dengan modal spektakuler. Ia sejenis allenatore dengan kenaifan permainan yang tidak menghasilkan prestasi besar. Kenaifannya tersebut diwujudkan dalam sebuah permainan agresif dan disusun dalam formasi 3-4-3.

Meski begitu, pada beberapa kesempatan, kenaifannya menghasilkan kejutan, seperti kala menukangi Genoa satu dekade sebelumnya. Fakta lain, seperti Gasperini yang hanya lima laga menangani Inter Milan juga tak mengurungkan penunjukkannya sebagai juru taktik Atalanta.

Manajemen sadar, sebagai klub yang tidak bergelimang trofi, mereka lebih membutuhkan pelatih yang dapat membuat pemain berkembang ketimbang menonjolkan ambisi yang menggebu-gebu. Gasperini dianggap dapat menyuntikkan visi tersebut kepada pemain.

BACA JUGA:  Sengitnya Persaingan Memperebutkan Titel Ligue 1

Visi yang kemudian digunakan untuk membangkitkan daya juang, semangat, dan motivasi bermbagi para pemainain. Faktor-faktor tersebut lalu diperuntukkan sebagai dasar pengejawantahan ide Gasperini di atas rumput hijau.

Permainan menyerang berpondasi tiga bek bukanlah pakem yang mudah dijalankan. Oleh karena itu, dibutuhkan keuletan para pemain dalam latihan untuk dapat menjalankannya dengan baik. Di sisi lain, justru itulah yang menempa mental dan kecerdasan para penggawa dalam bermain.

Di setiap pertandingan, ia juga terlihat tak sering mengubah polanya secara signifikan. Bisa dikatakan, para pemain Atalanta menjalankan taktik Gasperini dengan intensitas dan konsistensi tingkat tinggi. Jelas saja situasi itu menumbuhkan kesepahaman antarpemain.

Terbayang bagaimana Gasperini bersama para pemainnya mencapai titik saat ini. Singkat kata, pealtih asal Italia itu sukses membuat para pemainnya memahami bahasa taktikalnya. Tak pelak, permainan yang ditampilkan juga menjadi padu dan terlihat pula betapa cerdasnya guliran bola mereka.

Pemahaman taktikal antara Gasperini dan anak asuhnya, ditambah dengan kesatuan pandangan terhadap nilai-nilai klub membuat situasi Atalanta kurang lebih sama seperti yang diungkapkan Mihaly Czikszentmihaly dalam buku yang berjudul Flow.

Mihaly menjabarkan ide tentang suatu titik keterlibatan yang disebut mengalir atau flow. Kondisi itu merupakan akibat repetisi aktivitas yang pada akhirnya meniadakan beban pada suatu subjek. Pada narasi Atalanta, subjek itu adalah para penggawa yang pada akhirnya menikmati permainannya.

Kesanggupan untuk mengubah beban di pundak para pemain menjadi suatu kenikmatan menjadi buah kesuksesan metode kepelatihan Gasperini. Metode yang harus disadari ia lakukan tidak hanya dalam semalam.

Pada akhirnya, jika melihat gambaran yang lebih besar, fenomena Atalanta saat ini merupakan ramuan dari kultur klub, manajemen yang sistematis, dan juga metode kepelatihan yang tepat. Semua dilewati tahap demi tahap dan dilakukan tanpa ekspektasi berlebihan.

Komentar
Jurnalis sekaligus penggemar Serie A yang tinggal di Solo. Dapat disapa dan diajak berdiskusi via akun Twitter @taufiknandito