Cerita Kejutan di Lapangan Hijau yang Disetop Corona

Sudah nyaris dua setengah bulan fans sepakbola tak lagi menyaksikan penampilan pemain atau klub kesayangannya di atas lapangan hijau akibat pandemi Corona yang begitu masif. Situasi ini membuat banyak federasi sepakbola di suatu negara menghentikan kompetisinya agar tak menimbulkan kerumunan manusia dalam jumlah besar di stadion karena Corona begitu mudah menular. Apalagi sampai hari ini, belum ditemukan vaksin untuk membasmi virus yang menyerang sistem respirasi tersebut.

Terasa makin tak enak sebab kompetisi disetop saat mendekati fase kritis. Tidak hanya persaingan klub-klub elite dalam merebut supremasi tertinggi kompetisi domestik dan kontinental saja yang sebetulnya menarik atensi, tapi juga pelbagai cerita kejutan yang dihadirkan beberapa klub bukan unggulan.

Kejutan di Kompetisi Domestik

Sheffield United sudah cukup lama tidak berkiprah di Liga Primer Inggris. Terakhir kali mereka berpeluh keringat di sana adalah musim 2006/2007 untuk kemudian terdegradasi di akhir musim. Kembali ke kasta teratas di musim 2019/2020 dengan status runner up divisi Championship musim sebelumnya, Dean Henderson dan kawan-kawan diprediksi hanya sebagai penggembira yang lagi-lagi bakal terdegradasi di pengujung musim.

Akan tetapi, The Blades justru menampilkan sesuatu yang tak terduga dengan bercokol di papan atas klasemen sementara. Hingga pekan ke-29, tim besutan Chris Wilder nangkring di posisi tujuh berbekal 43 poin dan menyimpan satu laga lebih banyak dari tim lain di atasnya.

Di sepanjang musim ini pun Sheffield mampu menahan imbang tim-tim mapan sekelas Arsenal, Chelsea, dan Manchester United. Jarak lima poin yang memisahkan Sheffield dengan The Blues di posisi empat (mengoleksi 48 poin) sejatinya membuka peluang Henderson dan kolega untuk lolos ke Liga Champions musim depan.

Bergeser ke semenanjung Iberia, tepatnya di Spanyol, Getafe adalah kesebelasan yang sanggup mengusik kemapanan tim-tim elite La Liga. Klub kecil dari pinggiran kota Madrid ini membuat kejutan dengan duduk di posisi lima klasemen sementara via raihan 46 poin dari 27 jornada yang telah dilalui. Nilai yang sudah mereka kumpulkan bahkan sama dengan milik Real Sociedad yang hinggap di peringkat empat (batas akhir ke Liga Champions).

BACA JUGA:  Museum Kecil untuk Alisson

Tanpa diperkuat pemain bintang, anak asuh Jose Bordalas membuktikan diri bahwa mereka punya kapabilitas untuk bersaing dengan tim-tim sekelas Atletico Madrid, Barcelona, Real Madrid, dan Sevilla guna memperebutkan tiket lolos ke kejuaraan antarklub Eropa, termasuk Liga Champions.

Jaime Mata beserta rekan-rekannya seolah ingin menunjukkan kepada khalayak bahwa capaian apik mereka di musim 2018/2019 (finis di peringkat lima klasemen akhir La Liga) bukan kejutan semusim belaka. Apalagi di ajang Liga Europa musim ini, Getafe juga telah menjejakkan kaki di babak 16 besar guna bersua wakil Italia, Inter Milan.

Kejutan terbesar di lima liga top Eropa terjadi di Italia. Lazio, yang sebenarnya bukan klub gurem, bangkit dari tidur panjangnya untuk mengklaim posisi dua classifica Serie A bermodal 62 angka dari 26 giornata, berselisih sebiji poin dari sang pemuncak, Juventus.

Dilatih oleh bekas penggawanya, Simone Inzaghi, Gli Aquilotti mencatat rekor tak terkalahkan dalam 21 pertandingan sebelum kompetisi dihentikan. Musim ini, Lazio bahkan sudah dua kali menumbangkan unggulan utama sekaligus sang perengkuh Scudetto delapan musim terakhir, Juventus. Masing-masing di Serie A dan Piala Super Italia, dengan skor identik yang meyakinkan, 3-1.

Kesolidan dan fleksibilitas permainan yang diterapkan Inzaghi via skema 3-5-2 mengantar Luis Alberto duduk sebagai pengukir asis terbanyak di Serie A dengan 11 buah asis. Pun dengan Ciro Immobile yang bertengger sebagai capocannoniere lewat torehan 27 gol. Immobile bahkan masih memuncaki daftar pencetak gol terbanyak di liga-liga Eropa mengungguli striker Polandia kepunyaan Bayern Muenchen, Robert Lewandowski (25 gol).

Dengan jarak hanya satu poin dari I Bianconeri dan mulai tercecernya Inter di peringkat ketiga, Lazio melesat sebagai kandidat kampiun Serie A musim ini.

Bagi Laziale dan penggemar Serie A pada umumnya, tentu akan menarik melihat kedigdayaan Juventus selama satu windu terakhir patah di tangan Lazio yang terakhir kali merebut Scudetto tepat dua dekade silam. Uniknya, saat itu Gli Aquilotti mengangkangi Juventus di pekan pamungkas dengan keunggulan satu poin.

Kejutan di Kompetisi Regional

Tidak hanya dari liga domestik, kejuaraan antarklub Eropa musim ini, terutama dari panggung Liga Champions, juga dihiasi kisah-kisah kejutan yang bikin hati penggemar sepakbola mekar. Pasalnya, ajang yang satu ini teramat beken jarang memunculkan kejutan berarti.

BACA JUGA:  Catatan Hitam Rasisme dalam Sepakbola

Namun tren itu diputus secara brilian oleh kesebelasan Jerman tanpa tradisi Eropa, RasenBall Sport (RB) Leipzig. Tim yang dipunyai perusahaan minuman berenergi, Red Bull, ini menghentak usai menjadi jawara Grup G di babak penyisihan, mengungguli nama-nama seperti Lyon, Benfica, dan Zenit St. Petersburg.

Tak ingin berhenti sampai di situ, klub arahan Julian Nagelsmann juga menarik perhatian seraya menghadirkan kejutan setelah memukul telak finalis Liga Champions 2018/2019, Tottenham Hotspur, di babak 16 besar dengan agregat akhir 4-0. Hasil itu membawa Timo Werner dan kolega melaju ke perempatfinal dan berpeluang jumpa tim-tim elite Eropa lainnya.

Setali tiga uang, klub asal Italia, Atalanta, juga membuat publik berdecak kagum dengan kiprah mereka di Liga Champions. Menjalani debutnya di level tertinggi ajang antarklub di Benua Biru, La Dea sukses menembus babak perempatfinal.

Hal itu didapat tim asuhan Gian Piero Gasperini setelah finis sebagai runner up Grup C pada babak penyisihan serta menghempaskan klub asal Spanyol, Valencia, di fase 16 besar. Dalam dua perjumpaan (kandang dan tandang), Alejandro ‘Papu’ Gomez selalu memetik kemenangan atas El Che sehingga unggul agregat 8-4.

Penampilan sensasional Atalanta ini pun berakhir dengan apresiasi setinggi langit dan penasbih status bahwa mereka adalah tim yang berbahaya dan tak segemulai julukannya.

Beberapa kejutan-kejutan tersebut mungkin saja mencapai klimaksnya jika Corona tidak bikin perkara sehingga menghentikan kompetisi di tengah jalan. Walau demikian, serindu apapun kita dengan sepak bola, pada akhirnya kemanusiaan tetap di atas segalanya.

“Tidak ada pertandingan sepakbola yang harganya melebihi nyawa manusia,” begitu kalimat yang pernah diucapkan oleh legenda sepakbola Indonesia, Bambang Pamungkas.

Sangat mudah kita pahami bahwa penghentian kompetisi adalah cara untuk menjaga keselamatan semua pihak, mulai dari pemain, pelatih, wasit hingga penonton agar tak mudah terpapar Corona. Doa dan harapan kita adalah pandemi ini segera usai sehingga sendi-sendi kehidupan, termasuk di ranah sepakbola, kembali berjalan normal.

Komentar
Penulis merupakan alumni Magister PPKn Universitas Negeri Padang dan pencinta Chelsea FC. Bisa dihubungi di instagram @hendra_fm dan twitter di @hendrafm7.