Cerita tentang Matt Hummels dan Impian Itu

Adalah Bayern Munchen, klub yang sudah sejak dahulu aku dambakan. Aku sangat ingin bermain di klub tersebut.

Begitu banyak alasan kenapa aku mendambakan untuk bermain di sana. Mulai dari meriahnya dukungan suporter, rumput stadion yang begitu nikmat untuk diinjak, stadion yang megah, hingga tentu saja bermain bersama para pemain bintang di klub itu.

Karena impianku, pada usia 6 tahun, aku masuk ke akademi Bayern yang terkenal dengan nama Sabener Strasse. Ada begitu banyak pemain hebat yang lahir di tempat itu. Harapannya, ya tentu saja agar aku bisa menjadi pemain hebat juga.

Selama di Sabener Strasse, aku berlatih sangat keras. Mungkin lebih keras daripada pemain akademi lain. Hingga pada 2006, kerja kerasku mulai menuai hasil. Aku masuk ke tim cadangan Bayern.

Dua tahun kemudian, impianku untuk bermain di Bayern akan segera tercapai. Tanda-tanda aku akan menjadi bintang mulai tampak. Aku dipromosikan ke tim utama.

“Pemain itu memiliki prospek cerah. Saya akan membawanya ke tim utama,” ujar Jurgen Klinsmann, pelatih Bayern saat itu.

Sejak saat itu, aku semakin bersemangat. Intensitas latihan aku tingkatkan. Aku berlatih lebih banyak dibandingkan dengan biasanya.

Pada 2008, saat aku sedang berlari di pinggir lapangan, Klinsmann memanggilku. Entah mengapa, tubuhku bergetar. Aku berlari kecil menghampiri dia. Semakin dekat, aku semakin penasaran.

“Klub akan melegomu ke Dortmund,” ujarnya.

Kemudian aku berjalan meninggalkan Klinsmann. Langkahku menjadi lebih pelan dari sebelumnya. Aku akan dilego ke Borussia Dortmund yang saat itu akrab di papan tengah Bundesliga. Semangatku sempat hilang. Segalanya seperti tak sesuai harapanku.

“Ini kami lakukan demi kariermu,” ujar Klinsmann sebelum aku meninggalkannya.

Aku sangat kesal dengan keadaan ini. Aku marah. Impianku sirna.

Awalnya, aku hanya bermain di Dortmund sebagai pinjaman. Namun, seiring dengan performa impresifku di lapangan, Dortmund mempermanenkanku, tepatnya pada 2009.

Waktu semakin berlalu dan aku sudah mulai nyaman berseragam kuning hitam milik Dortmund. Banyak hal yang membuatku semakin nyaman. Salah satunya adalah suporter Dortmund yang fanatik itu. Kejadian tahun lalu sudah kulupakan. Aku menatap masa depan cerah di klub ini.

BACA JUGA:  Jam di Hamburg yang Menunjukkan Ironi

Hingga kemudian pada musim 2010/2011, aku bersama Dortmund menjadi juara Bundesliga. Aku sangat bahagia. Aku yakin, Bayern menyesal telah menjualku ke tim ini.

Musim selanjutnya, Dortmund kembali berhasil aku bawa menjadi juara Bundesliga. Sementara Bayern, hanya menjadi runner-up. Kemudian aku menelpon Jurgen Klinsmann yang saat itu tidak lagi melatih Bayern.

“Halo, bos. Kau lihat aku sekarang?”

Pada 2012/2013, aku merasa berada di puncak performa. Meskipun gagal mempertahankan gelar Bundesliga, tim yang kubela berhasil melaju ke final Liga Champions.

Tim yang aku bersama Dortmund kalahkan di semifinal adalah tim bertabur bintang, Real Madrid. Karena itu, aku optimis bisa mengalahkan lawan kami di final, yakni tim yang pernah menjadi impianku, Bayern Munchen.

Sebelum laga ini dimulai, rekan setimku Mario Gotze, akan hijrah ke Bayern.

Aku tidak habis pikir dengan keputusan Goetze dan aku telah mengatakan kepadanya hal itu. Seluruh publik Dortmund telah terkejut. Semua orang dapat melihat tim ini menjadi kuat, saya hanya tidak percaya bahwa ada alasan untuk meninggalkan Dortmund.

Laga final yang ditunggu itu dimulai. Dihelat di Stadion Wembley, laga berlangsung panas. Tim yang aku bela berhasil menciptakan berbagai peluang. Begitu juga dengan Bayern. Namun, babak pertama berakhir tanpa menghasilkan satu gol pun.

Pada awal babak kedua, Bayern mencetak gol melalui Mario Mandzukic. Aku sedikit gusar.

Dortmund lalu meningkatkan intensitas penyerangan. Hingga akhirnya berhasil menyamakan skor lewat penalti Ilkay Gundogan. Laga seolah-olah akan menuju ke perpanjangan waktu.

Namun sial, Bayern berhasil mencetak gol kembali lewat Arjen Robben. Laga berakhir. Dortmund pun kalah. Sementara Bayern meraih tiga gelar musim itu.

Semenjak meraih tiga gelar di musim 2012/2013, Bayern seperti tak terbendung di Bundesliga. Mereka meraih dua gelar Bundesliga di dua musim selanjutnya. Mereka benar-benar menjadi tak terbendung.

Sementara tim yang aku bela semakin terpuruk, terutama pada musim 2014/2015. Dortmund bahkan sempat berada di zona degradasi. Salah satu penyebab keterpurukan ini mungkin karena hengkangnya Robert Lewandowski ke Bayern musim itu.

BACA JUGA:  Sepak Bola yang Ramah pada Pengungsi

Sebelum memasuki musim 2015/2016, banyak spekulasi transfer beredar. Aku pun tak luput dari spekulasi. Banyak media yang memberitakan bahwa aku akan hengkang ke klub lain seperti Barcelona, Real Madrid, dan Manchester United. Tawaran memang banyak datang, namun aku tak menggubris. Aku masih betah di Dortmund.

Ketika musim 2015/2016 berjalan, persaingan Dortmund dengan Bayern kembali sengit. Kedua tim sama-sama mencetak banyak gol. Namun, di akhir musim Bayern kembali menjadi juara.

Menjelang kompetisi 2015/2016 berakhir, ada sesuatu yang menggangguku. Ada sesuatu yang seolah-olah kembali merasuki pikiran. Sesuatu itu adalah impian lamaku. Impian untuk menjadi bintang di Sabener Strasse.

Aku pun mendatangi petinggi Dortmund untuk mengatakan ini, “Aku sudah menentukan masa depan, dan aku tidak akan membicarakan hal itu sekarang. Setiap malam sebelum tidur, aku selalu memikirkan tentang hal itu. Tapi, sekarang aku sudah tahu ke mana aku akan melanjutkan langkah.”

Kemudian, pada 10 Mei 2016, aku resmi kembali ke Bayern Munchen, klub impian masa kecilku. Perasaanku campur aduk. Aku senang kembali ke Bayern. Di sisi lain, aku sedih harus meninggalkan tim yang sudah membesarkan namaku.

Tidak mudah mengambil keputusan setelah 8,5 tahun bersama Dortmund. Aku selalu bangga dan masih bangga untuk mengenakan jersey kuning hitam serta menjadi bagian dari tim yang luar biasa ini.

Sebelum aku kembali ke Bayern musim panas nanti, aku mempunyai banyak keinginan, salah satunya meraih trofi DFB Pokal untuk Dortmund sehingga bisa menciptakan pesta besar untuk fans.

Untuk itu, aku akan tampil habis-habisan. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan satu tim, semua staf, dan fans setelah periode panjang dan menyenangkan ini.

Catatan: Ini merupakan kisah nyata dengan sedikit penyesuaian fiksi. Mats Hummels, yang musim depan akan hijrah ke Bayern menjadi pemeran utama.

 

Komentar
Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad, bisa dihubungi melalui akun Twitter @sptwn_